Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dilarang Menabur Bunga di Makam oleh Nur Sholikhah

Posted on Sab, 30 Jan 2021

Makam ini kian hari kian tampak menyeramkan saja. Daun-daun kering berserakan, rumput-rumput meranggas, tulisan-tulisan di batu nisan terkelupas. Suasana seram semakin terasa saat malam datang menjelang, lampu-lampu yang dulu berpendar di beberapa titik kini sengaja dimatikan. Gelap menyelimuti makam-makam itu setiap malam.

Orang-orang tidak lagi pergi ke makam, tidak lagi mencabut rerumputan dan menabur bunga-bunga yang dicampur daun pandan. Mereka seolah mulai lupa untuk mendoakan para leluhur dan keluarga yang lebih dulu terbaring tak bernyawa. Hanya bapak yang masih rutin pergi ke makam untuk menjenguk ibu, menabur bunga dan membaca doa. Dua tahun yang lalu, orang-orang masih melakukan hal yang sama dengan bapak. Setiap hari Kamis, mereka berbondong-bondong pergi ke makam, melewati jalan setapak yang kini rimbun tertutup ilalang. Namun, sejak meninggalnya Pak Sarmin, sesepuh di desa ini, tradisi itu perlahan-lahan ditinggalkan. Ditambah lagi saat anak Pak Sarmin yang pernah menuntut ilmu agama di kota mengisi pengajian di masjid. Ia melarang orang-orang pergi ke makam lantaran dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Katanya nyekar itu bid’ah. Sehingga orang-orang merasa bahwa apa yang dilakukan selama ini telah memupuk dosa

”Gendhis, kamu kok masih mau sih diajak bapakmu ke makam? Kan, kamu sudah tahu kalau itu dilarang,” kata seorang tetangga yang melihatku berjalan menyusul bapak ke makam.

Aku hanya terdiam, lalu kembali meneruskan perjalanan dengan rasa kesal. Aku sendiri tak akan mau pergi ke makam jika bapak tak mengajakku. Para tetangga dengan matanya yang sinis menatap langkah kami sepanjang jalan. Dan aku benci itu. Satu hal lagi, terkadang mereka malah bertanya padaku tentang agama bapakku. Ah, jelas-jelas bapakku masih rutin sholat lima waktu.

Hari Kamis Kliwon, Bapak mengajakku kembali pergi ke makam. Bunga-bunga sudah ia siapkan, buku doa sudah ada di tangan. Bapak menghampiriku yang sedang membaca buku di kamar.

”Nduk, ayo ke makam Ibu!”

”Nggak mau, Pak. Capek dipelototin tetangga terus.”

”Kan cuman dipelototin.”

”Iya, Pak. Tapi aku nggak suka tatapan mereka. Lagian kenapa sih Bapak masih mau pergi ke makam? Orang-orang kan sudah lama meninggalkan kebiasaan itu?”

”Nduk, kita pergi ke makam itu untuk mendoakan Ibu dan membersihkan makamnya. Tidak ada yang salah dengan apa yang kita lakukan.”

”Tapi mereka bilang itu dilarang, Pak!”

”Mereka tahu dari mana kalau itu dilarang, Nduk?”

”Dari anaknya Pak Sarmin yang sekarang jadi ustadz itu.”

Bapak tak menjawab apa pun saat kulontarkan kalimat itu. Ia tampak kecewa lalu berjalan keluar kamar dengan membawa sebungkus bunga yang masih ada di tangan. Aku senang karena tidak jadi pergi ke makam.

Malam harinya, saat adzan Isya berkumandang dari masjid dekat rumah, aku dan bapak melangkahkan kaki menuju pintu masjid yang bercat putih itu. Aku masih ingat dulu masjid ini berwarna hijau cerah dengan bedug yang berdiri gagah di dekat jendela. Namun, lagi-lagi kata bid’ah membuat bedug itu harus diungsikan di gudang milik salah satu warga.

Aku merasa banyak sekali perubahan yang terjadi di masjid ini sejak ketakmiran masjid dipegang oleh anak Pak Sarmin. Seperti malam ini, tak ada lagi doa bersama untuk mendoakan para leluhur dan keluarga yang sudah meninggal dunia. Biasanya orang-orang membaca surat Yasin dan doa Tahlil bersama-sama dipimpin oleh Pak Sarmin, terkadang bapak juga. Kini tradisi itu diganti dengan ceramah agama dan anak Pak Sarmin menjadi pengkhotbahnya.

Ustadz Ahmad namanya. Ia memakai sorban putih yang dililitkan di kepala, tidak bersarung, melainkan bergamis putih, dan berjenggot panjang. Penampilan itu sungguh asing bagiku, karena aku terbiasa melihat bapak memakai sarung kotak-kotak, berpeci hitam terkadang putih, dan berbaju koko saat sholat. Orang-orang mulai meniru gaya berpakaian Ustadz Ahmad. Tak lagi membeli sarung di pasar, berganti dengan membeli gamis panjang dan lebar.

Ustadz Ahmad mulai membuka ceramah dengan membaca dalil-dalil yang tidak aku mengerti artinya. Orang-orang tampak khusyuk mendengarkan, memperhatikan setiap gerakan bibir dan tangan Ustadz Ahmad. Padahal aku tahu mereka juga tak paham dengan apa yang diucapkan Ustadz. Orang-orang kampung ini tidak ada yang pernah belajar bahasa Arab, membaca Alquran pun mungkin mereka belum fasih. Ah, membosankan sekali. Aku jadi rindu dengan ceramah Pak Sarmin yang masih memakai bahasa Jawa yang diselipi dengan guyonan renyah.

Setelah membaca dalil-dalil, Ustadz Ahmad menjelaskan tentang bid’ah. Ia menyebutkan satu per satu contoh kegiatan yang dilarang oleh agama Islam. Dan tibalah saat ia menyinggung tentang tradisi nyekar.

”Saudara-saudaraku seagama, nyekar itu termasuk bid’ah. Apalagi dengan membawa bunga-bunga. Untuk apa? Rosulullah tidak pernah mengajarkannya. Itu jelas-jelas dilarang oleh agama. Orang-orang yang masih melakukannya berarti kafir dan haram masuk surga!” ucap Ustadz Ahmad dengan suara lantangnya.

Orang-orang menoleh padaku dan mulai menatapku dengan pandangan yang tak ramah. Aku risih, benar-benar risih. Kata-kata bid’ah, kafir, dan neraka diulang berkali-kali dengan suara yang lantang. Hatiku pilu bukan main, ini semua gara-gara bapak yang masih sering mengajakku ke makam. Orang-orang menyudutkanku saat itu, dan akhirnya kuputuskan untuk keluar dari masjid dengan mata basahku.

Saat keluar dari masjid, bapak sudah berdiri menunggu. Ia menggandeng tanganku lalu beranjak pergi meninggalkan masjid yang mulai aneh ini. Wajah bapak tampak merah padam menahan gelombang, sedangkan di mataku rintik-rintik itu mulai jatuh. Sesampainya di rumah, pintu ruang tamu ia kunci rapat.

”Semua ini gara-gara bapak yang masih pergi ke makam. Orang-orang menjadi benci pada kita!” kataku saat bapak baru saja duduk di ruang tamu.

”Nduk, dari dulu sampai sekarang nyekar itu tidak pernah dilarang. Kecuali jika kita punya maksud tidak baik, seperti meminta pertolongan pada arwah leluhur. Kita itu ke makam untuk mendoakan ibumu, Nduk.”

”Tapi kenapa mereka bilang kalau nyekar itu dilarang, Pak? Sampai-sampai Ustadz mengatakan bahwa orang yang masih melakukannya itu kafir dan haram masuk surga?”

”Ustadz Ahmad itu ilmu agamanya tidak sedalam apa yang dipikirkan orang-orang, Nduk.”

Bapak pergi seolah tak ingin lagi membahas perkara ini. Sementara aku masih mempertanyakan mengapa orang-orang begitu mudahnya berubah. Tradisi yang dulu sangat dijaga Pak Sarmin kini pudar oleh anaknya sendiri.

”Nduk, sudah malam. Lekas tidur!” suara bapak dari dalam kamar mengurai lamunanku.

Aku bergegas mematikan lampu, berjalan menuju kamar untuk melentangkan badan di pangkuan malam yang menyebalkan. Aku terlelap. Aku bermimpi, di dalam mimpi itu aku melihat ibu. Ia memakai baju putih, wajahnya berseri-seri. Ia berjalan mendekatiku yang berdiri termangu. Lalu semerbak aroma bunga mawar dan melati segera menusuk hidung, wangi sekali.

“”Gendhis, bunga-bunga yang kamu taburkan untuk ibu telah merasuk bersama doa-doa bapakmu. Terima kasih sudah menjaga makam ibu, teruslah menabur bunga dan doa-doa. Ibu mencintai kamu dan bapakmu.” Ibu tiba-tiba saja menghilang, menyisakan seberkas cahaya putih bersama aroma bunga mawar dan melati.

Malam harinya, saat adzan Isya berkumandang dari masjid dekat rumah, aku dan bapak melangkahkan kaki menuju pintu masjid yang bercat putih itu. Aku masih ingat dulu masjid ini berwarna hijau cerah dengan bedug yang berdiri gagah di dekat jendela. Namun lagi-lagi kata bid’ah membuat bedug itu harus diungsikan di gudang milik salah satu warga.

Aku terbangun saat adzan shubuh berkumandang. Sayup-sayup terdengar suara terompah di luar kamar. Pintu kamar terbuka, tampak bapak sudah rapi dengan baju kokonya.

”Gendhis, ayo ke masjid!” ajak bapak. Aku masih terdiam, mengingat mimpi yang semalam.

”Pak, tiap hari Kamis kita tetap ke makam kan, Pak?”

”Iya, Nduk. Kenapa kok tiba-tiba tanya begitu?”

”Aku tadi mimpi bertemu ibu. Ibu baunya harum sekali.”

Bapak tersenyum.

”Katanya kamu takut dipelototin para tetangga kalau pergi ke makam?”

”Ah, biar saja, Pak. Yang penting makam ibu tetap bersih dan wangi.”

Iya, kubiarkan orang-orang menatap sinis setiap kali kami pergi ke makam. Kubalas saja mereka dengan senyuman, begitupun dengan yang bapak lakukan. Bapak membuka jalan ke makam lebih lengang. Ilalang-ilalang yang dulu rimbun ia tebang. Dan dari pintu masuk kuburan akan tampak sebuah makam yang bebas dari rerumputan. Kedua batu nisan makam itu dinaungi pohon kamboja yang setiap hari berguguran bunga putihnya. Sejuk sekali aku melihatnya, namun sayang mengapa hanya satu makam yang seperti itu? Sementara lainnya sudah rusak karena lama menunggu.

****

Nur Sholikhah, santri Pondok Pesantren Darun Nun Malang. Salah satu kontributor buku Jodohku Bersabarlah dan buku Menapaki Jalan Menuju Ahli Ilmu, serta penulis di darunnun.com.

sumber : kompas.id, 30 Jan 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme