Debu jalanan yang pekat menyesakkan napas. Sebuah truk pengangkut tanah timbun mengepulkan debu itu sehingga menggelapkan pandangan. Panas terik memang telah berlangsung terlalu lama. Aku sendiri tak sanggup lagi membilang karena sudah…
Cerpen : Pohon Mangga Alas Tua oleh S Prasetyo Utomo
Jalan setapak di tepi Alas Tua terus mendaki, licin, rimbun, dan sunyi. Salma menelusuri jalan setapak, sehabis diguyur hujan siang tadi. Ia melintasi tepian Alas Tua, hutan di tepi kota. Kandungannya membesar….
Cerpen : Belenggu Salju oleh Triyanto Triwikromo
Tak ada kepak gagak di Compton yang selalu menguarkan bau sampah busuk, anggur murahan, dan bangkai manusia yang disembunyikan di ghettos atau rumah-rumah besar yang mengonggok tanpa lampu. Juga tak ada salju…
Cerpen : Samanasanta oleh F Rahardi
Kamu akan berangkat lewat Denpasar atau Surabaya atau Kupangkah? Bolehkah aku titip diriku karena ini baru pertama aku datang ke Larantuka. Benarkah nama kota di Flores tempat Samanasanta itu Larantuka? Bolehkah? Aku…
Cerpen : Salvo oleh Beni Setia
Ada senapan serang AKA, dengan magasin penuh, di belakang lemari pakaian kamar tidur utama. Sederetan paku di dinding menahannya agar tidak jatuh dan tetap tersembunyi. Tersamarkan, meski dengan gampang kita meraih dan…
Cerpen : Gincu Ini Merah, Sayang oleh Eka Kurniawan
Seorang perempuan dengan gincu serupa cahaya lampion melangkah menuju pintu bar Beranda. Di saat yang sama lima buah pick-up berhenti tepat di depan gerbang. Di masa lalu, hal seperti ini biasanya lebih…
Cerpen : Kursi Empuk di Dada Sumarti oleh Pamusuk Eneste
Ketika kaum kerabat, handai tolan, kenalan, dan tetangga satu per satu meninggalkan rumah duka, tahulah Sumarti bahwa ia akan sendirian. Sumarti akan menjalani sisa hidupnya seorang diri. Ditemani pembantu rumah tangga, tukang…
Cerpen : Sinai oleh Fransisca Dewi Ria Utari
Sinai melintas di depanku. Ia terlihat menawan hari ini. Tubuhnya beraroma wangi chamomile dan apricot. Rambutnya dikepang dua. Mantel panjang warna coklat tua membungkus tubuh semampainya dari dinginnya malam. Parasnya yang bulat…
Cerpen : Cinta di Atas Perahu Cadik oleh Seno Gumira Ajidarma
Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. Hayati yang biasa memikul air sejak subuh, sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar pantai yang tampak…
Cerpen : Tiurmaida oleh Hasan Al Banna
Amang oi! Kontan ia melonjak setengah berteriak. Induk jarinya pecah bercucur darah. Sambil menggendong tangan kirinya yang kebas, ia bergegas turun ke bawah. Mencari daun pagapaga untuk dikunyah, sesegera mungkin dilumurkan ke…