Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Rambut Palsu oleh Happy Salma

Posted on Kam, 07 Okt 2021

Bia membuka pintu kamar dengan siku tangan kirinya. Kedua tangannya menjinjing dua kantong besar, juga tas kecil manis yang tersandang di bahu kanan. Diam-diam Bia merasa senang karena menemukan dirinya tidak merasa gugup. Setidaknya Mami tidak akan mengetahui bagaimana perasaan Bia yang sebenarnya.

“Mami….Halo?” Bia muncul dari balik pintu.

“Bia, sebentar!” Suara Mami menjawab sedikit berteriak dari kamar mandi. Bia duduk lalu mengatur remote AC agar suhu udara yang cukup sejuk. Udara di luar membuatnya merasa panas.  Tak lama Mami muncul dengan penampilan yang terlihat segar. Mami melewati meja rias, memberi pewarna bibir, warna merah merona.

“Mami?” Bia tersenyum sambil memandang ibunya yang berjalan pasti ke arahnya. Mereka duduk berdua berpandangan, tersenyum. Senyum ibu dan anak yang hangat namun menyimpan sesuatu yang sedang saling disembunyikan antara kehangatan dan kesedihan.

“So, Mami, bagaimana kabar Mami hari ini?” Bia memecah suasana, suaranya terdengar mengambang.

“Heem.. indah…baik!, Mami baik-baik, Bia,” jawab Mami. “Ini, yah?” Mami melirik ke arah kantong yang dibawa Bia, membukanya, melihat isinya dan secepat itu Mami berseru, “Aduh, gemes!”

Bia menarik nafas, tersenyum melihat ekspresi ibunya. “Gemes, ya Mi?  Ini ada banyak lagi” Bia memberikan kantong lain. Tidak sabar Mami membukanya, dan lagi-lagi ia berseru gembira seperti anak kecil membuka kado ulang tahunnya.

“Ini rambut palsu semua? Ha..ha..ha.., beneran?” Mami tertawa, mengawati rambut-rambut palsu dalam kantong itu

“’Kan Mami mintanya gitu,” Bia ikut tertawa. “Macam-macam bentuknya, Mi, mengejutkan!” Kata Bia sambil membantu Mami mengeluarkan semua rambut palsu, lalu semua digelar di atas meja. Ada banyak rambut palsu, dengan berbagai model dan warna.

“Ini halus amat, Bi!” Mami mengusap-usap rambut bermodel gelombang panjang.

“Iya, itu katanya buatan Korea, Mi, tapi pabriknya di Sukabumi!” Mami mendelik lucu mendengar jawaban Bia. Lalu ia mencoba rambut palsu buatan Korea yang pabriknya di Sukabumi itu.

Bia mengamati ibunya.  “Iket dulu rambut Mami, sini..” Bia melepas ikat rambutnya untuk dipakai mengikat rambut ibunya, seperti model dicepol. Sambil melakukan itu Bia menjelaskan,  “Kalau rambut panjang mesti dicepol dulu. Apalagi model rambut palsu yang pendek ini.”

“Iya, ah, mungkin nanti rambut Mami potong pendek saja, yah? Tapi lihat nanti saja.”

“Bi, jadi gatel!” Mami geli sendiri, tak lama rambut palsu bergelomgang panjang itu ia lepaskan.

“Eh, itu rambut asli, Mi, gatel, ya?” Bia membaca kertas dari boks-nya. “Ini ada rambut yang pendeknya. Gusti, betul rambut asli, kita tidak tahu ini rambut siapa ha..ha..ha!”

“Ih, amit amit Mami gak pantes kalau rambut gini!” Mami kemudian menggantinya

“Coba dulu yang ini, Mi?” Bia mengambil model rambut yang lain.  Mami mencoba, rambut palsu yang pendek. Berdiri di depan cermin

“Eh, pantes juga, ya?” Kata Mami.

“Iya, Mami kelihatan seger! Atau yang ini juga bagus, Mi, model bob, lebih lembut,” Bia mengambil model rambut yang terletak di ujung meja.  Mami memasangnya, berdiri dan mematut wajahnya lebih jelas di depan cermin tempat mereka berdiri.

Bia berjalan kemeja rias, mengambil kaca kecil dan dia pantulkan cermin itu ke belakang bentuk model rambut yang Mami kenakan. Mami memandangi setiap bagian rambut palsu yang terpasang di kepalanya. “Ini juga lembut, Bi. Mami kalau gerak gerak, copot, gak, ya?”.

“Lho, ‘kan nanti dijepit, Mi,” Bia mencari cari jepit di atasnya. Setelah menemukannya, ia menjepit ramput palsu itu ke celah-celah rambut asli ibunya, di dalam dan di bawah telinga. Mami memutar-mutar kepalanya, tengok kanan kiri, dan rambut palsu itu copot! Mereka tertawa.  “Ih, amit amit Bia! Bagaimana kalau Mami pakai terus copot waktu Mami sedang berjalan atau jogged? Pasti heboh!” Kata Mami di sela suara tawanya.

“Lagian ngapain Mami heboh jogdet-joget? Apalagi kalau nanti Mami beneran sampai harus pakai rambut palsu.” Mia menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar kalimat terakhir yang ia ucapkan. Kenapa itu harus aku ngomong gitu, sih? Batinnya.

“Ah emang kenapa?” Tanya Mami sambil lenggak lenggok mencoba rambut palsu yang lain, sambil diam-diam juga berharap Bia tak menjawab pertanyaannya.

“Ini kayaknya cocok,ya, Bia?” Mami mengalihkan perhatian, merapihkan anak rambut yang menyembul keluar.

Tanpa menunggu jawaban Bia, Mami memilih-milih rambut palsu di atas meja. “Ini enggak usah!” Mami memeriksa empat macam rambut palsu lain. “Ini juga.” Tiba-tiba Mami tertawa sambil meraih sebuah model rambut palsu, “Ini ha..ha…warnanya biru, Bia?”

Bia ikut tertawa melihat model rambut yang ditunjukkan ibunya. “Ha..ha..ha kocak, ya, Mami?”

“Mami mau coba?”

Bia melepas rambut palsu yang menempel di kepala Mami. “Ini ada macem macem Mi, warnanya aneh-aneh!”

“Ih, gelo! Ha..ha…ha mau kemana pake rambut warna warni!”

“Buat seru-seruan, Mami!” Jawab Bia sambil memasangkan rambut itu di kepala Mami. Lalu  Mami membuka dus rambut palsu terakhir, “Yang ini kribo, Bia, ha..ha..ha!”

“Bia, nih, pake!”Giliran Mami memasangkan rambut kribo ke kepala Bia. Di depan cermin inu dan anak itu terpingkal- pingkal saling memasangkan rambut palsu. Mami dengan rambut warna biru dan Bia dengan model rambut kribo

“Ini semua pinjem dari Orlando, Mi, tinggal dipilih mana yang cocok,” jelas Bia.  Mami tertawa memotret dirinya dan Bia. Ibu dan anak itu beruangkali berganti pose, sehingga suasana dalam rumah begitu hangat dan ceria. Di luar hari beranjak menuju sore. Beberapa gumpalan awan tampak mulai menutupi matahari.

***

Suasana dalam rumah tiba-tiba menjadi sepi. Dalam kamar Mami duduk seperti menahan sakit, ia berusaha mengatur nafasnya. Di sampingnya  Bia menatap cemas. Pelan-pelan Mami berdiri sambil mengibas-ngibaskan tangan dan jarinya. Dia berjalan keluar kamar, di depan teras ada hamparan rumput hijau. Mami jalan mengitari rerumputan, sambil mengibas-ngibaskan jemari kaki, agar peredaran darahnya lancar.

Mami menengadahkan wajahnya kelangit. Menghirup udara sepenuh paru-paru, melepasnya pelan-pelan. Mami memandang jauh ke langit, awan-awan dan garis-garis cahaya matahari,. Ada juga celah-celah di antara awan itu, dan terlihat langit biru yang jauh.

Bia datang menyodorkan segelas air. Mami mereguknya sedikit, sebelum kembali ia berjalan-jalan mengelilingi hamparan rumput. Bia diam saja, menyimpan gusar dan serba salah.  Ia paham betul sifat ibunya. Ibu yang tak ingin terlihat rapuh di mata anaknya, di mata siapapun.

Bia berusaha tetap tenang, seperti kedatangannya tadi, seperti yang diniatkannya, bahkan sebelum sampai ke rumah ibunya. Ia harus terlihat tegar, meski tahu betapa sulit menyembunyikan kesedihan melihat kondisi ibunya.

“Bagaimana rasanya tubuh Mami sekarang, baikan?” Ia bertanya setelah mengatur nada suaranya agar tetap tenang.

“Segar” jawabnya Mami. Lalu dia merebahkan diri di rerumputan, memejamkan matanya sambil terus mengatur pernafasan. Mami meletakkan tangannya di dada seperti memastikan bahwa jantungnya masih berdegup dengan baik, dan, atau, entahlah. Bia menatap penuh rasa cemas.

Lama Bia memandangi wajah ibunya. Wajah perempuan yang tegar namun syahdu, wajah yang terpejam seakan sedang menikmati setiap hembus angin.

“Sakit, ya, Mi? Tiap hari masih sakit begini ‘kan?”

Mami tidak menjawab, tampak ia kurang nyaman dengan pertanyaan itu. Tapi Bia masih terus bertanya, mendesak, “Iya, ‘kan?”

“Enggak juga,” jawab Mami singkat sambil tersenyum, lalu membuang pandang ke arah lain. Bia mengikuti arah pandangan ibunya, menerawang melihat hampara pemandangan di depan mata; hamparan kebun dan sawah milik tetangga yang tampak indah, berpulas cahaya sore kekuningan. Dengan hati yang tidak menentu ia memandangi keindahan pemandangan itu, dan itu membuat perasaannya semakin gusar.

Akhirnya Bia memberanikan diri menanyakan hal yang selama ini selalu dihindari ibunya. Ia menyiapkan seluruh perasaannya, sebab tahu ibunya adalah perempuan yang tak menyukai tangisan, apalagi melodrama. Setenang mungkin Bia berkata,  “Jadi keputusannya bagaimana, Mi? Kemo saja?”

Mami tak menjawab, sehingga Bia seperti bertanya pada angin. Angin yang berhembus segar dan mampu mengusap air mata yang hendak turun. Bunga kamboja berwarna kuning, satu jatuh di atas rumput. Bunyi kicau burung terasa semakin riuh. Sore terus bergerak. Suara laut di kejauhan, gemuruh yang mendekati senyap.

Bia dan Mami masih saling diam.

“Bi kayaknya Mami mau yang pendek saja, tapi jangan pakai poni. Rambut palsu model itu kayaknya cocok untuk Mami, biar seger juga,” kata Mami tiba-tiba. Suaranya pela, membuka mata, tersenyum.

Bia memandang ibunya, dan ia merasa mengerti. Mami perlahan bangun dan duduk.

“O, iya, ‘kan model itu kalau dipakai Mami enggak terlalu kelihatan rambut palsu, ‘kan?” Mami senyum-senyum sambil merapihkan bajunya. Bia melihat ibunya yang tampak lebih tenang sekarang.

“Ya, kan, Bi, Mami tidak terlihat palsu pakai rambut palsu, ‘kan?”

Mereka berdua berpandangan. Bia menahan semua perasaannya, berusaha memahami ibunya. Bia tahu, Mami yang menahan sakit dan hanya dia sendiri yang tahu. Sakit yang dibalutnya dengan senyum segar. Bia memandang dengan penuh perasaan. Bia dan Mami tersenyum saling paham

“Ya, Mi, tidak terlihat rambut palsu, kok, kalau Mami pakai model itu.”

3:30 Sore, Suwung 11 Agustus 2021

***

Happy Salma, seorang seniman di bidang pemeranan, produser seni pertunjukan dan juga pengusaha. Ia seringkali juga menulis. Karyanya pernah masuk menjadi salah satu nominasi pemenang Literary Khatulistiwa Award tahun 2006 melalui karyanya berjudul Pulang.

sumber : kompas.id, 07 Okt 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme