Begitulah hujan menunjukkan cinta dengan caranya. Sehabis mengangkat jemuran pakaian yang basah tertimpa hujan yang turun tanpa aba-aba, kubawa tubuh yang basah berkeringat ini duduk di lantai dapur dekat pintu. Di luar…
Cerpen : Pulang ke Kampung Gedong oleh Angga T Sanjaya
Kau duduk di atas kursi kayu, di depan ruko sembako yang menganga layaknya sebuah mata. Pandanganmu menjarah jalanan kampung Gedong yang memanjang layaknya tahun-tahun yang rebah. Orang-orang lalu-lalang, melintas dalam berbagai urusan….
Cerpen : Pesan dari Seorang yang Bernama Presiden oleh Muhammad Ramadhan Batubara
Pesan pertama dari seorang yang bernama Presiden sampai ke telingaku saat tidur. Ketika itu seperti mimpi, suara-suara terdengar sayup, tapi terasa benar. Katanya, tanamlah cabai rawit karena dari sana semuanya bermula. Lewat…
Cerpen : Pesan dari Seorang yang Bernama Presiden oleh Muhammad Ramadhan Batubara
PESAN pertama dari seorang yang bernama Presiden sampai ke telingaku saat tidur. Ketika itu seperti mimpi, suara-suara terdengar sayup, tapi terasa benar. Katanya, tanamlah cabai rawit karena dari sana semuanya bermula. Lewat…
Cerpen : Tarung Laut oleh Risda Nur Widia
Oleh RISDA NUR WIDIA* — Pagi belum membuka gelapnya ketika dengan kaki bergetar, Pahar menggeret kapal memancing milik pamannya yang diparkir di naje. Dengan seluruh kekuatannya, kapal itu Pahar seret menuju bibir…
Cerpen : Lot 23 oleh Wendoko
BEGITU melewati pintu masuk mal, lelaki itu mencium bau tidak sedap—seperti bau apak, lembap, atau entah apa istilahnya. Bau itu seperti udara dalam kamar yang lama tidak dibuka. Beberapa meter dari…
Cerpen : Hujan Doa di Pasar Takjil oleh Andi Wirambara
”Capek, Nak?” Sadam menyambut pertanyaan ayahnya dengan anggukan. Mereka berdua sudah cukup lama berkeliling di Pasar Takjil yang ramai ini, wajar jika bocah seperti Sadam sudah merasakan pegal-pegal. Kaki mungil yang terbungkus…
Cerpen : Dalam Bilik Gelap Sugeng Aji oleh Yulistya Yoo
Satu gelegar guntur itu menggunting seluruh aliran listrik satu desa. Hujan yang turun sejak sore, tidak juga mau reda meski dini hari telah menjejak. Sebuah rumah paling besar berkonsep vila mewah tidak…
Cerpen : Kembang Kuburan oleh A Muttaqin
Tentu hanya Tuhan yang tahu, mengapa Asmupa demikian mencintai Markakim. Sejak bau kencur, Asmupa telah menunjukkan kecantikan yang sungguh menakjubkan. Matanya tajam. Alisnya tajam. Kulitnya bersih. Tubuhnya berisi. Wajahnya memancarkan aura gaib…
Cerpen : Bintang Taurus oleh Ilham Wahyudi
1. Sarapan Pertama di Delhi Tiba di Delhi, aku yang tak memiliki seorang pun kenalan, akhirnya mau tidak mau tidur di Terminal Kendriya. Pagi hari sekitar pukul 7, aku terbangun. Aku rasakan…