Langit warna-warni berlalu begitu saja. Dari waktu ke waktu selalu saja begitu. Kupetik sehelai awan pagi ini. Lembayung warnanya. Dan setiap burung yang melintasi pagi yang sama, tiba-tiba warnanya jadi lembayung. Hujan…
Cerpen : Sukro dan Sukra oleh Aba Mardjani
Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. Kilat menjilat sambung-menyambung seperti ingin membakar langit. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai ingin membelah dunia. Kedinginan di halte bus senja itu aku merasa…
Cerpen : Mimpi untuk Dresden oleh Fransisca Dewi Ria Utari
Buku kecil bersampul kertas krep warna ungu pucat. Ada tiga nama tertulis di dalamnya. Urutan pertama yang akan kutemui dalam waktu seperempat jam. Kubuka kembali buku di genggamanku. Ingin kupastikan namanya tak…
Cerpen : Maling oleh Putu Wijaya
Jambangan bunga porselen di rumah Pak Amat hilang. Amat ngamuk. “Itu hadiah dari Gubernur. Barang kuno Cina dari dinasti Ming. Kalau dijual sekarang bisa lima milyar harganya!” teriak Amat mencak-mencak. Dari pagi…
Cerpen : Kisah Pilot Bejo oleh Budi Darma
Barang siapa ingin menyaksikan pilot berwajah kocak, tengoklah Pilot Bejo. Kulitnya licin, wajahnya seperti terbuat dari karet, dan apakah dia sedang gemetar ketakutan, sedih, atau gembira, selalu memancarkan suasana sejuk. Karena itu,…
Cerpen : Tanpa Pelayat dan Mawar Duka oleh Martin Aleida
Ke mana pun dia pergi, di benaknya terbayang sebuah lubang ancaman. Begitu besar dan menakutkan, siap menelannya, menyusul tumbangnya raja tiranis yang berkuasa lebih dari tiga puluh tahun. Dia sadar, di kalangan…
Cerpen : Lampu Ibu oleh Adek Alwi
Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta, didampingi seorang cucu. Kami tidak bisa lagi menutup mata serta telinga beliau. Kasus dan sakitnya abangku, Palinggam, telah disiarkan koran dan televisi. Tak dapat lagi ditutup-tutupi…
Cerpen : Empat Perempuan dalam Perut Babi oleh S Prasetyo Utomo
Mencapai pelataran rumah Sekar, termangu di bawah pohon kersen yang berbuah lebat, ranum-ranum kemerahan, mengapa yang kutemui malah wajah pucat perempuan itu? Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum lagi…
Cerpen : Musibah oleh Jujur Prananto
Menjelang tengah malam. Ponsel dekat “bedlamp” bergetar. Terlalu lama untuk sebuah pesan pendek. Di perbatasan antara terjaga dan bermimpi, Budiman berdecak kesal sekaligus meraih ponselnya. Telepon dari Mbak Lita? Di malam selarut…
Cerpen : Lintang oleh Rieke Diah Pitaloka
Mengenang perempuan itu ibarat menonton cukilan-cukilan adegan yang diam-diam menyatu dalam sebuah film. Wajahnya seperti embun, matanya bening. Bibir mungilnya selalu tersenyum membuat setiap orang yang bertemu ingin menyapa. Ia seorang perempuan…