8 Oktober 1987 Berita meninggalnya ibu sungguh mengagetkan. Setahuku kondisi kesehatan ibu di usia 59 tahun itu cukup baik. Ah, sudahlah, itu diperjelas nanti. Yang penting bagaimana cara bisa sampai ke Solo…
Cerpen : Mei Salon oleh Iin Farliani
Sebuah plang bertulisan ”Mei Salon” tergantung di tembok salah satu rumah bercat merah muda yang berada di lingkungan wisma para pegawai dari luar daerah itu. Tidak ada keterangan lain yang menunjukkan bahwa…
Cerpen : Kesambet
EMHA Ainun Nadjib mengaku kesambet ketika mengatai Presiden Joko Widodo (Jokowi) seperti Firaun (raja zalim). Itulah celoteh Cak Nun, panggilannya, kenapa dirinya sampai mengeluarkan pernyataan kontroversial bin irasional tersebut. Dalam masyarakat Jawa,…
Cerpen : Setitik Nila di Sokalima
GU membuka mata, sebaris langit mengintip dari celah atap. Gelap. Ini malam hari, tapi seberapa malam? Sudah malam keberapa? Gu tak pernah tahu. Dia hanya menandai pergantian hari lewat permainan cahaya yang…
Cerpen : Rumah Kosong Harga Mati oleh Kurnia Effendi
DECIT ban menggerus aspal sepanjang beberapa meter menyayat telingaku. Ven menghentikan mobil mendadak, membuatku memaki spontan. Sabuk pengaman mengencang tiba-tiba. Dadaku sakit. “Sori, kelewatan!” Ven mengempas punggung ke sandaran. Sebelum sampai di…
Cerpen : Pesta dalam Mimpi oleh Faizul Futhona U
SESUAI keinginanmu, aku mengundangmu untuk hadir ke sebuah pesta dalam mimpiku. Sudah banyak orang yang aku undang. Mulai dari orang besar sampai kecil. Presiden serta menteri-menterinya, tukang pandai besi, pemulung, orang gila,…
Cerpen : Layang-Layang Tanpa Kepala oleh Suwito Adi Prasetyo
PULANG sekolah dengan tas masih di pundak, Alit memegangi rok ibunya dan merengek minta diizinkan ke rumah ayahnya. “Tidak usah ke sana,” kata ibu. Selama ini Alit tidak pernah berhasil meminta izin…
Cerpen : Setitik Nila di Sokalima oleh Hendra Purnama
GU membuka mata, sebaris langit mengintip dari celah atap. Gelap. Ini malam hari, tapi seberapa malam? Sudah malam keberapa? Gu tak pernah tahu. Dia hanya menandai pergantian hari lewat permainan cahaya yang…
Cerpen : Yang Lebih Kuat dari Waktu Hanyalah Rindu oleh Dody Widianto
MATAHARI masih dingin dalam sudut sepuluh derajat pandangan. Bulat kuning dan masih saja diam. Dari kejauhan, langit sekitar remang ungu bercampur merah jambu. Ada butir bening di pucuk-pucuk ilalang, di tepi jembatan…
Cerpen : Perempuan Hujan oleh Indra Tranggono
Kami tak tahu siapa nama perempuan itu. Kami lebih suka menyebutnya Perempuan Hujan. Sebab, ia selalu datang ke kota kami setiap bulan yang penuh hujan. Ia selalu membawa cerita. Atau kisah-kisah apa…