Sudah kusaksikan bagaimana Asikin dibunuh pensiunnya sendiri secara perlahan. Juga Asril. Beberapa bulan sebelum memasuki masa pensiun, mereka mulai berjuang melawan waswas dan perasaan tak berharga, disia-siakan. Perasaan yang terus menyiksa mereka…
Cerpen : Gerhana Mata oleh Djenar Maesa Ayu
Malam selalu memberi ketenangan. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam…
Cerpen : Cermin Jiwa oleh S Prasetyo Utomo
Wajah Ulfa jernih, tenang, dan penuh percaya diri. Sepasang lengkung alisnya serupa mantra. Menenteramkan siapa pun yang menatapnya. Ia keluar dari rumah kayu. Menampakkan sosok samar di kebun anggrek. Hangat matahari menyingkap…
Cerpen : Permen oleh Agus Noor
Melihat mulut Iza yang terus cembetut, Neal tahu kalau anaknya itu masih kesal karena tak diperbolehkan membeli permen yang tadi sore dilihatnya dijajakan di perempatan jalan. Bukannya Neal tak memperbolehkan Iza makan…
Cerpen : Serdadu Tua dan Jipnya oleh Wilson Nadeak
Sudahlah! Kita hidup dengan gaji kita saja. Tidak perlu pikirkan macam-macam. Usia kepala tujuh bukanlah saat yang tepat untuk merawat mobil tua. Kuno lagi. Onderdil jip itu pun sukar dicari. Biarlah kami…
Cerpen : Ayah Pulang oleh Ratna Indraswari Ibrahim
Mak Yem meneleponku malam ini, “Tadi siang, Ayah kena serangan jantung lagi, sekarang dirawat di rumah sakit. Nana, sebaiknya kau pulang, tengok ayahmu.” “Saya besok masih ada pekerjaan, mengapa tidak Yu Ning…
Cerpen : Koh Su oleh Puthut EA
Harus kuakui, seluruh gambaranku tentang Koh Su ada pada laki-laki itu. Selama hampir setengah jam aku berada di sini, tidak pernah kudengar suaranya. Tidak juga pernah kulihat ia menoleh ke arah para…
Cerpen : Ketika Mereka Pulang oleh Susialine Adilia
Jamal membetulkan sarungnya. Keluar kamar, mengambil senter di meja panjang, membuka pintu belakang, dan menghilang di kegelapan malam. Meninggalkan Imah, istrinya, yang menggigil di kamar sempit pengap. Menjemput Mus. Hanya itu yang…
Cerpen : Luh Sumaratih oleh Sunaryono Basuki Ks
Delapan obor menyala bersama, sementara wajah-wajah berkeringat duduk membentuk lingkaran, mulut mereka berkeciap bak burung-burung kecil menanti jatah makan dari induknya. Suara gamelan bambu dan tiupan seruling sudah terdengar dan dari tadi…
Cerpen : Matahari Musim Dingin oleh Triyanto Triwikromo
Jangan pernah percaya pada apa pun yang kau lihat di bawah matahari Melbourne. Mungkin kau pernah menganggap makhluk bersayap merah-biru yang bertengger di genteng rumah berarsitektur Yunani itu hanya sepasang burung Rosella…