Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lelaki dan Nyamuk oleh Aris Kurniawan

Posted on Kam, 22 Jun 2023

Malam itu dia sibuk sekali menepuki nyamuk yang berdenging ganas menggigiti tubuhnya. Rencananya tidur lebih cepat berantakan tanpa ampun. Gigitan nyamuk tak hanya bikin gatal dan bentol-bentol tapi juga rasa panas menyengat pada kulit lelaki itu. Beberapa ekor mati dia tepuk, tetapi puluhan teman-temannya datang menggantikan lebih banyak lagi, seperti pasukan berani mati. Mereka bersuka ria dalam pesta menyesap darah. Di kuping lelaki itu nyamuk-nyamuk tertawa-tawa melihatnya sibuk menepuk ke sana kemari seperti sedang menari dengan gerak acak.

Dari manakah datangnya nyamuk-nyamuk sialan ini? Dari got-got yang mampat? Dari baju-baju kotor yang bergelantungan di balik pintu? Tapi tak ada got mampet di sekitar rumahnya. Tak ada baju-baju kotor di balik pintu. Dia tak pernah menggantung baju kotor di balik pintu. Baju-baju yang sudah dipakai tapi belum terlalu kotor dan masih bisa dipakai lagi dia gantung dan masukkan dalam lemari yang pintunya dia tutup rapat. Sedangkan pakaian yang sudah kotor segera dia masukkan ke mesin cuci.

Lantai rumah pun selalu bersih dia sapu dan pel dua kali sehari sehingga kesat dan terasa nyaman di telapak kaki. Setiap sudut rumah yang dapat menjadi sarang nyamuk juga tak pernah alpa dia bersihkan. Sapu, lap, dan kemoceng merupakan peralatan penting yang selalu tersedia di rumahnya. Tak ada ramat, atau sarang laba-laba. Di semua pojok tersembunyi dia semprot dengan pengharum rasa jeruk yang tak disukai nyamuk dan serangga lainnya. Piring, sendok, asbak, dan tetek bengek peralatan masak dan makan segera dia cuci sehabis dipakai dan ditiriskan di rak yang dia masukkan dalam laci-laci dapur yang juga bersih mengkilap.

Dia tak mempunyai banyak barang yang memungkinkan jadi sarang nyamuk. Barang-barang yang tak banyak itu dia tata dengan rapi di tempatnya masing-masing. Tak boleh salah tempat. Dulu dia acap bertengkar dengan istrinya gara-gara perempuan itu sering lupa meletakkan barang ke tempat semula setelah dipakai. Dia hanya punya dua pasang sepatu; sepatu kerja dan sepatu olahraga yang semuanya dia letakkan dalam rak plastik gantung yang buka tutupnya pakai resleting. Sebuah foto dan lukisan saja yang dia sisakan tergantung menempel di dinding rumahnya.

Sejak istrinya pergi meninggalkan dia sendirian di rumah ini, laki-laki itu membuang barang-barang kesayangan yang tak benar-benar dia butuhkan. Bahkan buku-buku yang sudah dia baca dia hibahkan ke kawan-kawan. Dia hanya menyisakan yang sangat dia sukai yang bisa dibaca berulang-ulang. Dia menata rumah kecilnya sesimpel dan seefisien mungkin seperti yang diajarkan Marie Kondo. Dia hanya membeli benda-benda yang sungguh-sungguh diperlukan. Dia hanya satu selimut, satu sprei dan satu sarung. Di jemuran hanya ada selembar handuk dan sapu tangan. Dia akan membeli yang baru apabila yang lama sudah tak bisa digunakan lagi. Sejak dulu dia sebenarnya membenci kebiasaan Inayah, istrinya, yang gemar membeli barang-barang yang sebenarnya tak mereka butuhkan yang membuat rumah kecil mereka sumpek penuh tumpukan barang tak terpakai di mana-mana: baju-baju, sepatu, segala macam perabotan dan perlengkapan berdandan. Perbedaan itulah salah satu penyebab ledakan pertengkaran mereka yang berakhir dengan perpisahan.

Kini setelah perempuan itu pergi dan rumah tertata rapi, kenapa nyamuk-nyamuk tetap betah di sini? Di kamar mandi tak ada bak mandi dengan air yang menggenang. Sabun dan sampo selalu dia beli dalam kemasan botol besar supaya tak banyak menyisakan sampah plastik. Dia mandi menggunakan air yang disemprotkan melalui selang. Kamar mandinya senantiasa kering seusai digunakan. Begitu juga kakus duduk selalu bersih dan harum sehabis digunakan buang hajat. Saluran pembuangan air bekas mandi dan mencuci semuanya di bawah tanah yang atasnya dilapisi semen. Sejak kecil dia selalu rapi, tertib, disiplin seperti diajarkan ibunya.

Jadi, dari mana datangnya nyamuk-nyamuk itu? Apakah mereka datang dari rumah tetangga sebelah? Terbang beriringan menyeberangi gang dan taman menyerbu rumahku? Apakah mereka berpikir diriku kesepian dan perlu mereka temani dengan suara dengingnya yang menjengkelkan?

Sungguh celaka nyamuk-nyamuk ini. Mereka seolah tak mempan diusir kipas angin yang dia setel hingga pol. Mereka tahan spray antinyamuk. Bahkan mereka tak menyerah pada losion antinyamuk yang dia balurkan di sekujur tubuh. Ya Tuhan, nyamuk apakah ini, yang membuatnya tersiksa, putus asa, dan nyaris semalaman tak dapat tidur? Dengan kemarahan dan kejengkelan yang meluap tiada terkira akhirnya dia melakukan hal gila ini: dia membuka jendela lebar-lebar dan melepas seluruh pakaiannya untuk memberi keleluasaan nyamuk-nyamuk lainnya di luar sana datang dan turut berpesta pora. Dia telentang pasrah membiarkan mereka berpesta pora menikmati darahnya. Dia memejam meresapi rasa perih setiap gigitan dan tusukan moncong nyamuk di sekujur tubuhnya. Biarlah bila aku harus mati kehabisan darah dihisap miliaran nyamuk, pikirnya. Tapi kepasrahan semacam itu hanya bertahan 30 menit.

Dia bangkit, mengenakan pakaiannya kembali. Lalu mencari raket nyamuk yang pernah dibeli istrinya. Dia berharap belum membuang benda itu. Dia menemukannya dalam kardus bawah tangga. Syukurlah baterainya masih penuh untuk menyalakan setrum pada senar raket. Mampuslah kalian, nyamuk-nyamuk jahanam. Dengan raket nyamuk dia berhasil membunuh banyak nyamuk dengan bunyi cras sekali kibas. Puas sekali melihat tubuh mereka terbakar sengatan listrik. Bangkainya berserakan di lantai dan seprei, banyak sekali hingga mengubah warna lantai dan sprei menjadi kehitaman menjijikkan. Tapi mereka tak habis-habis. Kawan-kawannya entah dari mana terus berdatangan. Mereka bagai bersekongkol untuk benar-benar menghabisinya. Dia kini sadar tak boleh menyerah.

Namun sejam kemudian batre raket nyamuknya habis. Dia ingat masih menyimpan kelambu, tapi lupa menyimpannya di mana. Ketika kelambu berhasil dia temukan, kelambu itu ternyata robek lebar sekali. Karena kelelahan akhirnya dia tertidur. Tapi lagi-lagi, tak berlangsng lama. Denging dan gigitan nyamuk membuatnya terbangun. Nyamuk-nyamuk makin garang menyerbu tubuhnya. Dia mengubur tubuhnya dengan selimut. Tetapi ini bukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalah. Dia bagai tak bisa bernapas.

Dia merasa tak punya lagi cara mengusir nyamuk. Malam itu dia keluar rumah dengan tubuh terbungkus jaket berpenutup kepala, berjalan menyusuri gang ke arah perempatan mencari warung untuk membeli obat nyamuk bakar. Dia pikir asap obat nyamuk bakar yang mampu membuat nyamuk-nyamuk itu mabuk dan mampus. Langit gelap tanpa sebiji pun bintang. Hanya sisa bulan yang pucat di tepi langit. Tapi tak ada warung yang masih buka. Pukul dua pagi. Semua orang sudah tidur atau sedang seru-serunya bergumul.

Embun mulai berterjunan dari langit bersama udara dingin. Dia kembali ke rumah. Duduk di teras dan nekat menelpon Inayah. Meminta tips ampuh mengusir nyamuk. Tapi dia tak mengangkat teleponnya, tentu saja. Siapa yang sudi mengangkat telepon pada dini hari. Apalagi telepon dari mantan yang dibenci. Beberapa teman yang dia hubungi juga tak ada yang mengangkat. Hampir jam tiga pagi. Dia tak berani mengetuk rumah tetangga sebelah. Salah-salah malah dikira mau merampok. Dia tak kenal dengan baik mereka satu pun. Nyaris tak pernah ngobrol kecuali menyapa sekadar basa-basi saat papasan di gang. Warga kompleks perumahan yang sangat sedikit penghuninya ini jarang yang saling mengenal. Justru karena itu dia dulu memilih membeli rumah di sini.

Dia merasa tak punya lagi cara mengusir nyamuk. Malam itu dia keluar rumah dengan tubuh terbungkus jaket berpenutup kepala, berjalan menyusuri gang ke arah perempatan mencari warung untuk membeli obat nyamuk bakar. Dia pikir asap obat nyamuk bakar yang mampu membuat nyamuk-nyamuk itu mabuk dan mampus. Langit gelap tanpa sebiji pun bintang. Hanya sisa bulan yang pucat di tepi langit. Tapi tak ada warung yang masih buka. Pukul dua pagi. Semua orang sudah tidur atau sedang seru-serunya bergumul.

Dia bersitahan duduk di teras sambil merokok. Berharap ada seseorang lewat di gang depan rumah untuk dimintai tolong memberi obat nyamuk bakar. Beberapa lama kemudian dia mendengar suara langkah. Dia bangun dan beranjak ke depan. Benar. Dia melihat seseorang berjalan dari arah perempatan. Dia memanggilnya ketika seseorang itu tepat melintas di depan hidungnya.

Seseorang itu berhenti dan menatapnya.

”Maaf, bolehkah saya minta tolong?”

”Apa yang bisa saya bantu, Pak?”

”Apakah Anda punya obat nyamuk bakar?”

”Maaf, Pak. Saya tak punya. Saya juga sedang mencari obat nyamuk bakar, warung sudah tutup semua. Di rumah saya banyak sekali nyamuk. Obat nyamuk semprot tak mempan,” ujar orang itu dengan wajah rada gusar.

Dia menatap sosok orang itu, di bawah keremangan lampu jalan dia melihat wajah orang itu mirip sekali dengan wajahnya sendiri. Sorot matanya yang sayu, batang hidungnya pendek, dan gerak bibirnya saat mengatakan itu. Bahkan suaranya, dia seperti mendengar suaranya sendiri. Dia juga mengenakan jaket berpenutup kepala yang ujungnya lancip seperti yang dia kenakan.

”Mari, Pak,” kata orang itu seraya berlalu.

Dia masih tertegun melihat punggung orang itu. Lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Bulu kuduknya meremang. Saat dia memikirkan kejadian tadi, ponselnya bergetar. Inaya menelepon balik. Dia mendadak ragu untuk mengangkatnya. Apa yang akan dia katakan kalau mengangkat teleponnya? Dia biarkan saja ponselnya terus bergetar sampai akhirnya berhenti. Tapi dua menit kemudian Inayah menelpon lagi.

”Ada apa kamu menelponku, Mahdi?”

”Maaf, Nay. Salah pencet,” katanya asal-asalan.

”Tak mungkin. Kamu menelpon berkali-kali. Ngaku ajah kamu mau ngomong apa? Kamu kesepian? Mau minta aku kembali. Jangan harap, Mahdi. Capek hidup dengan orang kikir seperti kamu. Kamu itu cocoknya kawin sama nyamuk. Ah sudahlah aku mau tidur. Nanti kesiangan. Besok aku mau ke Jogja sama pacarku.”

Rentetan kalimat itu mengempaskannya. Sejujurnya dia memang masih mencintai Inayah. Perempuan itu benar, dia kesepian.

Azan subuh yang memantul dari musala kecil di kompleks perumahan itu makin menyayat-nyayat perasaannya, ditambah denging nyamuk yang makin getol menusuki kulit membuat dia makin merasa terpuruk kehabisan darah. Limbung di berjalan ke ruang belakang. Di samping dapur dia melihat jeriken kecil berisi sisa bensin yang biasa digunakan untuk membakar sampah di samping rumah. Dia menyiramkan bensin itu ke kasur dan perabotan rumah lalu menyalakan api dari pemantik.

***

Aris Kurniawan, lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, puisi, resensi, esai untuk sejumlah penerbitan. Buku cerpen terbarunya: Monyet Bercerita (Basabasi, 2019).

sumber : kompas.id, 22 Jun 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme