Telah Hilang! KIBO: Kucing Ras Berbulu Putih Panjang.
DI bawah tulisan itu, namanya, Kanune, tertera sedikit lebih tebal dengan nomor telepon. Malam itu, satu jam sesudah tengah malam berdentang, kusaksikan poster itu sedikit terkelupas dan tertiup angin malam. Di pagar toko kelontong yang sudah tutup sejak pukul sepuluh. Dua belas nomor kurapal perlahan.
Kukirimkan pesan, “Sepertinya aku tahu di mana kucingmu, Kanune. Aku tetangga apartemenmu.”
Ingin kusampaikan padanya bahwa menipu petugas apartemen itu perbuatan keliru. Melanggar perjanjian dan bisa kena denda. Perempuan itu diam-diam memelihara kucing. Kutahu sebab beberapa kali kudengar dia mengobrol bersama hewan berbulu berkaki empat. Kibo, dia memanggilnya demikian.
Aku bisa saja melaporkannya ke bagian kenyamanan dan kerumahtanggaan tower apartemen. Tapi entahlah, aku lebih ingin diam saja. Biarlah dia tertangkap basah, tanpa aku yang melapor. Diam-diam kubayangkan dia diserbu penghuni lain yang protes bau busuk tahi kucing yang kerap dia bungkus dalam plastik bekas makanan cepat saji.
Perempuan itu dengan sengaja mewartakan perihal kucingnya yang hilang tidak di papan pengumuman tower apartemen. Melainkan di pagar toko kelontong tak jauh dari tower. Tentu alasannya agar tidak ada yang mengetahuinya. Namun, selain aku, tukang sampah rupanya juga telah menaruh curiga bahwa ada yang memelihara kucing.
Bagaimana mungkin ada bau tahi kucing di tower yang memang dikhususkan untuk mereka yang pet-free dengan beragam alasan. Angin malam semakin kencang.
Bunyi-bunyi deru kendaraan telah reda. Cahaya neon memberi kenyamanan yang ganjil. Besok aku sif siang, sebaiknya aku menyambangi kamar apartemen Kanune sebelum berangkat kerja.
“Terima kasih. Kalau kamu tahu di mana kucing itu, kabari ya! Aku kepikiran terus.” Kanune menjawab pesanku ketika aku bersiap untuk mandi.
*
Tower apartemen ini adalah pengecualian. Bukankah selalu ada yang demikian di tengah segala hal yang bebas. Tower ini khusus disediakan kepada mereka yang tidak ingin hidupnya direpotkan oleh hewan peliharaan, terkhusus mamalia berkaki empat, reptil, dan burung-burungan. Ikan masih bisa dimaklumi, sebab tidak akan menimbulkan polusi.
Penghuni tower ini ialah mereka yang alergi terhadap bulu, fobia terhadap reptil, dan yang lebih ingin mendengar deru mesin cuci dan penyedot debu daripada
siul-nyanyian burung dalam sangkar. Termasuk aku.
Entah bagaimana Kanune berhasil menyelundupkan kucing yang sekarang hilang itu. Apakah dia dengan sengaja memasukkannya ke dalam ransel, sebelum melenggang
ke apartemen? Atau mungkin membius lebih dahulu kucing itu agar ketika dijinjing tak menimbulkan suara. Aku tidak begitu terang. Hanya saja, Kanune telah
memantik perkara di tower apartemen yang kuyakini sudah sempurna ini.
Di rumah sakit tempatku bekerja, rengekan manusia ibarat sepoi angin. Hampir setiap menit aku mendengarnya: orang menjerit sebab lukanya akan dijahit, perempuan
ketakutan melihat darah di siku anaknya yang terjatuh dari sepeda, atau orang-orang tua yang seolah tak yakin kami merawatnya dengan baik, sedikitsedikit
mengamuk dan merasa kami kasar ketika membenarkan posisi infus.
Rumah sakit ialah tempat paling riuh, paling sesak dengan erangan sakit, paling tidak mengenal jeda. Sayangnya, aku tidak boleh protes. Harus kuterima dengan
lapang dada. Telan saja, pekerjaan perawat memang demikian, kalau kata salah satu kawanku. Setiap kali muncul jeritan pasien, kurasakan gelak di dadaku lebih
kencang. Andai tidak melanggar kode etik, sudah kuganti cairan infus dengan racun tikus atau atau kujahit rapat celah mulut pasien itu.
Aku merasa mendapatkan ketenangan yang selama ini kucari saat berada di tower apartemen ini. Bebas gonggongan anjing, meong kucing, atau teriakan anak perempuan yang ketakutan melihat piton kuning sehabis dimandikan. Kepalaku yang penuh oleh erangan, teriakan, kegaduhan, omelan, protes, bahkan jerit tangis
keluarga yang ditinggal mati, seketika kosong luruh ketika memasuki apartemen. Ruangan kotak berwarna putih tulang, dengan sofa cokelat di depan rak buku. Hening yang kusuka. Ketika suatu pagi aku mendengar Kanune memanggilmanggil kucingnya, aku tergeragap.
“Kibooo! Jangan! Jangan! Itu tas baruku, jangan, ya! Kukumu bisa mencakarnya!” Kemudian kudengar suara meong nyaring. Sudah tahu pet-free, dia malah bermain api. Hari yang kurencanakan tenang dan menyenangkan, dirusak oleh meong Kibo milik Kanune. Sambil kukeringkan rambut dengan handuk, kubayangkan besok aku akan berbuat apa. Mungkin aku akan mengetuk pintunya dan pura-pura turut berduka.
Kehilangan, apa pun itu, tetaplah sesuatu yang absah untuk diratapi. Atau sekalian kubawakan seloyang kue cokelat agar dia sedikit terhibur? Untuk bersedih tetap
membutuhkan energi, bukan?
*
Pukul sepuluh pagi, aku sudah duduk di sofa ruang tengah apartemen Kanune. “Maaf, tempatku berantakan. Aku jarang kedatangan tamu,” Kanune menyodorkan teh oolong dalam mug putih dan cawan kembang-kembang berisi bika ambon yang serat-seratnya begitu sempurna. Aku tersenyum sopan. Pandanganku mengitari ruangan milik Kanune. Sehelai kain tenun membentang pada dinding di belakang televisi.
Caping beragam ukuran menghiasi dinding lain. Bunga lili imitasi dengan daun-daun bersaput debu. Pot kaktus di meja makan dan majalah-majalah
berserak di kolongnya. Kulkas penuh manik-manik magnit. Stoples-stoples bening di atas nakas.
Kanune tidak muda seperti yang kuduga. Justru mengaku telah berusia lima puluh dua, pensiun dini dari pekerjaannya sebagai pemeriksa aksara di majalah perempuan
beberapa tahun silam. Rambutnya pendek, memperlihatkan leher dan lekuk daun telinganya yang sedikit lebih besar. Beberapa kali aku memikirkan mirip apa daun
telinga Kanune, hingga kutemukan padanan yang pas: jari bayi yang baru lahir. Kurang lebih sedemikianlah besar daun telinga Kanune.
“Bagaimana Kibo bisa hilang?” aku basa-basi. “Entahlah, sepertinya dia menyelonong keluar ketika tukang galon tidak rapat menutup pintu. Kemudian menghilang
entah ke mana.” “Kamu pasti tahu perihal aturan tower ini.”
“Tentu. Oleh sebab itu, aku tidak berani membawa Kibo jalan-jalan. Bahkan kalau kamu sedikit jeli, pengharum ruangan di sini jumlahnya lebih banyak dari
biasanya.”
Kanune meneguk tehnya. “Aku tinggal sendirian. Sudah telat menikah, jadi melajang hingga sekarang.” “Aku pun tinggal sendirian, jadi tahu rasanya kehilangan,” aku
berbohong. Ada satu yang mencuri perhatianku sejak duduk di sofa Kanune. Aneka stoples kaca yang disusun rapi di nakas dekat guci China warna biru. Stoples-stoples
itu penuh benang warna putih, ataukah kapas? Mirip kapas pembersih luka, atau perban yang kupakai buat membebat bekas jahitan.
“Itu stoples apa?”
“Oh, itu bulu-bulu Kibo. Kamu tahu kan, bulu kucing itu rawan rontok. Aku tidak ingin membuang bulu-bulu itu sembarangan. Jadi kusimpan buat jaga-jaga. Ternyata
semenjak Kibo hilang, bulu-bulu kucing itu membuatku sedikit tenang. Aku tidak bisa dipisahkan dengan Kibo….”
“Bagaimana? Apa kamu….,” ingin kusambung dengan memakan bulu kucing. “Setiap malam, sebelum tidur kuambil sejumput bulu Kibo dari stoples. Kuciumi, kuletakkan di bawah bantal. Tidurku tenang, seolah Kibo mendengkur di dekatku.”
Aku tak merespons. Tehku sudah dingin, dan aku tak tertarik lagi. Membayangkan tangan Kanune bekas bulu kucing menyentuh mug, menyentuh bubuk teh,
menyenggol pisau dan cawan bika ambon. Gegas kukatakan bahwa pernah kulihat satpam tua di lantai dasar membawa kucing dan ditaruh di posnya. Dan cepat-cepat
aku pamit. Aku enggan berlamalama di rumah Kanune. Siapa bisa memastikan kalau sela-sela sofanya bebas dari bulu Kibo.
*
Pisau dapur menyala tertimpa cahaya lampu. Kudengar Kanune menyenandungkan lagu yang tidak begitu jelas. Bulu-bulu Kibo dalam stoples sepertinya memang
berhasil membuatnya sedikit lebih tenang. Sudah seyogianya demikian, dan tak perlulah lagi dia mencari-cari Kibo. Meski menurut Kanune ia tidak bisa
dipisahkan dari Kibo, dia harus sadar bahwa kucing itu tidak akan kembali. Bahkan, tak mungkin dia menemukan potongan tubuh kucing itu.
Pisau kembali berkilat. Kuingat Kanune. Bentuk wajahnya. Lehernya. Kupingnya. Kubayangkan pisau itu mencium setiap inci kulitnya. Pisau sama yang beberapa hari lalu
berlumuran darah Kibo. Mungkin sebaiknya kucukur terlebih dahulu rambut Kanune, kumasukkan ke dalam stoples bulu Kibo agar mereka saling menemukan.
Atau, siapa tahu ada yang kelak mencarinya, akan terobati dengan menghidu sisa aroma Kanune. Pisau berkilat makin cemerlang. Tapi, siapa yang hendak mencari?
Kanune bilang dia hidup sendiri. (M-2)
sumber : Media Indonesia, 30 Okt 2022.