BELUM berlalu luka yang tertoreh di hati Naila sebab kezoliman saudari kandungnya. Naila meminjamkan sejumlah uang saat saudarinya membutuhkan, kemudian dia menagih uang tersebut. Naila merasa teriris hatinya sebab saudarinya menolak membayar…
Cerpen : Hadiah Natal dari Buenos Aires oleh Mufti Wibowo
JAM-JAM menjelang Natal, badai salju melintasi pantai barat ke arah timur laut. Badai itu baru benar-benar mereda kurang dari empat jam sebelum laga boxing day dihelat. Badai terburuk dalam sepuluh tahun terakhir…
Cerpen : Cerita Tanpa Cerita: Beran, 1949 oleh Seno Gumira Ajidarma
Jakarta, 2022 Ia sering teringat ibunya belakangan ini. Ibunya sudah meninggal 20 tahun lalu, dan kelebat bayangan ibunya ada kalanya muncul. Namun yang sering teringat olehnya kini adalah suatu kenangan tertentu. Kenangan…
Cerpen : Sepatu Bola untuk Rehan oleh Kak Ian
SIANG itu Rehan pulang sekolah begitu semangat. Terlihat dari pipi bocah itu yang tampak bersemu. Ia begitu semringah saat itu. Walaupun terik matahari tepat di atas kepalanya memanggang tubuh kecilnya. Tapi, ia…
Cerpen : Kharma Phala oleh Ni Wayan Wijayanti
”Jika Wayan masih miskin, bakar saja mayat bapak tanpa singa. Tidak usah repotkan hal itu.” Begitu laki-laki yang kupanggil bapak berkata dengan santainya. Tentu saja dia terlihat sangat tenang, bagaimana pun sebentar…
Cerpen : Tak Ada Piala Dunia di Hati Rahma oleh Endang S Sulistiya
SEKONYONG-KONYONG Rahma terjaga dari tidurnya. Wanita tiga puluh delapan tahun itu tampak agak gelagapan. Beberapa saat ekor matanya memindai seantero kamar. Plafon, lampu, dinding hingga korden. Ingatan Rahma memberi peringatan bahwa ia…
Cerpen : Jangan Masuk Hutan Itu! oleh Ayu Prawitasari
Aku melihat laki-laki itu dari kejauhan. Tampak pepohonan rimbun di belakangnya. Apakah dia akan masuk hutan itu? Hutan yang kata warga desa ini sangat angker. Tak ada yang kembali begitu masuk di…
Cerpen : Lanskap Cinta oleh Helmy Khan
EL, dahan pohon mimba ini tak pernah behenti dihempas angin. Berserakan daun-daunnya ke arah engkau lewat dekat jalan ini. Di sinilah aku berlindung. Berlindung dari segala perih yang timbul atas nama cinta….
Cerpen : Pelat Nomor Jatuh di Depan Warung Kopi oleh Suharsono AQS
POHON randu yang berusia belasan tahun itu masih berdiri kokoh. Batangnya yang bercabang dipenuhi dengan buah yang berwarna hijau itu bergelantungan tertiup angin. Seribu kebaikan, bahkan lebih, ia berikan kepada warga kampung…
Cerpen : Tenggelam di Bukit oleh Rizqi Turama
”Alangkah lucunya rumah kita tenggelam di tempat yang disebut orang ’Bukit Besar’, sementara mereka yang menetap di ’Rawa Bebek’ aman-aman saja ketika hujan menghantam.” ISTRIKU mencerocos senewen. Aku diam. Dia berlebihan, tentu…