Setelah kau renungkan, kau membenarkan yang dikatakan oleh Pranaraja, abdi kesayanganmu itu. Kau memang harus melenyapkan keturunan Anusapati. Sesegera mungkin. Jika perlu sampai ke akar-akarnya. Sudah pasti, jika kau membiarkannya, kau hanya…
Kategori: KOMPAS ONLINE
Cerpen : Tohjaya oleh Risen Dhawuh Abdullah
SETELAH kau renungkan, kau membenarkan yang dikatakan oleh Pranaraja, abdi kesayanganmu itu. Kau memang harus melenyapkan keturunan Anusapati. Sesegera mungkin. Jika perlu sampai ke akar-akarnya. Sudah pasti, jika kau membiarkannya, kau hanya…
Cerpen : Angka Satu dan Seluruh Titiknya oleh Era Ari Astanto
Dari tempat kau berdiri, kau melihatnya. Sebuah lukisan raksasa di dinding aula museum yang baru saja kau masuki. Lukisan itu memanggilmu tanpa suara, menarikmu lebih dekat. Goresannya seperti membentuk negara (atau kerajaan?)…
Cerpen : Orang-orang Aneh dari Selatan oleh Ni Komang Ariani
Aku melihat orang-orang berdatangan dari Selatan. Mereka datang dalam rombongan-rombongan kecil. Orang-orang yang datang itu tampak lelah dan sarat oleh kekacauan di dalam pikiran mereka. Kepergian mereka ke desa Rembulan seperti menyimpan…
Cerpen : Rumah Baru Aira oleh Dede Soepriatna
HARI ini adalah hari pertama Aira tinggal di rumah barunya di Soreang, Bandung, Jawa Barat. Aira yang semula tinggal di Jayapura, Papua, terpaksa pindah mengikuti ayahnya yang pindah tugas. Pagi ini, ia…
Cerpen : Orang-orang Aneh dari Selatan oleh Ni Komang Ariani
AKU melihat orang-orang berdatangan dari Selatan. Mereka datang dalam rombongan-rombongan kecil. Orang-orang yang datang itu tampak lelah dan sarat oleh kekacauan di dalam pikiran mereka. Kepergian mereka ke desa Rembulan seperti menyimpan…
Cerpen : Dalam Gelap Menuju Cahaya Terang oleh Astuti
Namanya adalah Laila. Seorang perempuan yang sejak kecil sudah akrab dengan kesedihan. Ayahnya meninggal saat ia berusia delapan tahun, meninggalkan lubang besar di hatinya dan beban yang tak terhitung pada pundak ibunya….
Cerpen : Perempuan Berjari Enam oleh Boiman Manik
Aku bermimpi, berada di tengah kebun kopi. Ada seorang nenek tua, berambut putih, dan berjalan seperti mencari sesuatu. Punggungnya terlihat berat dan menonjol seperti punuk unta, aku memperhatikannya dengan canggung dari belakang….
Cerpen : Kantong Fiya oleh May Wagiman
PAGI ini Almira dan Fiya pergi berangkat ke sekolah. Fiya membawa tas berwarna merah muda kesukaannya. Tas cantik hadiah ulang tahun dari ayah itu diselempangkannya di depan dada. Raut wajahnya ceria. Ia…
Cerpen : Tiga Kuburan Lain oleh T Agus Khaidir
TOK JALAL tak lagi riang. Biasanya, selepas Isya dia akan duduk berbincang bergurau-gurau di beranda masjid. Kadangkala sampai mendekati tengah malam, dan baru bergerak setelah Munawar Tawakal, atas perintah Nek Tok, datang…