Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sang Jagal oleh Teni Ganjar Badruzzaman

Posted on Kam, 06 Jul 2023

Dibantu beberapa orang, Abah Sulaiman mengikat kaki sapi yang akan disembelihnya. Bibir tuanya bergetar mengucapkan takbir. Lelaki yang masih terlihat gagah meski di usia enam puluh tiga itu mengusap-usap kepala sang sapi. Selayak meminta izin agar hewan itu ikhlas untuk disembelih. Dan benar saja, sapi itu diam. Wajahnya terlihat pasrah. Tak ada lagi perlawanan. Sang jagal pun tersenyum seraya menepuk-nepuk punggung sapi. Ia lalu bangkit, mengeluarkan golok dari sarungnya yang selalu terikat di pinggang. Namun, di detik itu, tiba-tiba saja tubuhnya membungkuk, lalu tersungkur jatuh tepat di atas leher sapi yang akan disembelihnya.

Seketika suasana di halaman depan rumah Abah Sulaiman gaduh. Orang-orang berhamburan mencoba menolong. Salah satu dari kami berusaha membangunkannya yang terkulai tak berdaya. Namun, sang jagal tetap bergeming. Seorang sesepuh kampung lalu mendekat, menciprat-cipratkan air dan mengusap-usap wajah Abah Sulaiman. Semua usaha itu nihil belaka. Mata sang jagal tetap terpejam. Napasnya megap-megap. Wajahnya pucat. Sungguh mengkhawatirkan. Karman, anak sulungnya, kemudian mengusulkan agar Abah Sulaiman dibawa ke puskesmas.

Beberapa warga pun segera bergerak membopong Abah Sulaiman. Sementara Karman bergegas mengeluarkan mobil dari garasi. Dalam sekejap saja aroma kepanikan membubung pekat di langit kampung ini. Padahal beberapa waktu lalu, kami datang ke rumah itu dengan penuh sukacita. Bagi warga kampung ini yang sebagian besar bermata pencarian sebagai petani, makan daging sapi adalah sebuah kemewahan. Kebanyakan dari kami hanya bisa memakannya satu tahun sekali: saat dapat jatah daging kurban.

Maka ketika tersiar kabar Abah Sulaiman akan mengawinkan anak gadis satu-satunya, dan menyembelih dua ekor sapi sebagai bentuk rasa syukur, semua warga pun kecipratan rasa bahagia. Di kampung kami, menggelar hajatan dengan menyembelih sapi tentu menjadi hal yang sangat istimewa.

Tapi kini, dalam sekejap semua kegembiraan itu sirna. Suasana berubah menjadi muram. Semuram langit yang tiba-tiba kehilangan jejak sinar matahari. Awan hitam bergulung-gulung. Angin berembus kencang membawa aroma hujan dari kejauhan. Sejuta tanya pun menggelembung di dalam benak kami. Apa yang sebenarnya terjadi pada Abah Sulaiman? Beberapa warga menyangka ia kesurupan. Karena tak menyiapkan sesajen saat hendak menyembelih hewan. Ah, tentu saja itu baru sebatas dugaan.

Kami yang tidak ikut mengantar ke puskesmas kebagian tugas menjaga keamanan rumah Abah Sulaiman. Semua keluarga yang tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan segala keperluan hajatan yang akan digelar esok hari, sekarang terlihat kalut. Kesibukan di dapur seketika terhenti, ikut cemas menanti kabar. Bahkan sang calon pengantin terlihat mondar-mandir keluar-masuk rumah dengan wajah yang waswas.

Diiringi angin kencang, tak lama hujan lebat pun datang mengusir orang-orang yang berkerumun. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Sementara kami memilih merapat ke teras rumah Abah Sulaiman, duduk berdempetan membentuk sebuah lingkaran kecil sambil mengisap sebatang rokok, berharap dapat mengusir hawa dingin yang mulai datang menyerang.

Kami lalu berbincang, berusaha merunut kejadian sebelumnya yang sempat dilewati Abah Sulaiman. Seingat kami, ia dalam keadaan sehat dan bugar. Abah Sulaiman itu seseorang yang sangat menyenangkan. Meskipun usianya lebih tua, ilmunya lebih banyak, dan menjadi salah satu orang terkaya di desa ini, ia tak pernah jemawa. Makanya kami sangat menghormatinya.

Baru saja seminggu ke belakang Abah Sulaiman mengumpulkan kami, para pemuda karang taruna, di masjid. Katanya, ia ingin mengajarkan beberapa ilmu agar kami siap membantunya menjadi seorang jagal yang andal. Di kampung kami, memang baru Abah Sulaiman yang mengabdikan diri menjadi jagal selama beberapa generasi. Sejak usianya baru genap dua lima, ia sudah dipercaya menjadi jagal Idul Adha. Juga ketika ada warga kampung ini yang hendak menyembelih hewan untuk akikah atau hajatan.

”Saat di awal-awal, Abah selalu merasa deg-degan. Takut gagal. Pegang golok saja gemetaran.” Abah Sulaiman memulai acara pertemuan malam itu. ”Tapi, seiring berjalannya waktu, Abah mulai terbiasa dan jauh lebih tenang setiap kali akan menyembelih hewan,” lanjutnya kemudian. Kami pun hanya manggut-manggut menanggapi ceritanya itu.

”Abah yakin, kalian pasti punya kemampuan dan bisa cepat belajar.”

Kami semua terdiam. Jujur saja tidak pernah sedikit pun tebersit di kepala kami untuk menjadi seorang jagal. Dari kami bersepuluh, mungkin hanya satu atau dua orang yang terlihat antusias, ketika Abah Sulaiman mulai menyampaikan ilmu perjagalan yang selama ini dikuasainya itu.

Beruntung, penyampaian Abah Sulaiman sangat ringan, dan tidak kaku. Ia memperagakan bahwa saat akan menyembelih, napas kita harus terkunci di perut. Tangan kiri harus menahan kepala hewan agar terdengak, pastikan urat nadi kanan-kiri, tenggorokan, dan kerongkongan kencang tertarik. Sementara tangan kanan mencengkeram golok, menunggu embusan napas terakhir hewan yang akan disembelih.

”Kita harus memastikan hewan telah mengembuskan napas terlebih dahulu,” tutur Abah Sulaiman. ”Sebab kalau tertahan, maka daging akan beraroma tak sedap.”

”Oh…,” dengung kami bersamaan selayaknya kelompok paduan suara.

”Baru setelah itu, kita perlahan menyayat dari kiri ke kanan. Sambil melafalkan kalimat basmalah dan takbir. Semua itu harus dalam satu kali gerakan.” Abah Sulaiman kembali menjelaskan.

”Usai menyayat, tangan kanan jangan lekas dicabut.” Tangan kanan Abah Sulaiman memperagakan seolah benar-benar berada di leher hewan yang sedang disembelihnya. ”Kita harus memastikan bahwa kedua urat benar-benar telah terputus. Sebab kalau tidak, penyembelihan dianggap gagal. Daging pun akan digolongkan menjadi bangkai.” Kali ini suaranya terdengar penuh penekanan.

Lalu, salah satu dari kami bertanya: selain semua yang telah dijelaskan Abah Sulaiman sebelumnya, adakah hal lain yang harus dipersiapkan agar kami bisa menjadi jagal yang andal?

”Tentu saja ada,” jawab Abah Sulaiman mantap. ”Alat sembelih yang digunakan tidak boleh sembarangan. Harus khusus dan kualitas terbaik.”

Abah Sulaiman lalu meraih tas hitam berukuran besar yang berada di belakangnya. Ia mengeluarkan sebilah pisau dan golok andalannya. Konon, perkakas itu dibuat oleh seorang pandai besi terbaik di kabupaten kami. Bahannya juga dari baja. Sehingga awet, kuat, dan ketajamannya tidak mudah berkurang.

”Selama menjadi jagal, hanya pisau dan golok inilah yang Abah pakai,” katanya sambil menatap dua perkakas itu dengan mata berbinar-binar, penuh rasa bangga.

Ah, rasanya wajah Abah Sulaiman yang bercahaya penuh semangat itu masih terbayang di pelupuk mata kami. Kami kembali berdengung, membicarakan kesibukan yang dilakukannya untuk persiapan hajatan ini. Tadi malam, kami diminta membantu memasang tenda di depan rumahnya. Abah Sulaiman wara-wiri ke sana kemari. Ia memang tampak paling sibuk menyiapkan ini dan itu. Rona bahagia terpancar jelas di wajah tuanya. Mendapati anak gadisnya akhirnya menemukan jodoh membuat semangat Abah Sulaiman begitu berapi-api. Semua orang tahu, itu adalah hal yang amat ditunggu-tunggu olehnya.

Salah satu dari kerabat Abah Sulaiman yang berada di antara kami menceritakan bahwa tadi pagi, sepulang shalat Subuh berjemaah di masjid, Abah Sulaiman langsung mengasah golok dan pisaunya di belakang rumah. Tak ada sedikit pun tampak gurat-gurat lelah di wajahnya.

Sampai tadi sekitar pukul sembilan, Abah Sulaiman yang mengenakan peci putih, kaus putih berkerah, celana hitam, dan sepatu bot melambaikan tangannya kepada kami yang sedang berkerumun di selasar kiri rumahnya. Ia meminta kami mendekat ke area penyembelihan. Katanya, beliau akan mempraktikkan teori yang disampaikannya tempo hari, dan kami harus memperhatikan baik-baik. Nanti salah satu dari kami akan ditunjuk untuk menyembelih sapi yang satunya lagi. Tentu tidak dilepas begitu saja. Abah Sulaiman akan membimbing kami.

Saat itu, kami saling beradu pandang. Mungkin isi kepala kami semua sama: ingin menolak permintaan Abah Sulaiman itu, karena merasa belum siap. Namun, kami semua tak ada yang berani bersuara untuk menolak. Sebuah anggukkan pelan kami berikan sebagai tanda kesanggupan.

Perhatian semua orang yang berkerumun di teras rumah Abah Sulaiman seketika pecah ketika tiba-tiba terdengar teriakan histeris dari dalam rumah. Kami segera masuk, mengerubungi anak gadis Abah Sulaiman yang terkulai lemas di kursi sambil merintih, “Abah… Abah….” Dan perasaan kami semakin tak karuan saat melihat gadis itu kini tak sadarkan diri.

”Innalilahi wainnailaihi ra’jiun,” ucap kami saat mendengar salah satu kerabat Abah Sulaiman mengatakan, Karman baru saja memberi kabar Abah Sulaiman tidak terselamatkan.

Seketika wajah semua orang kelam. Banyak dari kami yang tak kuasa menahan air mata. Sebagian lagi masih merasa tak percaya, semua ini terjadi begitu saja. Ah, maut memang kerap kali datang tanpa permisi.

Rumah Abah Sulaiman dipenuhi kabut tebal yang pekat. Suara tangisan terdengar bersahutan. Semua orang terpaku di tempatnya masing-masing. Calon pengantin masih belum juga sadarkan diri. Oh, sungguh tak pernah terbayangkan sebuah persiapan pesta pernikahan yang ceria dalam sekejap berubah menjadi upacara kematian yang penuh duka. Apa mau dikata. Tidak ada yang bisa menolak ketika tangan-tangan takdir telah berkehendak.

***

Teni Ganjar Badruzzaman. Lahir di Ciamis, 1988. Ibu rumah tangga yang gemar menulis dan membaca cerita. Cerpen dan cerita anaknya dimuat di beberapa antologi bersama dan media massa.

sumber : kompas.id, 06 Jul 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme