Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Naq Gomboh Selalu Menunjukkan Wajah Kesakitan oleh Arianto Adipurwanto

Posted on Sab, 11 Jun 2022

Naq Gomboh disebut mati bermimpi. Meski tak seorang pun dapat memastikan apakah ia bermimpi sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Ketika Maq Boke, suaminya, terbangun pagi itu dan membangunkannya untuk meminta segelas kopi, Naq Gomboh sedikit pun tidak bergerak. Tubuh gempalnya terbaring di atas dipan, bergeming seperti batu kali. Kesal, Maq Boke melayangkan ancaman demi ancaman.

”Saya potong lehermu pakai parang ini!” teriak Maq Boke, seolah parang telah ada di tangannya.

Sumpah serapah Maq Boke berlanjut. Berloncatan dari mulutnya tanpa halangan. Ia sangat sering marah-marah seperti itu dan membuatnya menjadi sangat terlatih. Sering ia terpaksa menyalakan api di tungku dengan tangannya sendiri. Hal itu ia lakukan ketika Naq Gomboh sakit dan benar-benar tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Keadaan yang kemudian semakin sering berulang.

Setiap kali ada kesempatan, Naq Gomboh selalu mengabarkan kepada para warga aneka penyakit yang ia derita. Ia bercerita dengan penuh semangat dan kebanggaan seperti orang yang tengah memberitahukan kabar bahagia. Setiap bercerita ia akan menunjukkan wajah kesakitan meskipun kadang ketika ia tengah mengeluarkan kata-kata itu ia sedang tidak merasakan sakit apa pun. Tak seorang pun yang begitu menghayati penyakit seperti dirinya.

Para warga mengangguk-angguk, sangat bersepakat dengan aneka kesimpulan hidup yang berhasil Naq Gomboh petik selama menjalani masa-masa susahnya. ”Saya tahu bagaimana rasanya di posisi epe,” kata mereka. Tak cukup dikatakan satu orang, yang lain ikut pula mengulang apa yang telah dikatakan rekan mereka.

Rasa puas karena telah berhasil menarik simpati para warga memberi Naq Gomboh tenaga untuk menerima berbagai perlakuan buruk suaminya. Ancaman, kutukan, aneka perintah yang menurutnya hanya mampu dikerjakan laki-laki, sampai hinaan untuk seluruh nenek moyangnya.

Pernah orang-orang masih dapat membedakan kapan Naq Gomboh dalam keadaan sehat walafiat dan kapan ia sedang menderita sakit. Namun, beberapa tahun terakhir dalam hidupnya, ia selalu terlihat pucat, lesu, dan tertangkap basah tengah meringis kesakitan. Bahkan di dalam tidurnya ia sering berteriak-teriak dan dari kedalaman tidurnya terungkapkan hal-hal paling mengejutkan telinga.

Naq Gomboh menceritakan ulang sebuah peristiwa ketika ia diperebutkan oleh kedua orangtuanya di sungai. Peristiwa yang melemparkannya ke tangan perempuan tua miskin yang rela membesarkan anak yang tidak lahir dari rahimnya sendiri hanya untuk menghindarkan diri dari kesepian selama sisa-sisa hidupnya. Naq Gomboh mengungkapkan kembali kata-kata kasar yang ia lontarkan kepada seorang laki-laki yang mendesaknya ke semak-semak dan kemudian mengiriminya penyakit kulit yang tak kunjung minggat dari tubuhnya hanya lantaran ia tidak membiarkan selangkangannya membuka untuk laki-laki itu. Penyakit kulit yang membuatnya harus memakan daging aneka binatang; babi, trenggiling, dan juga seekor tokek gemuk hamil yang ditangkap susah payah seorang tetangga setelah Naq Gomboh menjanjikan sepiring ikan goreng sedaq minum tuak kepada laki-laki itu.

Ketika demam togel melanda hampir seluruh isi kampung, banyak yang mengendap-endap di dekat rumah Naq Gomboh dan mendengar baik-baik apa saja yang Naq Gomboh ungkapkan dalam tidurnya. Nama-nama orang yang ia sebut dihitung jumlah hurufnya dan kemudian dikupas kehidupan mereka satu-per satu. Angka-angka terangkai, diputar balik, bongkar pasang. Kala itu jeritan para warga yang tak kuasa menahan pahitnya kekalahan sering sekali terdengar, memutus tidur para warga.

Demam togel berlangsung cukup lama. Para warga sangat sering mendatangi rumah Naq Gomboh bahkan setelah puncak musim togel berlalu. Mereka membawa tuak dan aneka lauk-pauk. Meskipun sangat banyak uang mereka melayang, tak sekali pun mereka menyalahkan Naq Gomboh. Setelah angka-angka keluar, mereka mengutuk dan mengumpat diri mereka sendiri membabi buta karena menganggap diri merekalah yang tidak kuasa menerjemahkan maksud mimpi Naq Gomboh.

Sesungguhnya para warga tidak selalu kalah. Satu dua dari mereka berhasil memperoleh kemenangan. Namun, uang kemenangan itu dengan cepat habis untuk membeli angka-angka baru yang mereka yakini akan tembus. Maq Boke yang semula tidak percaya pada kata-kata Naq Gomboh ikut juga sekali dua kali sebelum kemudian ia kehabisan sedikit harta benda yang ia punya. Radio, tindik Naq Gomboh, jeriken, dan terakhir daun pintu rumah mereka. Tindakan menjual daun pintu itu membuat rumah mereka selalu terbuka, dan anjing-anjing serta ayam kemudian aneka makhluk-makhluk yang telah lama tidak muncul bebas keluar masuk rumahnya.

Salah seorang dukun yang didatangkan untuk mengobati sakit kepala Naq Gomboh suatu hari berkata, ”Pintu ini mengundang penyakit!” Dengan mulut menguarkan bau tuak sang dukun menceritakan berbagai hal yang membuat para warga terkejut. Kata sang dukun, persis di kebun depan rumah Naq Gomboh melintas jalan, hanya beberapa jengkal di atas tanah. Jalan itu lebar dan ramai. Jalan raya para makhluk halus. Dan ketika sang dukun berkata seperti itu tiba-tiba tangannya menunjuk, “Itu, rombongan dari Gunung Rinjani!”

Para warga kemudian sering mendengar suara berisik dari tempat itu seolah telinga mereka telah diizinkan untuk mendengarkan apa yang tadinya tertutup bagi mereka. Suara mendengung, meraung, suara pesawat, suara sepeda motor, suara gendang, keroncong sapi, suara gemerincing uang logam. Sering sekali para warga yang datang ke rumah Naq Gomboh tersandung dan tersungkur jatuh dan ketika melihat ke tanah tak ada apa-apa yang membuat kaki mereka tersandung.

“Ada kucing di situ, bisa memanjang. Lebih panjang dari pohon kelapa!” kata seorang perempuan tua suatu hari. “Dia yang buat kita tersandung!”

Sejak kedatangan sang dukun, Naq Gomboh semakin sering berada di tempat tidur. Tubuhnya membesar oleh penyakit. Rintihan dan sumpah-serapah memberondong keluar dari mulutnya. Maq Boke sering mengumpatnya habis-habisan dan mendoakan ia cepat mati. Sepanjang malam Lelenggo gaduh oleh perkelahian mereka.

Naq Gomboh semakin sakit dan Maq Boke semakin ingin menyingkirkannya dari dunia.

Perkelahian-perkelahian ini menjauhkan orang-orang yang mencari nomor togel dan bersama satu-satunya warga yang pernah merasakan kemenangan besar, mereka memburu makam-makam keramat, meminta angka yang membuat mereka dapat menyingkirkan seluruh kesusahan hidup yang mereka alami. Setiap bangun pagi dengan tubuh terasa akan demam karena deraan angin malam, mereka yang tidak mendapatkan apa-apa dalam tidur mereka langsung sibuk mencari-cari tempat lain yang lebih keramat dan menjanjikan.

Satu dua orang mengaku mendengar bisikan dalam mimpi mereka untuk tidur di kebun persis depan rumah Naq Gomboh. Dari cerita mereka para warga benar-benar yakin di tempat itu melintang jalan raya yang tidak pernah sepi. Bahkan para warga dapat mendengar denting-denting senjata dan tidak ragu lagi perkelahian hebat tengah berlangsung. Para pemabuk yang sering lewat di tempat itu mengaku sering melihat orang-orang yang telah mati tengah duduk mencangkung, menyangkul, berjalan hilir mudik, dan melakukan apa pun yang mereka sukai selama masih di dunia. Pagi hari ketika Naq Gomboh diketahui telah terbujur kaku di dipan tempat tidurnya, seorang pemabuk yang berjalan sempoyongan dari rumah seorang warga mengaku bertemu dengan perempuan itu.

“Tadi di depan dia berdiri suruh saya mampir!” kata pemabuk itu. Maq Boke tengah berdiri dekat dipan, telunjuknya menuding-nuding ke udara. Beberapa warga berdiri di dekatnya dan berusaha melihat apa yang sesungguhnya telah terjadi. Sebagian warga yang tidak bisa masuk harus puas menunggu di halaman. Tadi para warga itu berduyun-duyun datang karena mendengar suara keras mengkarak-karak Maq Boke dan mendengar ia mengancam akan memotong leher Naq Gomboh.

Maq Boke benar-benar tidak terkendalikan. Ia merasa telah dihina oleh Naq Gomboh yang tidak kunjung bangun membuatkan kopi untuknya. Baginya, Naq Gomboh telah sangat sering menolak permintaannya. Dua hari terakhir Naq Gomboh begitu sehat, tubuhnya menjadi ringan, dan segala sesuatu di rumahnya dibersihkan. Ia seperti tengah menyiapkan kedatangan tamu paling terhormat. Tiga kali sehari ia pergi ke sungai dan pulang menguarkan aroma harum sabun mandi. Ia bahkan berkali-kali berkata kepada dirinya sendiri betapa ia ingin makan daging ayam kuah kuning dengan racikan daun kedondong.

Satu dua orang mengaku mendengar bisikan dalam mimpi mereka untuk tidur di kebun persis depan rumah Naq Gomboh. Dari cerita mereka para warga benar-benar yakin di tempat itu melintang jalan raya yang tidak pernah sepi. Bahkan para warga dapat mendengar denting-denting senjata dan tidak ragu lagi perkelahian hebat tengah berlangsung.

Semua itu membuat Maq Boke yakin seluruh penyakit telah terangkat dari tubuh Naq Gomboh. Karena itu, ia berpikir Naq Gomboh harus bangkit dari tidurnya dan memenuhi permintaannya. Namun, apa pun yang ia katakan, Naq Gomboh tetap tidak bergerak. Sedikit pun tidak berupaya untuk memenuhi permintaannya. Ancaman-ancaman yang ia lontarkan pun tidak membuat Naq Gomboh bangun. Geram, ia keluar mengambil parang yang baru sehari sebelumnya ia asah. Ia teriak-teriak memaksa Naq Gomboh bangkit, tetapi kata-kata lantang-serak itu tidak berpengaruh apa-apa. Maq Boke menetak keras tiang rumahnya dan tetap tidak ada yang berubah. Ia berteriak-teriak masuk mengancam akan memotong leher Naq Gomboh.

Para warga yang takut Maq Boke benar-benar melaksanakan kata-katanya langsung berusaha menghentikannya. Sebagian berusaha membangunkan Naq Gomboh dan memintanya berlari menyelamatkan diri. Begitulah mereka mengetahui Naq Gomboh benar-benar telah tiada. ”Kemarin dia ke sungai, segar-bugar,” kata salah seorang warga. ”Dia mati bermimpi pasti,” tambah yang lain.

Maq Boke masih tidak percaya ketika para warga telah menyelimuti tubuh gempal Naq Gomboh dengan selembar kain apak yang didapatkan dari jemuran yang melintang dari satu tiang ke tiang lain di dalam rumah itu. Ia masih tetap tidak percaya bahkan ketika beberapa jam kemudian tubuh Naq Gomboh diusung ke sudut kampung untuk dikuburkan. Tengah malam ia terdengar melengking nyaring dan menetak-netakkan parangnya. Sementara dari kebun depan rumahnya terdengar suara riuh rendah seperti teriakan para warga yang bersorak-sorai menyemangati dua ayam yang tengah bertarung dengan taji terikat kuat di kaki mereka.*

2 Desember 2020

Biodata:

Arianto Adipurwanto lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 November 1993. Kumpulan cerpennya berjudul Bugiali (Pustaka Jaya, 2018) masuk lima besar prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2019.

sumber : kompas.id, 11 Jun 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme