Dalam beberapa bulan, ditemukan orang-orang mati di dalam karung. Dua di antaranya adalah temannya. Kabar itu membuatnya memutuskan tak keluar rumah. Saat itu bulan Juli 1983, suhu malam hanya delapan belas derajat. Jaket dan sarung terasa atis menembus kulit. Merasa tak tahan dengan udara dingin, dan hanya meringkuk beku di kursi, Baron berdiri dan berniat membuat kopi di dapur untuk menghangatkan tubuhnya. Setelah menunggu seperempat jam yang beku, akhirnya dia mendapatkan kopi panasnya dan membawanya ke ruang tamu dengan langkah waspada. Meletakkan secara hati-hati di atas meja persegi dan kembali duduk meringkuk di atas kursi. Malam itu masih sekitar pukul tujuh malam, tak ada kabut di luar, tapi sepenuhnya kabut itu berada di hati dan pikirannya.
“Apakah mereka juga menyasarku?” Dia bicara pelan, ragu di antara letupan nafasnya yang pecah dan dingin.
Tubuhnya beringsut, dan tangannya membenahi kain sarungnya. Jantungnya berdebar. Ia merapatkan kain sarung dan jaket secara bersamaan, mengambil nafas melalui hidung dan sekaligus mulutnya. Tapi, segera setelah dua menit, dia membongkar balutan kain sarungnya untuk meminum kopinya. Tangannya merasakan perubahan yang cepat pada permukaan gelas kopinya. Suhunya mungkin turun sekitar dua derajat sejak air mendidih itu dituangkan. Tapi air kopi itu masih cukup mampu membuat mulutnya hangat. Setelah itu dia mengambil satu batang rokok kreteknya dan membakarnya dengan keratan merk Kereta Api. Matanya menangkap cahaya api, dan jarinya gemetaran oleh rasa dingin dan kekhawatiran.
“Mereka kejam sekali,” gumannya.
Baron mengomentari itu, seolah melupakan beberapa peristiwa kejam yang pernah dilakukannya. Matanya menerawang setelah menghisap rokoknya, dan melupakan kopinya yang semakin dingin. Pikirannya masih di antara para pembunuh itu, dan teman-temannya yang mati di dalam karung. Pikiran itu, membuat seluruh sendinya lemas. Ada perasaan menyumpal dalam rongga dada yang membuatnya sesak. Setelah meminum kopinya sekali lagi, dia berjinjit menuju jendela, melihat keadaan luar – lalu masuk ke kamarnya setelah hanya melihat ketegangan batang sawo di halaman. Dengan sedikit membungkuk, dia meraih peti persegi warna hitam. Menariknya keluar dari bawah ranjang yang diikuti suara derit, dan membukanya. Tangan kanannya mengeluarkan pedang pendek yang terbungkus kain hitam. Ia juga mengambil sepucuk revolver Type 26.
Sembari duduk bersandar pada ranjang, matanya mengamati dua jenis senjata yang ia letakkan di atas lantai. Dua senjata itu dia dapatkan setelah aksi perampokan pertamanya berhasil beberapa tahun lalu. Dia membelinya dari seseorang di Lampung. Dia suka dengan pedang pendek itu. Ada sesuatu yang memancar kuat dari besi tuanya.
“Dulu ini milik Samurai, seorang kapten yang mati karena Seppuku,” kata orang itu.
“Apa itu?”
“Iya pokoknya bunuh diri.” Pria itu menolak menjelaskan.
“Pistol ini?”
“Itu juga punya kapten itu.”
“Wah, senjata para ksatria yang diwariskan pada kriminal.”
“Salah,” kata pria itu, “mereka juga kriminal.”
“Tapi mereka punya tujuan dan harga diri,” tambahnya.
Baron tertawa.
“Jadikan jimatmu,” saran pria itu.
Dua benda itu selalu dalam peti itu. Sebagai jimat. Dia lebih suka seperti itu daripada menggunakannya. Kadang dia memang sengaja memamerkannya pada teman-temannya dengan cara melap-lapnya hingga mengkilat. Bukan sebagai benda pusaka, tapi sengaja untuk membuat mereka takut dan menghormatinya. Tapi, sebenarnya bukan semata karena dua senjata itu mereka takut. Mereka paham siapa dirinya. Tak banyak ‘gali’ segila dirinya.
Cukup lama matanya menatap nanar pada dua senjata itu. Membiarkannya tetap tergeletak di atas lantai. Dia memikirkan perlawanan bila mereka datang. Tapi hatinya bimbang. Tak yakin mampu menggunakannya. Matanya suram. Kesal karena tiba-tiba menjadi lemah oleh bayangan para pembunuh misterius itu. Mereka lebih menakutkannya dari yang dipikirkannya. Lalu dia menghela nafasnya bersamaan bunyi tokek yang membuatnya kaget.
“Sshh…diam!” Suaranya mendesis marah. Matanya menatap ke arah atap. Suara binatang itu putus, tapi berlanjut seperti tak peduli.
“Tok-Tok-Tok-ek..”
Baron bangkit dan berbaring di atas ranjang dengan kepala pusing dan perut mual. Otaknya terus menerka apa yang bakal terjadi padanya. Apakah aku bisa selamat? dia bertanya dalam kebimbangannya. Ruangan berdenging dalam cahaya kuning yang samar. Ruangan dikurung suara serangga. Dua cicak jatuh dari atap.
Tap! Kaki Baron terangkat dengan sentakan kaget.
Beberapa bulan lalu dia sudah mendengar kabar pembantain itu. Saat itu, dia tengah minum kopi di warung depan terminal. Semua orang di sana memberi komentar tentang penembak misterius. Gombloh, pemilik warung bahkan memberinya peringatan.
“Jangan-jangan sampai di kota ini, Ron,” Katanya sambil menatapnya. “Lebih baik hati-hati.” Suara Gombloh itu membuat semua pelanggan menatapnya . Tapi dia tak begitu peduli.
Pulang dari warung, teman-temanya juga membicarakan hal yang sama. Tapi saat itu dia merasa bahwa semua itu hanyalah berita yang berjarak. Tak ada yang membuatnya merasa harus melakukan sesuatu. Tapi, setelah dua temannya menjadi korban di luar kota, Baron baru sadar bahwa semua itu bukan bualan, dan itu membuatnya cemas sepanjang waktu. Dalam beberapa hari, sejak kematian dua temannya dia memutuskan tak keluar rumah. Mencoba mencari aman. Tapi bayangan kematian itu menghantuinya, dan membuatnya mual. Tiba-tiba otaknya membayangkan alam kubur. Sebuah dunia yang asing dan tak pasti. Itu benar-benar membuatnya ketakutan.
“Ya Tuhan.”
Udara semakin dingin, tapi tubuh Baron hangat oleh rasa cemasnya. Matanya menatap lekat kayu-kayu atap yang coklat dan suram. Telapak tangannya ketas. Setiap tubuhnya bergerak, suara ranjangnya menjerit dan membuat hatinya seperti terjepit. Ia mulai menyesal dan memikirkan kesalahannya meremehkan informasi sejak awal. Baron mulai memikirkan keharusannya yang telah lewat. Seharusnya ketika Gombloh memberinya peringatan, harusnya dia memikirkan matang-matang untuk bisa menghindar. Pikirannya semakin acak dan tak mampu fokus. Tapi kemudian dia mencoba melihat kesempatannya bisa selamat.
Di saat mulai merenungkan keadaannya, dia membayangkan kedua orangtuanya sebagai suatu kesempatan. Mungkin bila pulang, dia bisa memperbaiki hubungan. Lagipula sudah lima tahun dia tak pulang ke rumah orangtuanya. Dia anak satu-satunya. Mereka pasti bisa menerima keadaannya, terutama ibunya. Ibunya pasti bisa melindunginya. Ibunya pasti bisa membuatnya selamat. Pikiran itu membuatnya tersentak dan bangun dari ranjang.
“Aku harusnya bertobat dan bersujud di kaki ibu.” Suaranya lirih mengeluh, agak serak.
Ketika tengah memikirkan itu, bayangan kematian tiba-tiba kembali menelusup dan membuatnya kehilangan daya hidup. Setelah menyebut ibunya dalam gumanan yang berat, dia mencoba melawan bayangan mengerikan itu. Lalu dia ingat ayahnya dulu bicara pada temannya.
“Tak ada yang bisa mempercepat atau melambatkan kematian. Semua sudah ada waktunya masing-masing.”
Ingatan itu membuatnya sedikit lega. Rasanya seperti diberkati. Ayahnya mungkin benar. Dua temannya mati, tapi lainnya masih hidup. Pikiran itu membuatnya lebih tenang, meskipun tubuhnya masih merasakan lemas. Dia menghela nafasnya dalam-dalam, kemudian bangkit. Dengan dua tangannya dia membawa dua senjatanya ke ruang tamu. Meletakkannya di atas meja, dan tangannya meraih gelas kopinya yang dingin. Meneguk kopinya sekali.
Ketika pukul sembilan malam lebih sepuluh, tiba-tiba dia merasakan tubuhnya melemah lagi. Pikirannya kembali diserang oleh kecemasan apakah dirinya termasuk target. Sejauh ini, tak sekalipun dirinya masuk penjara. Itu karena teman-temannya adalah orang-orang yang setia. Mereka tak pernah membawa nama teman-temannya ketika ditangkap. Kedua temannya yang mati, mungkin masuk daftar karena mereka pernah masuk penjara. Jadi wajar saja bila mereka masuk daftar target. Dengan gelisah dia menyimpulkan itu. Dalam ketidakpastiannya, dia merokok lagi untuk meredakan badai di otaknya. Ruangan menjadi berasap putih dan beraroma kretek. Udara samar, dan matanya menatap pintu kayu yang tegang.
Di saat itu dia mulai menimbang untuk pulang ke rumah orangtuanya, sebelum kemudian mencari tempat aman. Pulang dan menyatakan tobat terlebih dahulu pada kedua orangtuanya. Itu paling penting. Tapi dia ragu sendiri, apakah itu bisa menjadi jalan keluar. Dia tertawa muram dan geram. Dipukulnya bantalan kursi yang menyembul di antara selangkangannya. Matanya tak berkedip. Tubuhnya tegak, mencoba mengerahkan dirinya. Lalu tangannya meraih pistol dan meletakkan mocongnya ke jidatnya. Bunuh diri seperti samurai itu mungkin lebih baik, pikirnya.
“Ah, bertobat-bertobat…” Mulutnya tiba-tiba mengucapkan itu sembari menurunkan pistolnya. Tapi, bersamaan dengan itu, tubuhnya tersentak ketika tiba-tiba terdengar suara berisik di luar. Jantungnya seolah berhenti, sebelum akhirnya berdetak lagi, dan dia bisa menguasai dirinya. Dengan waspada dia bangkit berjinjit, mencoba melihat apa yang terjadi di luar melalui jendela. Hatinya lega ketika matanya hanya melihat dua ekor anjing berkeliaran di luar. Beberapa kendaraan masih juga terlihat di jalanan dalam cahaya kuning samar. Angin dingin berdesir melewati lubang ventilasi.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja di luar, Baron bergegas masuk ke kamarnya mengambil jaket dan selempang. Dia juga mengemasi senjatanya. Memasukkan pedang ke dalam tas, dan menyelipkan pistol di pinggangnya untuk berjaga. Tapi dia ragu. Berdiri kaku sembari memikirkan tentang pertobatan yang bersih di hadapan orangtuanya. Tak baik membawa senjata di hadapan mereka, pikirnya. Akhirnya dia mengurungkan niatnya membawa senjata. Setelah menyimpannya kembali, melalui pintu sebelah, Baron mengeluarkan motornya dan memarkirnya di depan pintu gerbang.
Usai mengunci semua pintu rumah, dia menuntun perlahan motornya keluar pagar. Sebelum berangkat matanya menatap arlojinya yang menunjukkan pukul sebelas lima belas malam. Dia menghitung waktu. Setidaknya dia akan sampai ke rumah orangtuanya sebelum subuh. Semua akan baik-baik saja setelah sampai. Pikiran itu sedikit membuatnya merasa lega. Malam berdengung, dan udara basah merambat ke kulit. Kakinya menyelah pedal motor ketika sebuah Jeep datang dari arah belakang. Berhenti tepat satu meter di sampingnya. Lalu, tiga orang tegap terlihat turun dengan gerakan tergesa. Satu di antaranya berseru memanggilnya, “Baron!” Ia menoleh kaget. Lalu, Door! []
Ranang Aji SP menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karyanya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Dalang Publishing LLC USA menerjemahkan dua cerpennya ke dalam bahasa Inggris. Menjadi nominator dalam Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Buku Kumcernya Mitoni Terakhir diterbitkan penerbit Nyala (2021).
sumber : kompas.id, 20 Okt 2022.