Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Merah Pedas oleh Wicak Hidayat

Posted on Ming, 04 Nov 2018

Di atas batu, merah terguling. Potongan-potongan cabai dengan kulitnya yang keriput. Satu demi satu terjatuh dalam gerak lambat, memantul pada permukaan yang kasar. Lalu butiran garam yang putih. Beberapa irisan gula merah, serpihan cokelat kehitaman. Lalu tumbukan pertama yang perlahan menghancurkan semuanya, dari bentuknya yang utuh dan terpisah-pisah menjadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Merah. Pedas.

Semua dimulai, kata Ibu, dari hatimu. Untuk apa kamu mau membuat sambal ini? Siapa yang bakal memakannya? Apa yang kamu inginkan mereka rasakan di saat-saat lidah mereka menyentuh campuran bahan-bahan ini? Merah. Pedas.

Lisa kecil menikmati momen-momen ini. Melihat tangan lentik ibunya menari di atas bahan-bahan. Jari-jari itu seakan punya jiwanya sendiri, memilih di antara batang-batang cabai yang tampak agak keriput dan menentukan mana yang akan diambil. Ibu selalu memetik cabai dengan tangannya sendiri, mematahkan tubuh merah itu ke atas cobek batu kasar, satu demi satu. Begitu pun garam, ia menjumputnya lalu memilin di antara ujung-ujung jari sambil membiarkan butiran-butiran itu mengalir. Saat semuanya sudah menjadi satu kesatuan, jari-jari Ibu juga yang menggores tepinya, dan menyelinap antara kedua bibir. Merah. Pedas.

”Ibu,” kata Lisa kecil. ”Kenapa Ibu selalu bikin sambel kalau Ayah pulang?” Ibunya, dengan beberapa bulir keringat yang mulai timbul di dahi, helai-helai rambut menggayut kusut, menatap Lisa dengan pandangan yang lembut. Tersenyum. Lalu berkata: ”Ayah suka sama Ibu gara-gara sambal. Ibu mau Ayahmu enggak pernah lupa itu. Supaya Ayah kangen terus. Supaya Ayah jatuh cinta terus sama si Merah Pedas.”

Gun menahan lidahnya. Ia tidak mau berkata-kata buruk sepagi ini. Kucing belum juga selesai mandi, masak ia sudah harus bertengkar lagi? Tapi memang ia kadang tidak kuat juga, melihat istrinya yang masih asyik meringkuk di balik selimut. Ya, istrinya itu bukan sosok ideal. Layla yang gempal, berkulit gelap. Jauh dari bayangan wanita sempurna yang ia susun dalam kepalanya saat remaja dulu. Wanita yang langsing, berambut panjang. Senang tersenyum dan tertawa. Wanita yang lihai dengan ulekan dan cobek. Sambalnya mendebarkan dada, memacu jantung. Membangkitkan gairah huh-hah huh-hah, membuatnya ingin bikin anak berlusin-lusin. Sedangkan Layla? Sambalnya melempem, tak menantang, luput dari sensasi yang menggetarkan lidah, apalagi jantung, apalagi bikin gairah!

Tapi, apa pantasnya ia mengeluhkan Layla? Dirinya juga bukan laki-laki tangguh pekerja keras seperti yang diimpikannya dulu. Gun bukan laki-laki tegap, perkasa nan penyayang. Ia bukan laki-laki yang berangkat kerja pagi buta, di hari Minggu pergi jalan kaki, atau memancing, atau ke bengkel. Tubuhnya gempal, dengan lemak bertumpuk di sudut-sudut yang tidak atraktif. Kumisnya tidak tumbuh, rambutnya menipis dan rontok. Hanya rokok kretek di saku yang senantiasa mengingatkannya pada impiannya yang tak terwujud.

Mungkin, pikir Gun, karena sosok pria ideal itu tidak terwujud, wajar saja sang wanita idaman tidak bisa ia dapatkan. Gun menahan lidahnya. Dari pada sibuk menahan marah, lebih baik ia pergi saja. Warung nasi ujung gang harusnya sudah buka, dan sepagi ini sambalnya pasti masih segar.

Gun sampai di pabrik pada waktu yang ditentukan. Tugasnya sebagai sopir cadangan sudah jelas: antar atau jemput atau keduanya. Tapi tugas utama yang membuatnya jadi favorit Pak Sapto bukan itu. Tidak seperti sopir lainnya, Gun selalu menemukan cara untuk membuat tamunya senang dan kalau tamunya senang, Bos-nya juga senang.

Kali ini tamunya cukup penting. Seorang auditor yang habis memeriksa salah satu pabrik milik Bos. Misi Gun pun jelas: ia harus mengungkap apa titik lemahnya, apa keinginan terdalamnya yang bisa dipenuhi oleh Gun. Kalau sudah ketemu selahnya, Gun bisa beraksi dan menyimpan tamu itu dalam daftar rekan bisnis spesial Pak Sapto.

”Langsung Pak?” tanya Gun pada penumpangnya. Pria itu tidak langsung menjawab, malah melihat ke luar jendela, seperti mencari-cari sesuatu.

”Atau, mungkin mau keliling dulu? Lihat-lihat daerah sini sebelum pulang?” Gun mencoba memancing.

”Anu. Pak Gun. Boleh kita cari tempat makan dulu?”

Herman meminta Gun mengantarnya ke sebuah warung sunda. Pemiliknya seorang bapak tua yang biasa dipanggil Aki oleh teman-teman di pabrik. Lokasinya tak terlalu jauh dari pabrik. Rupanya Herman, yang di luar jam kerja kerap mengisi pengajian untuk warga kampung sekitar pabrik, juga kerap mampir ke warung itu. Wajar saja, lokasinya tepat di seberang langgar tempatnya mengajar ngaji.

Salah satu yang melayani di warung itu anak Aki yang paling muda, gadis dengan nama Sunda, Pipin atau Titin. Tapi satu hal yang melekat pada Gun adalah sambal bajaknya. Paduan tomat, minyak dan cabai dalam sambal itu merasuk pada apa pun yang dilahap. Nasi dan ikan asin pun jadi nikmat luar biasa. Sambal itu lengket dan pekat. Di dalam mulut ia menggeliat bersama nasi dan lauk, melumuri lidah dengan panas sedang dan sensasi gurih. Aromanya kuat, menempel di jari-jari berjam-jam sesudahnya. Rupanya, sambal itu nempel juga di benak Pak Herman ini.

”Mas Gun, Pak Herman itu sudah punya istri?” kata Aki sambil mengepulkan rokok jagung. Mereka berbincang di luar warung, sambil menunggu Herman makan.

”Sudah Pak,” kata Gun tersenyum ramah.

”Berapa?” Aki lanjut bertanya, sambil nyengir kuda memamerkan gigi-gigi yang sudah menguning dan tidak utuh.

”Satu Pak,” ujar Gun. Ada-ada saja pertanyaan Si Aki ini.

”Oh, baru satu. He-he-he,” ujar Aki sambil tersenyum senang.

***

Malam itu, Gun bukan hanya mengantar pulang, tapi ia ikut makan malam bersama keluarga Herman. Gun menikmati betul malam itu. Selama beberapa menit, Gun menjadi bagian dari sebuah keluarga bahagia. Keluarga pria ideal dan wanita idaman yang selalu ada di bayangannya sejak remaja itu. Istri Herman wanita paruh baya, seumuran dengan Herman namun masih tampak kecantikannya. Anaknya, seorang gadis kecil gempal bernama Lisa, lucu sekali dengan rambut dikepang dua. Melihat Lisa, Gun tiba-tiba merasakan kerinduan karena bersama Layla Gun tak pernah bisa punya anak.

Mereka hanya makan nasi putih, tempe goreng, lalapan dan sambal limo. Tapi, sambal limo itu sungguh luar biasa. Sambal merah pedas yang menyentak hati Gun. Seketika sambal itu menyentuh lidahnya, ia merasakan derasnya darah dalam tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang. Napasnya memburu. Matanya membelalak dan pandangannya sesaat terang, sebelum kabur oleh air mata. Bulir demi bulir keringat terbentuk di dahinya. Tangannya tak bisa berhenti menyuap. Sambal itu menyentak dalam ruang lahapnya, seperti setrum pada syaraf-syarafnya. Ia terbakar dan ia baik-baik saja. Ia ingin menyerah sekaligus ingin berjuang di saat yang sama. Dan ia tak mau berhenti, ia mau lagi!

Selesai makan, ia duduk di beranda, termenung. Bahkan ia tidak menyalakan rokok. Ia merasakan kepuasan yang tak bisa dijelaskan. Ia terbayang istri Herman. Rambutnya yang kusut menjuntai. Jemarinya pasti sungguh lihai memainkan ulekan di atas cobek. Ia membayangkan jari-jari itu menggenggam dan mengeras saat menggerus bahan-bahan sambal. Gun tiba-tiba tidak ingin pulang malam ini.

Selama beberapa hari sesudahnya, Gun gelisah tidak karuan. Selesai makan ia selalu tidak puas. Rokok tidak bisa menghajar kekosongan itu. Pulang ke rumah untuk berhubungan dengan Layla pun tidak membuatnya terpuaskan. Ada yang hilang. Ada yang hampa. Dan kalau ia biarkan pikirannya berkelana, semuanya kembali ke malam itu.

Celakanya, hal ini mengganggu pekerjaan Gun. Akibat lalainya, salah satu rekan bisnis spesial Pak Sapto ngambek dan tidak mau menceritakan informasi yang diharapkan. Saking kesalnya, Bos-nya itu sampai meminta Gun cuti. Gun tersentak, ini ancaman besar. Kalau Si Bos sudah tidak percaya lagi pada dia, apa yang bisa dikerjakan?

”Mas Gun, boleh minta tolong?” kata Herman, memecah lamunan Gun di parkiran.

”Oh, Pak Herman? Kapan datang? Ada audit lagi?”

”Oh, bukan Mas. Ini saya, anu, kunjungan pribadi saja,” ujarnya gelisah.

”Ada yang bisa dibantu Pak?”

”Anu. Boleh antarkan saya ke warung biasa?”

Kesempatan emas, pikir Gun, ini saatnya membuktikan pada Pak Sapto bahwa ia masih bisa bertugas. Gun pun mengantarkan Herman ke warung yang dituju, sambil diam-diam berharap bisa mengantarkan Herman pulang dan diajak makan malam lagi.

Rupanya, tujuan mereka bukan warung itu, melainkan langgar di seberangnya. Di situ sudah menunggu Aki, beberapa penduduk kampung dan tentunya gadis itu, dalam kebaya putih dan tudung ronce melati. Setelah akad nikah selesai, Gun izin pulang. Tak lupa ia menghubungi Pak Sapto dan dengan bangga menyatakan Herman masuk daftar rekanan bisnis spesial.

Tapi kegelisahan itu masih menggelayut. Maka ia memacu kendaraan ke rumah Herman. Parkir di depan rumah itu dan menunggu, mengumpulkan keberanian dan tekadnya. Gun berniat untuk nekat menghampiri istri Herman. Ia harus mendapatkan si Merah Pedas itu. Harus! Tidak boleh gagal!

Wicak Hidayat : memiliki nama lengkap Wicaksono Surya Hidayat. Ia terjun di dunia jurnalistik sejak tahun 2003, kemudian melahirkan buku pertamanya tahun 2005. Selain di dunia tulis-menulis ia juga aktif di industri boardgame Indonesia. Karyanya terangkum dalam Lok Tong (kumpulan cerpen sayembara menulis Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, Creative Writing Institute, 2006) dan Antologi Bunga Matahari (antologi puisi, Avatar Press, 2005). Wicak salah satu peserta Kelas Cerpen Kompas 2018.

Samuel Indratma : lahir di Gombong, Jawa Tengah, 25 Desember 1970. Alumnus ISI Yogyakarta ini kini aktif berkarya dan tinggal di Yogyakarta. Belum lama ini secara berturut-turut pameran tunggal bertajuk ”Los Stang”, ”Nyoh”, dan ”Maju Jaya”. Samuel dikenal sebagai penggerak aktivitas seni mural di kotanya.

sumber : harian Kompas edisi 04 November 2018 di halaman 22 dengan judul “Merah Pedas”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme