“AKU ingin mati bersamamu,” ucap Lastri ditengah-tengah melamun. Hembusan angin malam menerpa wajah dua orang tua yang duduk berdampingan di sebuah kursi panjang yang terbuat dari bambu di teras rumahnya. “Kau ini…
Cerpen : Kalau Kepalamu Dipegang Orang, Martabatmu Jatuh oleh Tin Miswary
HUJAN masih deras ketika Abdul Gani duduk termangu di teras rumahnya sore itu. Laki-laki sepuh itu duduk pada sofa tua dengan beludru yang sudah koyak dan busa yang menyembul. Kedua bola matanya…
Cerpen : Siwa Nataraja oleh Ni Wayan Wijayanti
Perempuan di hadapanku terdiam. Tatapannya seolah memohon ampun. Namun hatiku sudah terlalu mengeras, bahkan sekadar hanya untuk meliriknya dengan sudut mata. Menurutku, dia sudah lama mati. Bahkan bayangannya saja sudah terkubur dalam,…
Cerpen : Lelaki Eukaliptus oleh Alexander Bala
Bus antarprovinsi itu berhenti di pinggir jalan negara. Di sore hari, persis saat warga Desa Laramata telah berada di rumahnya masing-masing, setelah sepanjang hari bergumul dengan tanah dan lahan. Biasanya, kedatangan warga…
Cerpen : Agustinus oleh Teni Ganjar Badruzzaman
Dua minggu setelah hari ulang tahunnya yang keempat belas, Agustinus yang sedang bermain ponsel di kamar terperanjat dari posisi rebahannya, ketika tiba-tiba terdengar pintu depan rumahnya di gedor-gedor dengan kasar. Tepat saat…
Cerpen : Satu Wanita, Dua Lelaki oleh A Warits Rovi
SAAT usia kehamilanku enam bulan, Bando meninggalkanku begitu saja di tenda darurat yang terbuat dari anyaman daun siwalan, tepat pada hari kedua saat kami menjelajahi hutan Kesong. Ia tak peduli tenda itu…
Cerpen : Mbah Usrok oleh Arif Mustofa
GENAP sepuluh tahun sudah Yusron atau biasa dipanggi Mbah Usrok hidup sebagai penjaga kandang kambing milik Haji Apriono atau biasa dipanggil Kaji Budi. Biasalah orang Jawa, sering mengubah konsonan H menjadi K…
Cerpen : Mimpi oleh Pandu Wijaya Saputra
TORO terbangun dengan Mata membelalak. Nafasnya terengah-engah. Cahaya lampu kamar yang temaram tepat jatuh menerangi sebagian wajahnya, memperlihatkan butiran-butiran keringat yang mengalir di dahinya. Berbagai pikiran berkecamuk di kepala Toro: cemas, bingung,…
Cerpen : “Robohnya Surau Kami” Masih Tetap Aktual oleh Pamusuk Eneste
SEBAGIAN dari pembaca barangkali sudah pernah membaca cerpen “Robohnya Surau Kami” karya sastrawan AA Navis (1924-2003). Cerpen yang ditulis pada tahun 1950-an itu memperoleh hadiah sastra majalah Kisah pada 1955. Kemudian cerpen…
Cerpen : Berdoa kepada yang tidak Ada
BIASANYA, sebuah persembahan diambil dari sesuatu yang bersifat jarang, langka, atau setidaknya cukup istimewa bagi sebagian besar orang. Contohnya daging dan sayur bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau dan ikan serta aneka…