Tag: Rizqi Turama

Cerpen : Rahasia Teh Hangat Warung Mang Aman oleh Rizqi Turama

Abas nyaris tersedak saat meminum teh hangat buatannya sendiri. Itu terjadi bukan tanpa alasan. Rasa teh hangat yang ia teguk barusan benar-benar hampir dilupakannya. Hampir. Ia terdiam beberapa detik, lalu menatap gelas kecil berisi teh hangat yang ia pegang. Tak ada yang istimewa dari teh itu. Warna merahnya, aroma khas dari teh celup, serta sedikit […]

Cerpen : Keluarga-Keluarga Kampang oleh Rizqi Turama

Oleh: RIZQI TURAMA — Setengah jam setelah jenazah ayah ditanam, kusaksikan mereka telah pecah membahas tanah, rumah, serta hak-hak mereka berdasar silsilah. Awalnya aku terkejut, tetapi kemudian muncul kesadaran bahwa memang itulah motivasi mereka datang ke sini. Alangkah lugunya aku berpikir mereka rela menempuh perjalanan jauh, empat jam dari Palembang, sekadar untuk menghibur aku –satu-satunya […]

Cerpen : Apakah Langit Akan Biru Hari Ini? oleh Rizqi Turama

Fitri baru akan menikmati langit di siang menjelang sore hari itu ketika suara mertuanya terdengar mendeham. Sebagaimana petir yang datang tiba-tiba, begitulah suara dehaman itu terdengar oleh Fitri. Langit yang biru di luar sana terasa mendadak jadi abu-abu. Ia langsung berdiri dari duduknya. Meskipun hanya mendeham, ia tahu bahwa mertuanya sedang tidak senang dengan sesuatu […]

Cerpen : Jumat Miliknya oleh Rizqi Turama

MAT Ali langsung tertarik ketika pertama kali mendengar keutamaan orang yang disalatkan oleh empat puluh orang atau lebih. Berhari-hari ia hanya memikirkan hal tersebut hingga kemudian ia mendengar ceramah lain tentang keutamaan orang yang mengirat di hari Jumat. Ia pun menyimpulkan bahwa melepas napas di hari Jumat lalu disalatkan oleh empat puluh orang dalam saf-saf […]

Cerpen : Tenggelam di Bukit oleh Rizqi Turama

”Alangkah lucunya rumah kita tenggelam di tempat yang disebut orang ’Bukit Besar’, sementara mereka yang menetap di ’Rawa Bebek’ aman-aman saja ketika hujan menghantam.” ISTRIKU mencerocos senewen. Aku diam. Dia berlebihan, tentu saja. Pertama, meskipun disebut ”Bukit”, tempat ini sama sekali tidak menyerupai bukit yang menjulang. Tinggi tempat ini tak berbeda jauh dengan ”Rawa Bebek”. […]

Cerpen : Ares dan Gajah-Gajah yang Putus Asa oleh Rizqi Turama

ARES dan gajah-gajah itu seolah saling tatap dari kejauhan. Mereka sama-sama berhenti melangkah untuk beberapa detik, lalu kembali berjalan. Gajah-gajah menuju ke timur dan Ares mengarahkan kaki ke barat. Lelaki itu berpikir bahwa arah nasib mereka memang berlawanan. Dirinya menuju masa depan yang menjanjikan, sementara para gajah beranjak kepada keputusasaan. Sang lelaki merasa bahwa dialah […]

Cerpen : Binar yang Memudar dari Matanya oleh Rizqi Turama

Dari tiga anak Ibu, akulah satu-satunya anak yang gagal. Kakak pertama sudah jadi manajer di sebuah perusahaan multinasional. Rumahnya besar dengan tiga mobil mewah berjajar di garasi. Kakakku yang kedua bekerja di tambang minyak. Ia pulang ke rumah sebulan sekali. Di saat itu ia hampir selalu membeli jam tangan baru, ponsel baru, atau barang-barang baru […]

Cerpen : Ketika Kuantar Kau Pergi oleh Rizqi Turama

Senyum mengembang cerah, tangan melambai perlahan, dan ucapan “Dadah” yang lucu selalu kau beri ketika aku hendak berangkat kerja. Tidak hanya itu, saat mengucap “Dadah” kau akan mengeluarkan semua tenaga sehingga suaramu begitu keras. Mungkin suaramu akan mampu didengar oleh setidaknya sepuluh rumah terdekat dari rumah kita. Tentu aku akan ikut melambaikan tangan sebelum menarik […]

Cerpen : Kelabu di Kepala Anwar oleh Rizqi Turama

Udara terasa lebih pekat. Awan sama putih, langit sama biru, tapi udara lebih berat ketimbang tempat lain. Anwar membuka kancing teratas kemeja kerjanya. Panas. Seperti biasa. Meskipun penyejuk ruangan sudah berada di suhu terendah, uap panas terus menerjang seperti tak hendak dikalahkan. Sementara itu, mata Anwar menatap layar lekat-lekat. Masa depan orang banyak dipertaruhkan dalam […]

Cerpen : Masakan Ibu dan Bumbu-bumbu di Halaman Rumah oleh Rizqi Turama

Bagi sebagian besar orang, halaman rumah kami tampak aneh. Ada banyak tanaman tumbuh, tapi tak ada setangkai pun bunga di sana. Mungkin orang akan merasa lebih aneh lagi saat tahu bahwa itu semua atas pilihan ibu. Aku sendiri tak pernah menanyakan kepada ibu mengenai alasannya tidak berniat menumbuhkan bunga, tapi kuduga itu terkait dengan keinginannya […]

Laman Berikutnya »