Nyanyian token bergema lagi di akhir bulan. Di sepanjang lorong gang itu, rumah-rumah kontrakan kembar ukuran 4×4 yang memanjang sampai ujung mengeluarkan lampu kedap-kedip warna merah di meterannya. Satu-persatu orang punya rumah…
Cerpen : Kisah Si Pemahat Wajah dan Tuan Gugu Gagap oleh Yudhi Herwibowo
Syahdan, akan ada satu waktu saat angin berembus pelan menebarkan kesejukan yang samar sekaligus menguarkan aroma bunga-bunga musim semi dan seorang laki-laki –dengan baju panjang yang menutupi hingga kepalanya– terlihat berjalan di…
Cerpen : Perkenalkan, Uno oleh Martin Aleida
”Selamat datang. Mari menderita. Jika sudah berada di luar organisasi ini, apa pun dapat kita kerjakan.” Dia menyambutku sebelum warga kota besar yang sumuk ini selesai sarapan pagi. Sesungguhnya aku tak melamar….
Cerpen : Indahnya Gotong Royong! oleh Dede Soepriatna
DI sebuah dahan pohon di pedalaman hutan Papua, kawanan semut merah terlihat bahu-membahu membawa makanan ke dalam sarang di atas pohon. Namun, tiba-tiba datang burung kasturi berkepala hitam, burung khas Papua dan…
Cerpen : Perkenalkan, Uno oleh Martin Aleida
“SELAMAT datang. Mari menderita. Jika sudah berada di luar organisasi ini, apa pun dapat kita kerjakan.” Dia menyambutku sebelum warga kota besar yang sumuk ini selesai sarapan pagi. Sesungguhnya aku tak melamar….
Cerpen : Orang-orang Katolik di Belfast oleh Baron Yudo Negoro
DI bangku kayu, Liam duduk pasrah dengan tangan terbelenggu, terkurung dalam ruangan lembap tersembunyi di Felons Club. Ia berulang-ulang mengecam dalam hati. Kalian salah, aku salah, kita salah. IRA mengatasnamakan Katolik, tapi…
Cerpen : Membeli Nasib oleh Ken Hanggara
”Kau gila, ya! Apa yang kau katakan semalam?” Seseorang yang tinggal tidak jauh dari tempatku, mendadak membuka pintu kamarku dengan kasar. Dengan wajah yang tak ramah, ia mencecarku. ”Apa maksudmu?” ”Semalam! Ketika…
Cerpen : Langit Kelabu di Hiroshima oleh Arie Fajar Rofian
Aku sungguh tidak ingat kapan tepatnya pertama kali memiliki keinginan untuk mengunjungi Hiroshima, kota yang pernah menjadi saksi sejarah betapa kejamnya perlakuan manusia terhadap manusia lainnya. Mungkin, itu muncul dari potongan video…
Cerpen : 2025 oleh Putu Wijaya
”Pameran foto Boeleleng Tempo Doeloe menunjukkan, di zaman kolonial pun kehidupan agama sudah dibarengi toleransi yang tinggi. Lihat barisan tokoh Hindu dan Muslim menyambut Gubernur Jenderal de Jonge. Tampak toko China, Arab,…
Cerpen : Kentut oleh Petam Marpaung
PAGI itu orang-orang berdasi, dengan sepatu mengkilat dan jas yang mentereng, mulai memasuki ruang sidang. Setiap anggota diwajibkan menempati kursi yang telah ditetapkan oleh panitia. Anggota yang satu dengan yang lain tidak…