SEMALAM bidadari itu meninggalkan rumah saya. Dia menendang kursi sebelum membuka pintu depan. Di luar angin kencang sekali. Embusan angin bercampur kemarahan membuat pintu terbanting dengan keras. Suara pintu itu terasa seperti…
Cerpen : Sepasang Mata Malaikat oleh Nur Mursidi
LELAKI itu berdiri di dekat jendela. Temaram lampu kamar, membingkai bayangannya seperti setengah memanjang. Sesaat, aku hanya menangkap nuansa kesedihan di wajahnya. Wajah yang menyiratkan selaksa kepucatan yang membentang seperti iring-iringan awan…
Cerpen : Tembiluk oleh Damhuri Muhammad
Di masa silam, anjing itu tak lebih dari anjing biasa, milik seorang tuan yang mendalami ilmu hitam. Puncak kedigdayaan ilmu hitam itu adalah hidup abadi, alias tak bisa mati. Namun, setiap…
Cerpen : Bu Geni di Bulan Desember oleh Arswendo Atmowiloto
Bagi Bu Geni, semua bulan adalah Desember. Bulan lalu, sekarang ini, atau bulan depan berarti Desember. Maka kalau berhubungan dengannya, lebih baik tidak berpatokan kepada tanggal, melainkan hari. Kalau mengundang bilang…
Cerpen : Mengenang Kota Hilang oleh Rakhmat Giryadi
Maka lumpur pun datang membasuh wajah kota itu. (Hasan Aspahani, 2006) Itulah bait pertama yang kau tulis dengan tinta yang ragu-ragu keluar dari penanya, ketika perlahan-lahan kotaku terendam lumpur. Begitupun aku menyambut…
Cerpen : Bukit Mawar oleh Yanusa Nugroho
Namanya Arjuna. Laki-laki, kurus, bujangan, 45 tahun-an. Ada yang memanggilnya ”Mas Ar”, ada juga yang memanggilnya dengan ”Kang Juna”. Siapa yang benar? Kurasa dua-duanya benar, karena Arjuna hanya tersenyum. Ketika ada…
Cerpen : Bukit Mawar oleh Yanusa Nugroho
Namanya Arjuna. Laki-laki, kurus, bujangan, 45 tahun-an. Ada yang memanggilnya ”Mas Ar”, ada juga yang memanggilnya dengan ”Kang Juna”. Siapa yang benar? Kurasa dua-duanya benar, karena Arjuna hanya tersenyum. Ketika ada…
Cerpen : Nyai Sobir oleh A Mustofa Bisri
Ribuan bahkan puluhan ribu pelayat dari berbagai kota yang menangis itu, tampaknya tak seorang pun yang datang berniat menghiburku. Mereka semua melayat diri mereka sendiri. Hanya orangtuaku dan beberapa orang famili…
Cerpen : Wajah Itu Membayang di Piring Bubur oleh Indra Tranggono
Selalu setiap hari, Sumbi menyiapkan bubur gula jawa kesukaan Murwad, suaminya. Bubur itu ia buat sendiri, dari beras terbaik—rojo lele—yang dicampur santan kelapa kental, sedikit garam dan ditaburi gerusan gula jawa….
Cerpen : Jembatan Tak Kembali oleh Mardi Luhung
Aku akan bercerita pada kalian. Bercerita tentang sebuah jembatan. Namanya adalah Jembatan Tak Kembali. Mengapa diberi nama demikian? Karena, setiap yang menyeberang di jembatan itu, tak akan kembali. Disergap oleh batas…