Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dakocan oleh Ben Sohib

Posted on Ming, 02 Nov 2014

DALAM keadaan mabuk vodka murahan kami merencanakan pembunuhan. Zairin Ansar yang pertama kali melontarkan gagasan itu, sementara aku dan Jawahir Wahib langsung mengamini. Kami bertiga memang sama-sama pembenci, tepatnya pendengki, lelaki buruk rupa yang menjalin hubungan asmara dengan perempuan cantik, tapi kami tak menyangka bahwa kebencian kami itu bisa sedemikian rupa dan akhirnya menggiring kami pada keinginan untuk menghabisi nyawa seseorang. Dan seseorang itu adalah Jendol.

Ia teman kami sendiri. Nama aslinya Rendi Fansuri, wajahnya mirip tapir. Kami sepakat memanggilnya “Jendol” karena menurut kami Rendy adalah nama yang terlalu bagus untuk tampang seburuk itu. Awalnya kami tak memiliki masalah dengan tampang buruk dan nama bagusnya itu. Tapi kami mengganti namanya serta menyingkirkannya dari pertemanan semenjak ia mulai tak bisa mengendalikan mulutnya sendiri. Hari ini ia bilang Zara menaruh perhatian padanya, hari yang lain ia berkata bahwa Mona terus-menerus melirik dirinya. Mungkin kami akan tetap berteman dengannya jika saja nama-nama yang ia sebut itu bukan perempuan-perempuan yang, jangankan menaruh perhatian, mengetahui bahwa kami ada saja kami tak yakin. Padahal, dibandingkan Jendol, wajah kami jelas lebih menarik. Pendek kata, mereka itu perempuan-perempuan papan atas di kampus kami.

Lalu penjelasan apa yang bisa membuat kami tak berpikir bahwa Jendol terlalu banyak berkhayal, dan akibatnya sekarang ia telah menjadi sinting serta kehilangan kendali atas mulutnya sendiri? Kau tahu, Jendol tak kalah miskinnya dengan kami. Perempuan semacam Zara dan Mona hanya akan jatuh cinta pada tiga jenis laki-laki: laki-laki tampan, laki-laki kaya, atau laki-laki tampan sekaligus kaya. Tak mungkin mereka akan menjatuhkan pilihannya pada laki-laki buruk rupa, laki-laki miskin, apalagi laki-laki gabungan dari keduanya.

“Lalu kenapa tak kau pacari Zara atau Mona?” tantang kami pada suatu hari.

“Aku tak berminat, aku mengincar Sabrina.”

Astaga! Sungguh, wajahnya tampak semakin buruk saat ia mengatakan itu. Sabrina adalah salah satu bintang di kampus kami, peringkatnya bahkan di atas Zara dan Mona. Maka kami hanya bisa terbahak dan memutuskan bahwa Jendol memang benar-benar tak lagi layak menjadi teman kami.

Dan semuanya berjalan baik-baik saja sampai pada suatu hari kami melihat Jendol berjalan di halaman kampus menggandeng Sabrina. Sebagaimana telinga, terkadang mata memang tak boleh dipercaya sepenuhnya. Peristiwa salah dengar atau salah lihat lumrah terjadi di mana-mana. Maka, diam-diam setiap orang dari kami bertiga berharap bahwa dua di antara kami melihat hal yang berbeda. Tapi sayangnya itu terjadi di siang bolong dan di tempat terbuka.

Jadi, seandainya, dengan maksud menghibur diri kami sendiri, dua di antara kami mengatakan bahwa mereka tak melihat Jendol berjalan menggandeng Sabrina, itu hanya akan menjadi sebuah upaya yang sia-sia. Ada puluhan pasang mata lain yang melihat peristiwa itu, dan sekian banyak mulut lain yang siap mengatakan bahwa Rendy, yang kami panggil Jendol itu, berjalan sambil menggandeng lengan Sabrina. Maka tak ada jalan lain yang tersedia bagi kami kecuali mengakui bahwa apa yang kami saksikan itu memang nyata.

Dan benar saja, meski tak segusar kami bertiga, banyak orang di kampus kami juga menggunjingkan kenyataan ajaib itu. Tapi mereka membicarakannya dengan santai, sambil tertawa-tawa. Kami tidak. Kami membahas kenyataan yang pincang itu dengan penuh amarah. Tapi ternyata itu belum seberapa. Esoknya, kami melihat Jendol dan Sabrina makan siang bersama di kantin. Seusai makan, bidadari kampus itu mengelap keringat yang membasahi kening Jendol. Saat itulah kami menyimpulkan bahwa ternyata Tuhan tidak seadil yang digembor-gemborkan para ulama dan tokoh agama.

Sudah beberapa kali kami melihat lelaki buruk rupa berpacaran dengan perempuan cantik, dan itu selalu memunculkan rasa benci di hati kami. Tapi belum pernah hati kami terbakar sedemikian hebat seperti sekarang ini. Api kebencian yang sampai menghanguskan hati kami itu, jelas lantaran pelakunya adalah teman kami sendiri.

Lalu kami banyak mendengar analisis tentang jatuhnya Sabrina ke dalam pelukan Jendol. Yang satu mengatakan bahwa Jendol pandai bicara dan mahir memikat hati perempuan, yang lain berpendapat bahwa Jendol penuh perhatian, yang satu lagi mengatakan bahwa aura tertentu yang memancar dari tatapan mata Jendol membuat Sabrina kepincut, yang lain lagi yakin bahwa rasa percaya diri yang sangat tinggi yang membuat Jendol mampu menaklukkan perempuan secantik Sabrina. Dan sejumlah analisis tak masuk akal lainnya. Kami sendiri yakin seyakin-yakinnya, itu hasil kerja dukun Banten Belaka.

Maka sekarang di atas meja tersedia tiga pilihan bagaimana cara terbaik membunuh bajingan itu. Pertama, menggiringnya berjalan ke tempat sepi lalu mencekiknya beramai-ramai. Kedua, mengajaknya berenang di pantai lalu menenggelamkannya. Ketiga, mengundangnya ke pesta minuman kemudian diam-diam menaburkan racun ke dalam gelas minumannya. Kami sepakat memilih cara yang terakhir.

“Lalu, apa nama sandi operasi kita?” tanya Jawahir sesaat setelah kami bersulang.

Kami terdiam agak lama.

“Operasi Bolang-Baling,” jawab Zairin kemudian.

“Ah, sama sekali tak cocok!” Jawahir menukas.

“Tapi makna filosofinya dalam. Bolang-baling itu metafora bahwa betapa mengerikannya hubungan si Jendol dan Sabrina,” jawab Zairin lagi.

“Ya, tapi itu bukan nama yang keren untuk sebuah operasi pembunuhan berencana,” aku angkat bicara.

Setelah beberapa nama saling kami usulkan (antara lain “Anggur Kebencian”, “Beauty and The Beast”, dan “Racun Keadilan”), akhirnya kami sepakat dengan satu nama: “Dakocan”. Kami setuju memilih nama yang terakhir itu karena beberapa alasan: selain ringkas dan terdengar klasik, Dakocan, boneka asal Jepang itu, sekaligus kami maksudkan sebagai olok-olok bagi wajah Jendol yang buruk itu.

Begitulah, setelah bersulang merayakan tercapainya kesepakatan cara membunuh, kami bersulang untuk kedua kalinya, merayakan kesepakatan nama sandi operasinya.

Tapi tentu saja kami tak pernah benar-benar membunuh Jendol atau siapa pun juga. Saat itu kami dalam keadaan mabuk, dan usia kami masih belia. Dan itu terjadi hampir tiga puluh tahun yang lalu. Sekarang kami sudah menjadi orang-orang paruh baya yang sibuk dengan dunia kerja dan urusan keluarga masing-masing. Namun, sejak saat itu, julukan “Dakocan” kami sematkan pada setiap lelaki buruk rupa yang memiliki pacar atau istri cantik.

MALAM itu di rumah aku sedang memeriksa pesan-pesan masuk di telepon genggamku (yang kumatikan selama dua hari kepergianku ke Pulau Seribu bersama istri serta keempat anakku), dan aku dikejutkan oleh sebuah pesan pendek dari Jawahir. Sudah empat tahun lebih ia menghilang. Telepon genggamnya selalu tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan area. Pesan pendek yang sempat kukirim beberapa kali juga tak pernah dibalas.

Hubungan kami bertiga memang timbul tenggelam. Selepas kuliah, kami berpisah dan kehilangan jejak satu dengan lainnya selama lima belas tahun sebelum Mark Zuckerberg akhirnya mempertemukan kami di dunia maya. Kami segera melanjutkannya dengan pertemuan di dunia nyata.

Kami berjumpa di sebuah kafe di Kalibata. Aku yang menjamu mereka. Senang rasanya bertemu kawan lama. Untuk pertama kalinya kami bisa membahas soal hubungan Rendy (dulu kami memanggilnya Jendol) dan Sabrina sambil tertawa. Menurut Zairin, mereka akhirnya menikah dan sekarang telah memiliki lima anak. Rendy bekerja di sebuah perusahaan milik mertuanya, dan ia memperoleh kedudukan yang bagus. Zairin mengetahui semua ini berkat keikutsertaannya dalam sebuah group di jejaring sosial yang dikhususkan bagi alumni kampus kami.

Meski masih diliputi rasa heran, tapi dengan ringan kami membicarakan hubungan Rendy dan Sabrina. Mungkin benar belaka analisis yang mengatakan bahwa Rendy pandai bicara dan mahir memikat hati perempuan, bahwa Rendy sangat percaya diri, bahwa Rendy memiliki pesona pada tatapan matanya, dan seterusnya. Sekarang kami meragukan apa yang dulu kami yakini bahwa Rendy menggunakan jasa dukun dari Banten. Sebab, setahu kami, pemikat yang dibuat para dukun tak akan bertahan lama, sedangkan faktanya hubungan Rendy dan Sabrina langgeng hingga sekarang.

Kami tak tahu mana yang benar dan mana yang salah, tapi yang pasti, di usia paruh baya sekarang, kami sudah tak lagi memeram benci atau dengki pada Rendy maupun pada “Dakocan” lainnya. Kami tak lagi tertarik dengan perkara semacam itu. Kami sudah cukup direpotkan kerja dan urusan keluarga masing-masing. Sama dengan aku, Zairin menjadi “orang kantoran” dan sama-sama memiliki empat anak. Bedanya, aku pegawai negeri sedangkan Zairin bekerja di sebuah perusahaan swasta. Anakku dua laki-laki dan dua perempuan, sementara anak Zairin tiga perempuan dan satu laki-laki. Jawahir berwiraswasta, membuka toko kelontong di rumahnya, sambil sesekali menjadi makelar rumah dan tanah. Ia dikaruniai seorang anak perempuan.

SELAMA tiga tahun setelah pertemuan itu, kami selalu minum kopi bersama tiga atau empat bulan sekali, sampai tiba-tiba Jawahir tak bisa lagi dihubungi. Dari Zairin aku mendapat kabar bahwa Jawahir menghilang menyusul pertengkaran hebat dengan istrinya, entah karena apa. Setahun berikutnya Zairin mengabarkan kepadaku bahwa Jawahir telah bercerai. Konon sang istri pulang ke kota asalnya, Cirebon, mengajak anak semata wayang mereka.

Bertahun-tahun setelah itu aku tak pernah lagi mendengar kabar tentang Jawahir. Kesibukan kerja dan urusan keluarga (terutama beberapa bulan belakangan ini menjelang si sulung masuk perguruan tinggi), perlahan-lahan menyingkirkan Jawahir dari ingatanku, sampai pesan pendek yang mengejutkan itu kuterima dan kubaca: “Operasi Dakocan sudah terlaksana (Jawahir Wahib)”. Telepon genggamnya tak aktif ketika kucoba menghubunginya.

Sekali lagi kubaca pesan pendek itu: “Operasi Dakocan sudah terlaksana (Jawahir Wahib)”. Aku tercenung, tak paham maksudnya. Tapi aku mencium sesuatu yang buruk telah terjadi. Firasatku makin menguat saat kulihat banyak pemberitahuan panggilan tak terjawab dari nomor Zairin di telepon genggamku. Aku baru saja bermaksud menghubungi Zairin ketika telepon itu berdering. Kulihat nama Zairin muncul di layar.

“Ke mana saja kau?” tanya Zairin begitu telepon kuangkat.

“Aku baru saja pulang dari Pulau Seribu.”

“Sudah kau baca SMS dari Jawahir?”

“Ya. Aku baru saja hendak meneleponmu.”

“Kau tahu kawan kita sudah gila.”

Meski dikatakan dengan nada marah, aku menangkap kesedihan dalam suara Zairin saat mengucapkan kalimat itu. Kami terdiam sejenak. Operasi Dakocan sudah terlaksana (Jawahir Wahib), pertengkaran, perceraian, kau tahu kawan kita sudah gila, Rendy dan Sabrina. Dalam hitungan detik berbagai bayangan berkelebat di benakku. Tenggorokanku terasa kering.

“Apa yang terjadi?” tanyaku setelah menelan ludah.

“Kawan kita sudah gila,” Zairin mengulangi jawabannya.

“Apa maksudmu?”

“Ia membunuh pacar anaknya, sekarang ia dalam tahanan polisi di Cirebon.”

Zairin tak tahu apa yang menyebabkan Jawahir menjadi gelap mata dan gila. Ia hanya mendengar kabar bahwa Jawahir tak merestui rencana pernikahan anak gadisnya, sementara sang anak yang memperoleh dukungan dari ibunya, bersikukuh dengan pilihannya. Jawahir pergi ke Cirebon menemui mereka lalu terjadi keributan besar di sana.

“Kalau kau mau, besok pagi kita berangkat ke Cirebon, kita jenguk Jawahir dan mencari tahu apa yang sesunggunya terjadi,” kata Zairin.

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak, berkali-kali aku terbangun dan duduk merokok di teras depan.(*)

 

Jakarta, 2014

 

Ben Sohib tinggal di Jakarta.

sumber :Koran Tempo, 2 November 2014.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme