Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Di Batang Lunto Panggih Menunggu oleh Ricky A Manik

Posted on Kam, 14 Okt 2021

Kabut turun setelah hujan semalaman dan bukit-bukit seperti perempuan berkerudung putih dan hamparan lembah dan rumah-rumah warga tampak samar-samar. Panggih berdiri di sana sejak pukul dua dini hari, di pinggir sungai (batang) Lunto, di tengah putih kabut dan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang. Air sungai menabrak batu-batu, mengalir deras dengan suara gemuruh menuju batang Ombilin. Air batang Lunto adalah denyut jantung Sawahlunto yang mengubah tanah sawah menjadi emas hitam dengan segala cerita kelam perburuhan di lobang-lobang tambang dan tansi-tansi para kettingganger.

Sudah satu setengah jam Panggih menunggu Asa Menak. Sesekali ia melihat ke arah jembatan, berharap Asa Menak segera muncul; Sesekali ia menggosok-gosok tangannya dan membenarkan kain yang ia lilitkan di lehernya. Panggih menggunakan dua kain di tubuhnya: satu lagi dikerudungkan ke kepala. Ia yakin bahwa Asa Menak pasti akan menjemputnya dan membawanya keluar dari Sawahlunto; keluar dari tanah yang tak memberi harapan apa-apa baginya; tanah yang hanya meninggalkan kepedihan dan kesedihan. Panggih masih menunggu Menak dengan perasaan kian gelisah. Ia tahu bahwa Menak akan siap menanggung segala resiko demi dirinya, termasuk membayarnya dengan nyawa. Ia tetap menjaga apa yang dipesankan Menak kepadanya: “Tunggu aku di hulu batang Lunto.”

Di dalam ingatan Panggih, perlakuan Bapaknya, Soemarto, masih membekas. Ia ketahuan berpacaran dengan Asa Menak, anak dari salah satu bekas mandor para buruh tambang. Soemarto tidak bisa menerima anaknya berpacaran dengan Asa Menak karena kebencian yang tidak bisa dihapusnya dari ingatan dengan bapak anak itu—seorang mandor yang suka menjilat telapak sepatu orang Belanda. Soemarto sudah berkali-kali melarang Panggih berhubungan dengan Menak, tetapi bagi Panggih, Menak adalah perahu satu-satunya yang mampu mengeluarkannya dari gelombang laut. Sekali waktu Soemarto mendapati kamar Panggih dalam keadaan kosong dan ia tahu ke mana anak gadisnya itu pergi. Rahang Soemarto merapat, terlihat sedikit jendolan di kedua pipinya, ia lalu menuju ke arah dapur, mengambil sebilah parang dan pergi mencari Panggih: berjalan menyusuri batang Lunto, ke danau-danau galian tambang, dan rel-rel kereta api yang dulu menjadi pengangkut satu-satunya emas hitam ke Emmahaven, tetapi ia belum juga menemukan Panggih.

Setelah beberapa jam berjalan ke sana ke mari, Soemarto akhirnya mendapatkan Panggih sedang berada di lobang tambang bersama Menak, sebuah lubang tambang yang tak dipakai lagi. Soemarto menarik tangan Panggih ke arah belakangnya dan tangan itu pula menghantam wajah Menak. Pukulan itu tidak terlalu kuat namun cukup membuat Menak menahan perihnya.

Panggih tak mampu berbuat apa-apa; ia hanya menyaksikan Menak menerima tangan yang begitu ringan dan mulut yang begitu tajam dari bapaknya.

“Jika sekali lagi kudapati,” telunjuknya mengarah ke wajah Menak yang memar dan mata Soemarto dengan sorot tajam, “Aku pastikan si bedebah itu hanya bisa meratapimu!” lalu Soemarto menyeret Panggih dan membawanya pulang meninggalkan Menak. Menak melihat Panggih yang menangis dan Panggih menatap Menak dengan mata penuh harap. Sesampainya di rumah, Soemarto langsung memasukkan Panggih ke dalam kamar dan menguncinya dari luar. Panggih menangis dan menyumpahi bapaknya menjadi anjing.

Udara yang dingin tak lagi dirasa oleh Panggih. Hatinya yang gelisah mengalahkan segala perasaan yang masuk ke tubuhnya. Ia hanya ingin Menak segera menemuinya dan rencana mereka untuk meninggalkan Sawahlunto bisa terwujud. Ia membayangkan bisa membangun kisah berdua bersama Menak tanpa harus dibebankan dendam akan cerita masa lalu orang tuanya dan cerita kelam orang-orang Slunto. Namun, di saat ayam jantan sudah mulai berkokok dari atas bukit, Menak tak juga muncul di hadapannya. Orang-orang mulai terjaga, menyiapkan segala keperluan untuk kembali kepada rutinitas. Kabut mulai memendar, meresap dalam dedaunan, namun kecemasan Panggih menjadi berlipat dan kebingungan yang membuncah. Tidak ada jalan untuk kembali kalau bukan mati.

***

“Jangan lagi kulihat kau bertemu dengan keturunan bedebah itu, Panggih!” kata Soemarto sembari mengasah parang yang biasa ia gunakan untuk berladang.

“Kau tak tahu bagaimana ayahnya itu memperlakukan kami.”

Panggih hanya diam sambil mengambil ranting-ranting dan beberapa kayu kering untuk dibakar di atas tungku. Di atas tungku yang satu lagi sebuah panci berisi nasi yang uapnya mengangkat-angkat tutup panci dan asap yang keluar dari dalamnya. Airnya keluar berkali-kali menetes ke tungku dan mengeluarkan suara-suara: tes-tes-tes.

“Mereka itu hanya jongos Belanda,” ucap Soemarto yang masih mengingat-ingat peristiwa yang tak pernah ia lupakan. Lalu ia menarik lengan bajunya dan melihat angka yang melekat pada pangkal lengan disepanjang hayatnya.

Lalu, Soemarto mulai menceritakan peristiwa yang membuat ayah Menak layak dimasukkan dalam daftar kebenciannya. Sejak ia dan ratusan para tahanan yang ada di beberapa tempat—rombongan Soemarto adalah gelombang keempat setelah gelombang yang didatangkan dari Medan dan Jawa—dibawa dari pelabuhan Batavia menuju pelabuhan Emmahaven. Dari Emmahaven mereka dikelompokkan dalam tiap-tiap gerbong dari sebuah lokomotif hitam menuju Sawahlunto.

Di dalam gerbong yang penuh sesak dengan para tahanan, aroma orang-orang yang tak pernah bersentuhan dengan sabun mandi bercampur dengan aroma batubara yang pecahan-pecahannya berserakan di segala tempat—hitam dan lengket, yang terlihat hanya pancaran mata-mata yang kosong dan masa depan dikegelapan terowongan-terowongan. Sesampainya di Sawahlunto, kaki, tangan, dan leher para tahanan itu kemudian dirantai satu-persatu. Pemerintah Hindia Belanda sengaja mengangkut mereka untuk dijadikan buruh tambang batubara tanpa dibayar sepeser pun, menganggap pekerjaan itu sebagai hukuman karena mereka telah berani melawan pemerintahan dan menghasut orang-orang untuk tidak tunduk kepada pemerintahan Hindia Belanda.

Tang-tang-tang! Terdengar bunyi besi-besi pada gerbong dipukul dengan keras dan meminta semua tahanan keluar dari gerbong. Dengan berjalan pelan-pelan karena kaki mereka dirantai berhubungan satu dengan yang lain, mereka berdiri dengan mata memicing-micing karena silau matahari, lalu melihat disekitar dikejauhan orang-orang memasukkan batubara ke lori-lori untuk diluncurkan ke gerbong-gerbong lokomotif hitam. Lalu terdengar keras suara mandor untuk meminta mereka semua tiarap. Soemarto awalnya ragu-ragu melakukannya, tetapi tiba-tiba dari belakang ia merasakan tendangan yang keras menghantam pinggangnya. Soemarto tersungkur dan bibirnya berdarah akibat mencium tanah berbatu. Belum sempat ia melihat siapa yang melakukan tendangan itu ia sudah menerima cambukan dua kali ke punggungnya. Setan! Umpatnya menahan perih.

“O ini yang akan jadi jagoan?” kata seorang mandor. “Sudah tebal kulitnya.”

Lanjut mandor itu sambil terkekeh. Beberapa mandor lain juga terlihat sedang memukuli para tahanan. Mereka yang lemah, sakit, dan tak sanggup berdiri dibawa dan dipisahkan dari yang lain dan setelah itu mereka tak pernah terlihat lagi. Lalu para tahanan dihitung satu per satu dan angka hitungan itulah yang kemudian melekat sebagai identitas tahanan. Nama dan identitas mereka semua hilang dan yang ada hanyalah angka-angka. Sebelum tahanan dibawa ke ruang-ruang gelap, mereka berbaris dan menerima stempel besi panas yang telah dibakar pada setiap lengan-lengan mereka. Ada yang berteriak menahan panas dan ada yang memejamkan matanya tanpa suara sedikitpun menerima tanda-tanda itu.

Setiap pagi, sebelum menuju lobang-lobang gelap, Soemarto dan para tahanan lain berbaris di depan tansi-tansi mereka. Soemarto berada di tansi Rante dengan orang Bali, Madura, dan Jawa; kaki dan tangan mereka dirantai saling berhubungan—suara besi rantai yang beradu sepanjang jalan seperti nyanyian kepedihan yang tak terkatakan. Para tahanan yang ada di tansi Tanah Lapang dan tansi Baru pun juga turut dirantai. Lalu mereka diperintahkan oleh mandor untuk berjalan perlahan-lahan serupa semut menuju sarang yang ada dibeberapa tempat.

Di depan mulut lobang yang kedalamannya entah berapa ratus meter telah tersedia blencong, sekop, dan lampu. Mandor-mandor memberi alat-alat itu ke para buruh tambang dan meminta mereka turun bersamaan dengan lori-lori hitam yang akan berisi penuh batubara. Semakin dalam turun ke dalam lobang semakin sulit bernapas dan ditambah aroma batubaru yang membuat paru-paru semakin mengkerut. Hampir tidak ada waktu istirahat. Mandor-mandor itu terus saja mencambuk para buruh yang kelelahan. Akibat kelelahan itu kadang mereka tak sempat menghindar dari lori-lori yang meluncur membawa batubara.

“Kau tahu Panggih, si mandor itu bahkan pernah membuang jatah makan kami,” ujar Soemarto “Mereka membuangnya sambil terkekeh-kekeh. Teman-temanku mati kelelahan dan mayat mereka dilemparkan saja ke jurang.” Sejak itu, Soemarto sangat mengingat perlakuan ayah Menak kepada dirinya dan beberapa tahanan lainnya.

Tetapi kenapa Menak yang mendapat limpahan kebencian? tanya Panggih dalam hatinya. Ia terus mengaduk-aduk nasi yang hampir matang dengan perasaan benci agar tak meninggalkan kerak di dasar panci.

***

Menak sudah terkepung. Tidak ada celah sedikitpun untuk ia bisa lari dari Soemarto. Menak mencoba memohon agar ia tidak diapa-apakan. Tetapi Soemarto telah berjanji pula dan telah datang bersama gerombolan pendendam: orang-orang dengan segala senjata di tangan mereka—mereka yang dulu pernah merasakan kepedihan di dalam lobang-lobang hitam; mereka yang dulu acap menerima cambukan, tendangan, dan umpatan; dan mereka yang dulu cuma bernama angka-angka. Malam itu, dingin udara mencapai 22 derajat dan rerumputan masih terlihat basah dan membuat lumpur hitam di mana-mana dan petrikor yang mengalahkan aroma batubara. Bagi Menak, ia tak punya pilihan: melawan adalah kemungkinan terbaik untuk bisa menepati janji kepada Panggih yang masih terus menunggunya di Batang Lunto dengan segala resiko.

Jambi, 25 Maret 2021

***

Penulis Ricky A Manik lahir dan besar di Jambi dan aktif menulis artikel ilmiah di jurnal-jurnal ilmiah dan menulis esai, cerpen, dan resensi di media lokal maupun nasional. Beberapa cerpennya terkumpul dalam antologi cerpen Swarnadwipa (2016) dan Tamsil Tanah Perca (2015). Saat ini bekerja sebagai peneliti di Kantor Bahasa Provinsi Jambi dan sedang menyiapkan buku kumpulan cerpennya.

sumber : kompas.id, 14 Okt 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme