Pada malam yang begitu panjang terjadilah kesepakatan antara Mawut, Dolar dan Binar. Mereka akan pergi ke sebuah lembah untuk memancing. Mereka sangat yakin mancing di saat bulan purnama akan mendapatkan ikan yang banyak dan besar-besar. Berangkatlah mereka dengan membawa perlengkapan seperti lampu senter, umpan cacing dan kopi lima saset. Tiba di lembah itu mereka terkejut sebab airnya warna-warani. Ikan warna silver dan emas berlompatan ke sana-kemari tanpa beban. Bukan cuma itu, ada delapan bidadari main air beserta empat laki-laki pengawalnya.
Mereka mengintip dari balik pohon besar. Mawut sebenarnya takut sebab ada mitos bahwa lembah ini keramat namun Dolar dan Binar menganggap ini seperti di negeri dogeng di mana kehidupan bisa terjadi atas dasar cinta dan kasih sayang. Mawut tetap ingin pulang tidak ingin mancing di lembah yang menurutnya keramat ini. Tidak sengaja dia menginjak ranting pohon yang mengakibatkan dua burung beterbangan. Sontak mereka ketahuan lalu pengawal itu mendekat kepadanya. Mawut lari namun sejauh kaki melangkah tetap sampai di tempat ini. Pengawal bilang untuk jangan takut, di lembah ini tidak ada kejahatan bahwa di balik air terjun ini ada sebuah negeri yang damai sentosa. Tidak sembarang orang bisa masuk hanya orang pilihan saja. Mawut, Dolar dan Binar adalah orang pilihan yang dikirim oleh takdir untuk bisa jalan-jalan ke negeri ini. Orang sini menyebutnya Negeri Bulan Terang karena kehidupan berdasarkan atas cinta dan kasih sayang.
“Marilah mendekat akan kuantar kalian ke negeri kami.”
“Tidak! Aku mau pulang,” kata Mawut
“Kalian telah dikirim ke sini tidak bisa pulang begitu saja.”
“Berapa hari kami harus di negerimu?” tanya Binar
“Cobalah tiga hari saja kalau ketagihan kami tidak tanggung jawab.”
“Lalu keluarga kami bagaimana?” tanya Dolar
“Tiga hari di negeri kami itu berarti sehari di negeri kalian.”
“Ok gaslah, anggap ini study banding seperti DPR saja,” kata Binar.
Sampailah mereka di pintu gerbang Negeri Bulan Terang, betapa terkejutnya mereka melihat alam yang hijau dan air laut tenang. Ada buah apel di sepanjang jalan dan ada buah-buahan bergizi lainnya yang tumbuh liar. Selama berada di Negeri Bulan Terang mereka akan ditemani satu pemandu yang tidak mau disebutkan namanya. Mereka bertanya kenapa tumbuhan yang bernilai ekonomis tinggi begini tidak dicuri atau diambil oleh seseorang. Kata pemandunya, rakyat di sini sibuk merayakan cinta ketimbang mencuri buah-buahan. Penduduk di sini ramah-ramah, tidak diskriminasi apalagi main hakim sendiri.
Sambil jalan ke istana negara mereka dijelaskan pembagian wilayahnya. Negeri Bulan Terang dibagi menjadi tiga bagian yakni tengah, timur dan barat. Undang-undang dasarnya atas kemanusiaan yang berlandaskan cinta dan kasih sayang. Sehingga setiap penduduk tidak akan bertanya apa agamamu untuk saling tolong-menolong. Memang secara geografis kami tidak tercatat di peta Bumi, namun itu bukan masalah sebab pengakuan atas dasar cinta dan kasih sayang telah kami lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Lihatlah rakyat yang sedari tadi kita lewati rumahnya apa ada yang murung, bersedih atau bingung untuk mencari uang. Kita pastikan itu tidak ada, sebab alam telah memberikan kami hasil panen yang melimpah sehingga untuk urusan dapur pemerintah yang menanggungnya. Rakyat kami hanya fokus merayakan cinta setiap hari.
Baca juga:
Malam Pertobatan
Kemarilah sebentar lagi kita sampai di istana negara. Jangan kaget banyak orang di sana karena memang istana dibuka untuk umum sebab angka kriminalitas di negeri kami nol persen. Jangan tersinggung kami tidak bermaksud pamer ke negerimu anggap saja ini seperti studi banding yang kamu bilang tadi. Rutan di sini sepi tidak ada seorang pun berminat menjadi penghuninya sehingga kerjaan sipir berkebun. Jangan heran juga dari rutan-rutan inilah bisa membantu kebutuhan pokok masyarakat. Ada yang bilang rutan rasa kebun, sipir berkedok petani dan sebagainya. Itu tidak masalah bagi kami yang penting bernegara tidak membosankan di negeri kami ini.
“Lalu bagaimana bernegara di negeri kalian?”
“Waduh, aku tidak mengerti urusan bernegara, kami bertiga hanya petani biasa,” jawab Mawut.
“Aku punya beberapa petak sawah yang harus diberi pupuk tetapi pupuknya mahal. Selain jalan-jalan ke negerimu bolehkah aku membeli pupuk di sini siapa tahu lebih murah,” kata Dolar.
“Pupuk di sini tidak diperjualbelikan, lagian di sini hanya menggunakan kotoran ayam saja tidak ada campuran bahan lainnya lagi.”
“Pakai kotoran ayam tetapi bisa tumbuh subur gini ya, atau mungkin ada sihir dan mantra-mantra gitu?” tanya Mawut.
“Tidak ada sama sekali, mungkin karena kami senang dan ikhlas menanamnya sehingga tumbuhan juga ikhlas berbuah.”
“Benar juga sih, apa karena di negeri kita terlalu komersil dan banyak ambisinya ya?” tanya Binar
“Lah, itu penting biar punya uang dan bisa beli beras,” kata Dolar.
“Bukankah kalian petani kenapa beli beras lagi?”
“Hasil panen kami jual untuk kebutuhan lainnya seperti biaya sekolah anak, bbm yang sudah naik dan kebutuhan dapur,” kata Mawut.
“Negeri kalian lucu sekali, petani harus membeli berasnya lagi.”
“Ya begitulah keadaannya,” kata Dolar.
Baca juga: Sepeda Tua Ayah
Kita lanjutkan obrolan tentang negeri kalian nanti lagi, sekarang kita sudah sampai di istana negara. Sebelah barat terdiri dari halaman samping yang dipakai untuk menikmati sore terbenam. Presiden suka ngopi sambil ngobrol dengan para menterinya. Obrolannya yang ringan-ringan saja misal tentang kopi yang mereka minum berasal dari petani kopi di wilayah timur dan gulanya berasal dari wilayah barat dan diminum di wilayah tengah dengan banyak rasa syukur. Kami punya budaya menyaksikan sore terbenam dari tempatnya masing-masing. Kalian lihat saja di teras-teras rumah warga menggelar tikar lalu mengobrol dengan pasangannya diiringi kilauan sore yang hampir terbenam. Indah dan romantis bukan! Semua ini tidak mungkin terjadi jika dalam suatu peradaban sibuk bertengkar, caci-maki, menghakimi dan memenuhi tuntutan hidup.
Di negeri kami juga ada budaya pejabat jarang menyebut frasa demi bangsa dan negara itu sakral, salah-salah rakyat tidak percaya lagi kepada pemerintah. Pejabat di sini lebih kepada memberi tindakan dulu baru berbicara tentang apa saja yang sudah dilakukan. Ini penting bagi kami sebab kepercayaan inti dari bernegara yang aman sentosa. Lanjut ke halaman belakang istana ada dua lapangan sepak bola. Siapa saja boleh bermain di sini sebab kami yakin sepak bola dapat mempersatukan bangsa. Dari ujung barat hingga ke timur suka bermain bola pada masing-masing wilayah sudah difasilitasi lapangan yang baik. Di lapangan-lapangan itulah timbul percikan-percikan sportivitas yang dibawa hingga ke kehidupan yang sebenarnya.
Hari terakhir berada di Negeri Bulan Terang mereka bertiga sudah nyaman sekali. Di sini mereka tidak memikirkan duniawi yang selalu tentang pencapaian. Seperti kata pemandu sebelumnya bahwa setelah tiga hari di sini kalau nyaman itu bukan tanggung negeri ini. Hari terakhir diajaklah mereka ke puncak di wilayah barat. Betapa indah dan damainya seperti di negeri dongeng. Stroberi, melon, semangka, sayur dan paprika ada disepanjang jalan. Tidak ada ambisi dan kapitalisme, siapa yang ingin boleh meminta tanpa membayar. Dari sini kelihatan istana negara seperti rumah semua manusia. Oleh karenya musisi tidak kekurangan inspirasi membuat lagu tentang gunung, laut, danau dan kebhinekaan. Begitu menawan dan dihargainya kemanusian di sini. Mereka tidak peduli peradaban jika lupa menghargai dan mengasihi. Negeri ini membuat Mawut, Dolar dan Binar semakin betah sampai Mawut hampir termakan omongannya sendiri ingin menetap selamanya di negeri ini.
Pemandu bilang tidak sembarang orang yang bisa menetap di sini harus punya visa dan passpor yang dipenuhi perasaan cinta dan kasih sayang. Jika ada ambisi dan niat yang buruk maka mereka tidak akan pernah melihat pintu gerbang di balik air terjun. Pemandu berpesan kepada Mawut, Dolar dan Binar untuk terus menjadi orang baik. Jangan pernah mau mencederai nurani jika memang suatu saat nanti ingin menetap di sini lagi. Ajak keluarga sekalian tidak apa-apa namun diberitahu bahwa negeri ini bukan negeri ambisi. Pencapaian atas duniawi tidak berarti apa-apa jika lupa merayakan cinta dan kasih sayang. Perbatasan di sini sangat dijaga ketat tidak pernah ada seorangpun berhasil masuk dengan illegal.
Pemandu mengatakan ada satu pantangan di sini yakni jangan pernah ke perbatasan utara. Pemandu menunjuk kearah di balik gunung. Di sana perbatasan antara Negeri Bulan Mati dengan Negeri Bulan Terang. Tentara kami bersiap 24 jam menjaganya memastikan tidak konfrontasi. Di negeri itu kehidupan sangat tandus akibat penguasa yang tidak menghargai sore, mencederai nurani dan ambisi merajalela.
Jangan sampai masuk ke sana, sekali masuk tidak akan bisa keluar lagi. Pasti kalian akan menjadi budak hawa nafsu, saling mencaci-maki, mengklaim kebenaran dan ngomongnya selalu demi bangsa dan negara. Kebenaran dimanipulasi sehingga populasi menjadi alat propaganda penguasa. Intinya kalian bertiga jangan mau diiming-imingi apapun oleh mereka. Sudah terbukti banyak penyesalan di antara rumah-rumah yang tidak layak itu. Mereka bekerja bukan dengan hati sehingga kemuakan, rasa bosan dan frustrasi menyelimuti dirinya. Negeri Bulan Mati terlalu mengejar peradaban lupa kemanusiaan. Selalu menebar citra baik ke publik tetapi bermain dua kaki di lain pihak. Di sana penjara penuh, kriminalitas tinggi dan ego ada di mana-mana.
Pemandu mengatakan ada satu pantangan di sini yakni jangan pernah ke perbatasan utara. Pemandu menunjuk kearah di balik gunung. Di sana perbatasan antara Negeri Bulan Mati dengan Negeri Bulan Terang. Tentara kami bersiap 24 jam menjaganya memastikan tidak konfrontasi. Di negeri itu kehidupan sangat tandus akibat penguasa yang tidak menghargai sore, mencederai nurani dan ambisi merajalela.
Hari ini ini Dolar, Mawut dan Binar diantar pulang. Pemandu menyampaikan salam dari presiden yang tidak bisa menemui mereka sebab masih ada kunjungan kerja ke timur. Presiden sedang menikmati kemah dengan masyarakat di sana lalu menikmati pagi dan sore tanpa terburu-buru. Sampailah mereka di gerbang lembah itu secara otomatis air memberi jalan untuk mereka menginjakkan kaki di bumi pertiwi lagi. Mudah-mudahan studi banding yang tanpa anggaran negara ini menjadi pedoman hidup minimal bagi mereka bertiga. Bahwa petani pun berhak hidup senang dan bergembira di tanah kelahirannya sendiri. Lambaian tangan Mawut beserta dua temannya mengiringi perpisahannya dengan pemandu itu. Lalu air terjun menutup pintu gerbang Negeri Bulan Terang hilang tak berbekas seperti ruang dan waktu maya.
Sampailah ketiga petani ini di rumahnya masing-masing dengan perasaan yang gembira. Walaupun tidak membawa ikan untuk digoreng namun mereka membawa perspektif baru ke ruang tamu agar bisa menjalani hidup ini dengan suka cita. Mereka ceritakan tentang Negeri Bulan Terang, awalnya dibilang halu namun setelah melihat perilaku suaminya berubah mereka percaya. Setiap pagi bersyukur lalu ketika sore sedang cantik-cantiknya mengajak anak dan istri untuk mengobrol kesana-kemari yang membuat cinta semakin hangat. Melupakan sejenak tentang duniawi sebab ingin merayakan cinta sebagaimana mereka pacaran dulu. Hal-hal sederhana inilah yang membuat keluarga mereka bisa berdamai dengan diri sendiri dan keadaan.
Bahkan melupakan mimpi untuk bisa jalan-jalan ke Eropa seperti Paris dan sekitarnya karena lebih tertarik mengunjungi Negeri Bulan Terang yang damai sentosa. Mudah-mudahan suatu saat nanti mereka sekeluarga bisa berkunjung ke Negeri Bulan Terang atau minimal bisa melihat pintu gerbang menuju ke sana dulu. Syaratnya tidak main-main bahwa harus memastikan diri penuh cinta dan kasih sayang sehingga visa dan paspor bisa didapatkan.
***
I Wayan Kertayasa, pengajar literasi di Yayasan Was. Saat ini, penulis tinggal di Banjar Kedungu, Taro, Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Novel yang sudah diterbitkan Romansa Lagu (2020) dan antologi puisi Semoga Aku Sampai (2021).
sumber : kompas.id, 22 Okt 2022.