Apa yang tebersit di benak kita saat mendengar kata belimbing? Buah yang banyak ditemukan di negara beriklim tropis ini seperti tak ada keistimewaan apa-apa bagi sebagian orang. Tapi tidak bagi Udin alias Wahyudin. Karena dalam buah belimbing terdapat banyak faedah, hikmah dan kisah. Begitu juga dengan belimbing yang melekat pada panggilannya; Udin Belimbing.
Banyak kisah dialami Udin yang tampak seperti sebuah kebetulan. Tapi dalam hidup ini bagi Udin tidak ada yang kebetulan. Semua sudah ada yang mengatur, Sang Maha Penguasa Semesta Alam Raya. Tidak ada peristiwa sekecil apa pun yang luput dari-Nya. Meski hanya sebutir debu yang beterbangan di jalanan.
Kisah Udin saat kecil sekolah SD, sewaktu dapat PR Pelajaran Kesenian untuk membuat patung buah-buahan dari tanah liat, Udin mendapat nilai paling tinggi dengan membuat karya patung berbentuk belimbing.
”Wah, patung belimbing yang dibuat Udin sangat bagus sekali,” puji Pak Guru Darko, guru kesenian, yang kemudian memberinya nilai sembilan. ”Nilai sembilan pantas Bapak berikan khusus untuk karya terbaik seperti ini. Nilai artistiknya tinggi, sungguh, sangat bagus sekali.”
Karena sang guru memberikan pujian terhadap patung belimbing yang dibuat Udin, semua anak serempak maju ke depan kelas. Mereka tentu amat sangat penasaran karena guru mereka memuji karya Udin yang dinilainya sangat bagus sekali.
”Wah, iya sangat bagus sekali!” Seru Wulandari turut memuji sambil mengamati karya patung belimbing yang dibuat Udin.
Ada lagi seorang anak yang tampak penasaran melihat patung belimbing dari dekat dan langsung berdecak kagum. ”Cek-cek, iya persis sekali seperti belimbing asli,” ujar Hardi penuh selidik tampak masih tak percaya.
”Kalian juga bisa membuat karya patung belimbing Udin seperti itu kalau kalian mau membuatnya dengan benar-benar serius dan sungguh-sungguh,” Pak Guru Darko kali ini terdengar memotivasi anak-anak.
”Bapak lihat Udin memang sangat berbakat dalam kesenian,” imbuh Pak Guru Darko kembali memuji.
Semakin Pak Guru Darko memuji, semakin membuat anak-anak penasaran dan satu per satu anak merangsek, ingin lebih mendekat lagi, bahkan sampai berebutan untuk melihat karya patung belimbing buatan Udin. Sehingga jadinya anak-anak terdengar ramai penuh kegaduhan.
Melihat suasana kelas jadi gaduh, Pak Guru Darko serta-merta memperingatkan, ”Sudah anak-anak, sudah, jangan gaduh, jangan berebutan begitu!”
Tampak anak-anak tidak menghiraukan peringatan, Pak Guru Darko kembali memperingatkan, kali ini dengan suara yang lebih tinggi, ”Ayo anak-anak kembali ke tempat duduk kalian masing-masing!”
Anak-anak terlihat semakin tidak menghiraukan peringatan sehingga membuat kelas semakin bertambah gaduh.
”Anak-anak!” Seru Pak Guru Darko seraya menggebrak-gebrak meja dengan penggaris kayu panjang.
Sontak anak-anak kembali ke tempat duduknya masing-masing.
”Dengar Bapak bicara apa tidak?!” Tanya Pak Guru Darko.
”Dengarrr Pak!” Jawab anak-anak serempak.
”Kembali Bapak katakan, kalian juga bisa membuat karya patung belimbing Udin seperti itu kalau kalian membuatnya dengan benar-benar serius dan sungguh-sungguh,” Pak Guru Darko kembali memotivasi.
Lebih lanjut, Pak Guru Darko menerangkan tentang Udin. ”Selama ini Bapak perhatikan Udin selalu serius dan sungguh-sungguh dalam mengerjakan PR yang Bapak berikan,” terangnya.
”Kalian juga bisa seperti Udin kalau kalian serius dan mau sungguh-sungguh mengerjakan PR, karya patung belimbing buatan Udin ini menjadi bukti keseriusan dan kesungguhan dalam mengerjakan PR,” Pak Guru Darko kembali lagi-lagi memuji.
”Bapak perhatikan Udin sangat berbakat dalam bidang kesenian,” imbuh Pak Guru Darko menyimpulkan.
”Udin juga pintar sekali meniup suling, Pak,” ucap Wulandari.
”Betulkah itu yang dikatakan Wulandari, Udin?” Pak Guru Darko langsung serta-merta mempertanyakan, kemudian menyarankan. ”Udin hebat, kalau bakat meniup sulingnya dikembangkan, pasti kalau besar nanti bisa ikut grup musik dangdut.”
Udin yang ditanya hanya senyum-senyum saja, tampak jadi tersipu-sipu malu. Lihatlah, wajahnya jadi memerah dan hidungnya besar kembang-kempis.
”Udin sangat pemalu, Pak,” sela Hardi, kemudian menerangkan, ”Udin hanya berani niup sulingnya di balik rimbun bambu belakang rumahnya, jadi mana bisa ikut grup musik dangdut, hah?!”
Sontak seluruh anak-anak sekelas jadi ketawa terbahak-bahak.
”Hardi jangan mengolok-olok teman sendiri.” Pak Guru Darko mengingatkan. ”Karena masih kecil wajar Udin masih malu.”
”Huuu!” seru anak-anak sekelas serempak mengarah ke Hardi.
Selama pelajaran kesenian berlangsung, hati Udin melambung di awang-uwung karena mendapat pujian dari Pak Guru Darko, Lebih melambung lagi hatinya, ia mendapat senyum dari Wulandari yang menjadi primadona di sekolahnya.
***
Selesai pelajaran kesenian langsung jam istirahat, Udin buru-buru membawa karya patung belimbingnya ke toilet. Beberapa anak yang tampak curiga mengikutinya, betapa sangat terkejut karena melihat Udin membasuh patung belimbingnya hingga kemudian tampak belimbing asli. Rupanya karya patung belimbingnya Udin terbuat dari belimbing asli yang kemudian hanya dilumuri lumpur.
”Wah ketahuan!” Seru Heru yang paling duluan berani memergokinya.
”Ssst,” Udin menyilangkan jari telunjuk di bibirnya memohon pengertian.
”Udin curang!” tuduh Hardi, anak yang terkenal suka usil di sekolahnya.
Udin tampak tak berkutik dituduh curang.
”Kalau menurut aku, Udin itu bukannya curang, tapi kreatif,” bela Wulandari tampak tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
”Curang ya curang, tidak ada kreatifnya,” Hardi bersikeras pada pendapatnya.
”Hardi, tahu tidak, kalau membuat sesuatu yang baru itu kreatif namanya,” Wulandari tampak tak mau kalah, kemudian menantang, ”Kalau tidak percaya, baca saja buku kamus!”
”Dasar Wulandari kutu buku, apa-apa serba nyuruh baca buku!” Sahut Hardi tampak bersungut-sungut.
”Biarin!” Wulandari menegaskan dan tampak cuek seraya mengempaskan rambut kepang duanya.
Hardi pergi dengan wajah tampak masih bersungut-sungut karena masih tidak terima pendapatnya disanggah, apalagi yang menyanggah adalah Wulandari, primadona sekolahnya, yang juga pintar berdebat jadi benar-benar tidak bisa disanggah.
Setelah Hardi pergi, Udin mengucapkan terima kasih pada Wulandari karena dirinya telah dibela.
”Sebenarnya, saya membuat karya patung belimbing dengan belimbing asli itu idenya mendadak,” ungkap Udin, kemudian lebih jauh menerangkan, ”Saya tidak punya banyak waktu untuk mengerjakan PR pelajaran kesenian karena saya terlalu banyak main di sungai. Pagi-pagi saat mau berangkat sekolah, saya baru ingat PR itu dan dengan spontan membuat karya patung belimbingnya dengan belimbing asli.”
Sejak kejadian itu, Udin mendapat nama panggilan khusus, yakni ”Udin Belimbing”. Sebuah panggilan khas untuk membedakan dengan nama Udin-Udin yang lain karena banyak sekali nama Udin di sekolah SD-nya Udin. Bahkan, banyak nama Udin sedunia.
Jatibogor, Suradadi, Tegal, 2022
***
*Akhmad Sekhu, penulis kelahiran Desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, 27 Mei 1971. Novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021). Kumpulan cerpennya: Semangat Orang-Orang Jempolan (siap terbit).
sumber : kompas.id, 10 Feb 2022.