Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pohon Kapuk Tepi Jalan oleh Teuku Hendra Keumala

Posted on Kam, 01 Jul 2021

Tidak ada yang tahu, sejak kapan dan siapa yang menanam pohon kapas itu. Begitu juga sampai sekarang, tidak ada pula yang mengaku pemilik dari pohon besar itu. Pohon yang menjulang tinggi ke angkasa, besarnya tidak terjangkau pelukan tangan orang dewasa, menurut kata orang-orang tetua kampung, pohon itu memang sudah begitu adanya.

Pohon kapas besar itu tumbuh begitu subur, berada di tepi jalan hitam kampung kami, tepatnya di jalan lurus, kiri kanan diapit pematang sawah. Daunnya hijau dan tumbuh lebat, Jika sedang berbuah, maka pohon itu akan berubah putih, kapas-kapas bergantungan di ujung ranting, mengelupas bila buah itu sudah matang, sedikit saja angin bertiup makan beterbanganlah, kapas-kapas itu ke seluruh penjuru kampung, semua menjadi putih seputih kapas diterpa sinar matahari.

Di sebuah musim angin barat, terjadilah hujan badai, pohon kapuk itu disambar petir, sebagian dahan berhamburan jatuh ke tanah, menutupi badan jalan dan persawahan karena terlalu besar, warga kewalahan membersihkannya sampai-sampai harus meminta bantuan dari kampung sebelah, kapas berhamburan menutupi jalan.

Banyak juga warga yang memanfaatkan buah kapas itu, ketika waktu senggang mereka berbondong-bondong mengutip dari sisa-sisa terpaan angin, buah kapas yang jatuh tidak pernah terbuang, semua diangkut warga kampung, untuk dijadikan kasur, sebagai alas tidur, bantal tidur, bahkan guling sekalipun. Memiliki kasur merupakan harta termewah bagi warga kampung. Itulah sebab buah kapas itu diangkut warga, ada pula yang berebut ingin mendapatkannya.

Sejak kapuk itu berbuah, seluruh warga kampung memiliki kasur, mereka tidak lagi tidur yang hanya beralaskan anyaman tikar pandan. Meski mendatangkan manfaat, ada pula yang menginginkan pohon itu segera ditebang, selain beralasan sudah sangat terlalu besar, ada pula yang mengatakan pohon itu sudah berpenghuni, warga meyakini pohon itu merupakan sarang kuntilanak. Tapi ada pula warga yang menolak usulan itu mentah-mentah, sebagian dari warga menginginkan pohon itu tetap tumbuh besar, sebagaimana kemauan para leluhur mereka terdahulu, jauh sebelum kampung barat dan kampung timur dileburkan menjadi satu, pohon kapuk itu merupakan satu-satunya pembatas kedua kampung, bersebab itu pula pohon terus dijaga dan diperlihara untuk mengingat para pemuka kampung terdahulu, atas pertimbangan itu pohon gagal ditebang.

Menurut kabar yang beredar dari warga kampung, seseorang telah memergoki kuntilanak sedang bergelantungan seperti kapas sebanyak buah kapas di pohon itu. Tapi setelah warga kampung mengenal kasur spring bed, buah kapuk mulai dilupakan pelan-pelan, hanya satu-dua orang saja yang masih setia menggunakan kasur kapas, keberadaan pohon kapas pun kemudian mulai dilupakan warga.

Banyak juga warga yang memanfaatkan buah kapas itu, ketika waktu senggang mereka berbondong-bondong mengutip dari sisa-sisa terpaan angin, buah kapas yang jatuh tidak pernah terbuang, semua diangkut warga kampung, untuk dijadikan kasur.

Sejak itu orang-orang hanya mengingatnya ketika malam tiba, jika melintasi pohon itu, bersebab kabar dari mulut ke mulut, bahwa pohon kapas besar itu dihuni makhluk halus, pengalaman ini pernah dialami Ismail, ketika ia pulang dari tempat penganjian. Malam itu pukul 22.30 WIB sudah sangat larut untuk suasana kampung yang sepi, disertai hujan rintik-rintik, tanpa senter Ismail berjalan dalam kegelapan, sesampai di pohon kapas ia melihat sosok putih berdiri di bawah pohon, ia merinding, entah apa yang dipikirnya, kemudian bergegas lari karena ketakutan.

Iklan – Gulir ke Bawah untuk melajutkan
Iklan

Keesokan harinya, beredarlah informasi tentang peristiwa itu ke seluruh penjuru kampung, sejak itu pohon kapas mulai angker dan ditakuti oleh orang-orang kampung. Pada suatu malam peristiwa ini kuceritakan pula pada Maduki, biasanya kami memanggilnya Bang Maduki, karena memang umur beliau lebih tua dari kami, begitulah cara orang kampung ini menghormati mereka yang lebih tua.

”Apa Abang sudah mendengar tentang keberadaan sesosok hantu putih di pohon kapas pinggir jalan itu,” tanyaku, saat menemuinya di warung kopi Mak Iteh.

”Belum,” kata Maduki. ”Bagaimana kisahnya?” tanya Maduki penasaran.

Peristiwa horor itu dialami Ismail, kataku, persis pada Kamis malam lalu, ia melihat sosok putih tepat berada di bawah pohon kapas besar itu, jelas saya kepada Maduki.

”Lalu bagaimana nasibnya setelah itu?” Maduki lanjut bertanya.

”Ismail ambil langkah seribulah,” jawabku sambil tertawa.

Mendengar cerita itu Maduki hanya merespons dengan wajah dingin sembari senyum, karena seumur-umurnya tidak pernah melihat dan berjumpa dengan yang namanya hantu, kecuali yang diperankan dalam film horor di televisi-televisi.

”Mungkin yang dilihat Ismail hanya goni,” kata Maduki.

”Mengapa Abang mengatakan begitu, dia bercerita sungguh-sungguh loh bahwa yang dilihatnya benar itu hantu,” ujar saya meyakinkan Maduki.

Sebab begini, jawab Maduki, sore itu saya memupuk padi di beberapa petak sawah yang berada tidak jauh dari pohon kapas itu, karena selesainya sudah terlalu gelap, goni-goni itu saya sangkut di pohon. ”Mungkin malam itu goni tersebut yang dilihat Ismail,” jelas Maduki.

Iklan – Gulir ke Bawah untuk melajutkan
Iklan

”Mungkin saja, apa yang dilihat Ismail bukan goni yang saya maksud,” sambung Maduki.

Saya pun tertawa seusai mendengar penjelasan itu.

Tapi demikian, orang-orang tetap saja memercayai pohon itu berpenghuni, sampai sekarang ada saja orang yang takut melintas ketika malam hari melewati pohon itu dan begitulah adanya pohon kapas di tepi jalan meninggalkan misterinya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, dan musim pun terus berganti, pohon kapas terus membesar, sekarang pohon itu tidak sanggup lagi dijangkau oleh dua bahkan tiga pelukan tangan orang dewasa, pohon itu benar-benar besar, semakin rindang, cabang-cabang makin kokoh, buahnya pun semakin lebat, hanya saja seperti yang kukatakan tadi, semenjak warga mengenal kasur spring bed, keberadaan kapas mulai tidak lagi diminati, kapas di kampung tidak lagi empuk untuk ditiduri.

Warga pun mulai lupa, lupa dengan pohon kapas, kecuali ketika memasuki musim kampanye pemilu. Pohon itu kembali didatangi, untuk ditempel embel-embel pemilu, bukan hanya dari kampung tapi dari banyak daerah lain mendatangi pohon itu, bermacam dan corak wajah tertempel di situ, dan banyak pula tertulis janji-janji, semua diumbar di situ, jadilah pohon itu warna-warni, seperti halnya warna partai politik di daerah kami, setelah itu orang-orang melupakannya lagi selama lima tahun ke depan.

Baru kemudian mengingatnya lagi ketika 24 Desember, warga kampung mendatangi pohon itu, bukan ingin mendapatkan kapas dari buah kapuk, bukan juga ingin menempelkan embel-embel pemilu, mereka dibariskan, ada juga yang dipaksa merayap-rayap di sawah.

Setiap tahun ketika memasuki tanggal 24 Desember pasti akan tersangkut sebuah bendera bintang bulan, dengan perpaduan warna merah dan hitam, entah siapa yang mau bersusah payah menyangkutkannya di atas pohon besar itu, sampai orang-orang kampung ikut bersusah kewalahan menurunkannya.

Bendera itu paling dimusuhi negara, bahkan dilarang untuk mengibarkannya, karena itu warga di kampung dikumpulkan untuk menurunkan bendera dari pohon besar, sembari diinterogasi satu per satu perihal orang yang telah menaikkan bendera itu, tentu saja warga tidak mengetahuinya, apalagi pemasangan dilakukan ketika malam hari.

Tidak sedikit dari mereka mendapat kekerasan dari aparat. Karena sudah sangat sering dinaikkan bandera terlarang itu oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Aku hanya mengira bendera dinaikkan oleh si hantu sang penghuni pohon besar, habis siapa lagi yang berani naik sampai ke ujung dahan untuk mengikat bendera kalau bukan dia. Bukankah selama ini dia yang sering bergelantungan di pohon ini, seperti cerita orang-orang kampung.

Iklan – Gulir ke Bawah untuk melajutkan
Iklan

Karena sudah sangat terlalu sering membuat resah, seseorang nekat melaporkan bocoran ini kepada aparat, bahwa selama ini yang sering membuat ulah di pohon besar sosok hantu berpakaian putih yang muncul saat hujan rintik-rintik tengah malam dan sering menakut-nakuti warga yang melintas, dia juga yang telah mengikat bendera-bendera itu di ujung dahan.

Setelah melaporkan penghuni pohon, sang pelapor pun dikenai sanksi merayap di dalam sawah yang baru saja digarap petani, serta dikenai wajib lapor selama dua minggu berturut-turut karena dianggap sudah memperolok-olok petugas.

Setelah kejadian itu pohon besar pun disarankan warga kampung untuk dirobohkan, tapi setelah dirobohkan pohon itu tetap hidup dalam ingatan-ingatan warga, kembali membesar di lorong-lorong kampung, dan berbuah lebat dalam cerita-cerita orang, bahkan lebih banyak dari buah-buah sebelumnya.

***

Teuku Hendra Keumala, lahir di Nagan Raya, 20 Maret 1986, aktif menulis cerpen dan artikel, serta bekerja sebagai jurnalis di salah satu media lokal di Aceh.

sumber : kompas.id, 01 Jul 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme