Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Menari Dalam Jerat Tali oleh Salehati

Posted on Sab, 13 Feb 2021

Tubuh itu menari mengikuti arah angin. Diiringi desau dedaunan ia bergerak. Pelan, pelan, begitu pelan. Guruh pecah di udara. Tariannya berhenti. Tubuh itu masih melayang, menggantung, tidak menapak tanah. Nyawanya lenyap. Ibuku tiada.

Langit menghitam, tapi enggan turunkan hujan. Raga ibuku masih menggantung dan aku hanya bisa terpaku. Tali jerat di lehernya telah melenyapkan suara merdu berikut lantunan lagu-lagu pengantar tidur untuk melelapkanku.

Tak akan ada lagi dekapan hangat dan suara detak jantung yang berpacu dengan tetes air hujan yang menembus atap rumah kami yang bocor. Tak akan ada lagi suapan makanan dari jari-jemarinya yang gemulai- yang menyisakan sedikit kesenangan masa muda yang pernah ia rengkuh. Tak akan ada lagi senyuman- walau hanya senyum yang disunggingkan untuk menyenangkan penonton. Senyum yang menjadi penghiburanku. Senyum yang seolah berkata, kita baik-baik saja. Kita bahagia.

Ibu tidak pernah sejahat ini kepadaku sebelumnya. Ibu selalu menemaniku, bahkan jika aku dicemooh tetangga dan orang asing karena keadaanku. Ibu selalu bangga memanggilku anaknya dan menyebutku miliknya. Tapi kali ini, ia tidak membawaku turut serta. Mengapa Ibu meninggalkan gadis kecil yang juling dan gagap sendirian?

Aku tergagap memanggilnya. Suaraku tercekat di tenggorokan. Bercampur dengan segukan tangisku, aku tak tahu suara macam apa yang akhirnya keluar dari mulutku. Aku hanya meyakini bahwa itu adalah jeritan batinku. Jiwaku menjerit memanggilnya. Ibu..!!

Aku mencoba berhenti menangis. Tapi, nyatanya, aku hanya diam sejenak mengambil napas, lalu meneruskan isakanku lagi. Bahkan jika aku ingin berhenti, air mataku meleleh dengan sendirinya. Kali ini, jasad tak bernyawa itu tak akan hidup lagi untuk menghapus air mataku dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Sekarang, aku tidak baik-baik saja. “Ibu jahat!” Desir angin membawa serta suaraku.

Bisakah Ibu memberitahuku apa yang harus kulakukan sekarang? Tidak adakah orang yang mendengar tangisanku atau melihat tubuhmu yang menggantung dari bawah lereng bukit sana? Bagaimana aku harus melalui hari-hari esok? Ah, tidak. Aku bahkan tidak habis pikir bagaimana untuk melewati malam ini.

Kuelus selendang merah yang sejak tadi kudekap. Kurentangkan dan kubelitkan pada leherku. Kutarik dengan erat kedua ujungnya. Beberapa kai percobaan dengan tenaga yag lebih besar. Tapi, ia tak mampu merenggut nyawaku seperti tali jerat pada lehermu, Ibu. Aku belum mati juga. Sial!

“Ibu, mengapa harus di atas bukit ini kau menggantung diri?!” Tidak ada orang yang melihatmu mati di sini. Hanya ada aku dan kesepian- yang kau tinggalkan bersamaku. Mengapa di saat sekarat pun, kau masih harus merasa terasing dan mengasingkan diri?!

Bukit ini- kau sering mengajakku ke sini. Mengajariku menari- satu-satunya hal yang bisa kau wariskan dan satu-satunya hal yang menjadi penghiburanku.

“Di atas bukit ini”, katamu, “adalah satu-satunya momen kita bisa berdiri lebih tinggi dari semua orang-orang kampung, yang selalu saja memandang kita rendah”.

“Dari atas bukit ini, kita bisa memandang pada atap-atap rumah mereka, pada kesombongan mereka, pada keangkuhan mereka, dan pada menara-menara rumah ibadah tempat mereka mengadukan hidup- mungkin juga mengadukan mengapa orang-orang seperti kamu dan Ibu masih juga hidup”.

“Tapi, kita tidak bisa melihat rumah kita dari sini, Bu?”

“Apa yang kamu sebut sebaga rumah itu, sayang, adalah petak kecil dengan atap bocor di sana-sini, lantai tanah yang selalu lembab, dan dinding yang banyak lubangnya ditutup seadanya”

Dari atas bukit ini, kita bisa memandang pada atap-atap rumah mereka, pada kesombongan mereka, pada keangkuhan mereka, dan pada menara-menara rumah ibadah tempat mereka mengadukan hidup- mungkin juga mengadukan mengapa orang-orang seperti kamu dan Ibu masih juga hidup

Rumah itu terlalu malu untuk menyebut dirinya sendiri sebagai rumah. Ia tidak menjulang tinggi, mentereng dan menggugah mata. Rumah kita begitu pemalu. Ia mojok sendirian di sudut kampung. Dan hanya rumah itu yang kita miliki.

Ibu, harus kuapakan jasadmu? Apa yang harus kulakukan? Aku tidak pernah menyelenggarakan pemakaman sebelumnya. Yang aku tahu hanya bahwa orang mati ditanam di dalam tanah. Seperti ketika aku menggali lubang untuk menguburkan kucingku di halaman depan rumah. Aku tidak pernah menghadiri rumah duka siapapun. Kau satu-satunya keluargaku dan satu-satunya kematian yang harus kuhadapi. Tapi, tidak ada yang memberitahuku bagaimana melakukannya.

Mengurus jenazah memang tidak mengikat kewajiban pada semua orang. Tapi, pada yang bukan semua orang itu pun, siapa pula yang sudi untuk mengurus jenazahmu? Seorang penari yang melenggak-lenggokkan tubuhnya untuk mendapatkan uang. Bergerak dari belaian laki-laki yang satu ke laki-laki yang lain. Ia hina! Terkutuk! Anaknya yang tidak normal itu buktinya. Seperti itu sebutan orang-orang kampung kepadamu, Ibu.

Mungkin Pak Haji dan keluarganya akan memandikan dan menutupmu dengan lapisan-lapisan kain putih. Tapi, siapa yang akan menggali kuburan untukmu?

Siapa yang akan membayar upah mereka? Dan di tanah siapa kau akan dikuburkan? Setelah tak lagi bernyawa pun, kau masih luntang-lantung.

Bagaimana jika aku turut mati saja, Ibu? Biar aku tak usah memikirkan pemakamanmu dan kehidupanku. Tapi, selendang merahmu ini tidak cukup kuat menjerat leherku. Bagaimana jika kugelindingkan saja tubuhku ke lereng bukit di bawah sana, Ibu? Mungkin aku bisa mati kan, Bu? Ibu, apakah kematian menyakitkan?

Ibu, ibuku yang cantik, kau tidak benar-benar mati, bukan? Dunia seharusnya bersikap ramah bagi orang-orang yang cantik. Seperti Dinda, temanku- ah tidak, ibunya melarangnya bermain denganku. Dinda cantik, semua anak kecil dan ibu-ibu di kampung kita menyukainya. Ibu juga cantik, tapi mengapa ibu-ibu di kampung kita tidak menyukai Ibu?

Apalagi ketika sedang menari, kecantikan ibu bertambah-tambah. Aku ingat suara gendang dan gerakan tari Ibu yang terpatah-patah. Ciamik sekali. Bapak-bapak berebutan ingin ikut menari sedekat mungkin dengan Ibu. Tapi, itu sudah lama sekali. Ketika setiap hajatan masih diisi dengan tari-tarian dan bukannya pengajian. Ketika kelompok tari Ibu masih sering diundang untuk itu.

Sekarang, pengajian ada di mana-mana. Dakwah di setiap hajatan. Pernikahan, kegiatan kelurahan, hingga agenda ibu-ibu arisan setiap minggu dan bulan. Kelompok tari Ibu bubar dan Ibu kehilangan mata pencahariaan.

Tapi, Ibu masih tetap cantik. Bahkan jika debu-debu tepung adonan kue hinggap di wajah dan rambutmu, dan aroma asap tungku pembakaran menempel di bajumu, kau masih tetap cantik. Ibu adalah Ibu tercantik di kampung ini.

Hingga suatu hari, kecantikan Ibu menjadi petaka. Karena orang-orang yang tidak cantik ternyata membenci orang-orang yang cantik.

Istri juragan beras di kampung memergoki suaminya tengah diam-diam memberikan kita seliter beras. Diberikan cuma-cuma karena kita tentu saja tidak punya uang. Tapi, si Istri tidak memahami kebaikan itu. Baginya, Ibu menggoda suamiya. “Perempuan sundal!” Ia memaki dan meludah jijik tepat sebelum meninggalkan halaman rumah kita.

Sejak hari itu, dunia tidak pernah ramah bagi kami. Tidak juga bagi ibuku, walaupun ia cantik. Kabar menyebar dari mulut ke telinga, merambat di udara menuju gendang telinga ibu-ibu yang tidak menyukai perempuan cantik. Atau mungkin saja, mereka hanya tidak menyukai ibuku.

Aku bertanya pada ibu apa artinya perempuan sundal dan ibu hanya menjawab sebaiknya  aku tidak usah tahu. Tapi, hampir setiap hari aku mendengarnya, Bu. Di jalan-jalan kampung hingga di pasar tempat Ibu menjajakan kue-kue. Lalu kita pindah ke pasar lain, tempat kata-kata itu tidak terdengar. Tapi, hidup semakin melelahkan, Bu. Pasar itu terlalu jauh dan dagangan Ibu sering tak laku. Lalu, Ibu semakin sering menangis sejak itu.

Baca juga : Apartemen Itu Menelan Rembulan

Ibu mulai mengajariku menari. Hingga hari-hari ketika Ibu sering menangis, kita pun semakin sering menari. Di atas bukit ini. Dengan gendang kecil dan selendang merah milikmu. Ibu mengajariku Jaipongan. Menekuk badan, bergerak menurut ketukan gendang. Aku ingin kita selalu bisa menari bersama. Tapi, orang-orang kampung mengatakan itu dosa. Menari Jaipongan itu porno.

Aku tidak banyak mengerti perkataan orang-orang kampung, Ibu. Yang aku tahu, kata demi kata yang mereka ucapkan, semakin membuat Ibu tampak lelah. Semakin sering menangis. Lalu tertawa. Tapi, aku tidak tahu apa yang Ibu tertawakan.

Hingga hari ini tiba. Kita akan menari seperti biasanya. Tapi, Ibu lupa membawa selendang dan memintaku pulang ke rumah untuk mengambilnya. “Ibu jahat!” Aku kembali dengan selendang merah itu dan menemukan ibuku menggantung tak bernyawa.

Dan bapak? Siapa pula yang harus aku panggil bapak itu? Apakah aku pernah bertemu dengannya, Ibu? Mengapa aku tidak bisa mengingatnya? Mengapa juga aku terpikir tentang Bapak di saat-saat seperti ini.

Ibu, tali jerat ternyata telah lama menjerat hidup kita. Menjerat Ibu, karena Ibu cantik dan menjeratku karena aku tidak cantik. Aku juling, gagap dan tidak punya bapak. Teman-teman berlarian menjauhiku ketika ibu-ibu mereka memanggil untuk makan siang dan tidak kembali lagi.

Hanya masalah waktu hingga jeratan tali itu semakin erat dan mencekik. Dan saat itu tiba ketika kulihat tubuhmu menggantung dalam jeratan tali yang nyata di hadapanku.

Polewali Mandar, 21 November 2019

****

Salehati menyelesaikan pendidikan jurusan Ilmu Hubungan Internasional di FISIP Universitas Hasanuddin. Menggemari sastra, filsafat dan politik dan menghabiskan banyak waktu merenungi kehidupan yang fana ini. Aktif menulis puisi, opini dan ulasan buku untuk diri sendiri.

sumber : kompas.id, 13 Feb 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme