Matanya memerah. Terlihat jelas sembap itu mengabarkan luka menganga di hatinya. Dia layangkan pandangan ke arah yang entah. Lurus menukik pagar bambu di halaman dan pohon mahoni yang berjejer rapi di sepanjang…
Kategori: KOMPAS ONLINE
Cerpen : Agama Air oleh Setia Naka Andrian
Sebelum cahaya hari ini napasnya tersendat-sendat hingga sepenuhnya lenyap di sisi barat kepala jagat. Sebelum ada pertanyaan-pertanyaan keluar dari mulut para pelayat, “Ia meninggal karena apa? Apakah ia bisa hidup tanpa minum?…
Cerpen : Revolusi oleh Mardian Siagian
Profesor Asimov tidak beranjak dari ruang kerjanya. Tidak seperti biasa, kali ini ia berdiam di sana seharian. Tak ada monitor yang menyala—yang menghubungkannya pada kekacauan dunia atau secercah kabar ditemukannya peretas yang…
Cerpen : Setahun Sunyi Gamelan oleh S Prasetyo Utomo
Benarkah Ayah dan teman-temannya memainkan gamelan? Setahun sepeninggal Ibu, Ayah memilih hidup dalam sunyi. Gamelan dikerudung kain merah, berlapis debu. “Biar aku merenungi semua kebaikan ibumu,” kata Ayah. “Sejak nikah, aku terlalu…
Cerpen : Dilarang Makan Babi oleh Wika G Wulandari
Tapi Mama, meski sempat mengungsi ke rumah sanak keluarga satu hari setelah kejadian, tetap kembali ke rumah asal. Menetap di sana. Seorang diri. Menua, melihat anaknya satu per satu merantau membawa trauma….
Cerpen : Adipati Sukma Pergi ke Surga oleh Eko Setyawan
Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. Sebab ketakutan telah menjalar ke diriku. Bau anyir darah yang menusuk hidung, mayat-mayat yang bergelimpangan, juga mesiu yang berserakan di tanah. Semuanya serupa kiamat. Tak…
Cerpen : Kilometer 74 oleh Haryo Pamungkas
Aku bisa melihat bunga-bunga yang ditabur sepanjang Kilometer 74 ini …. Seminggu sebelumnya, salah satu bus yang mengantar turis oleng, kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan, terjun ke jurang bersama seluruh muatannya….
Cerpen : Delman oleh Yus R Ismail
Gerimis. Adzan Isya lima menit yang lalu. Sepi. Suara jengkrik, cihcir, gaang, caricangkas, dan binatang malam lainnya. Semakin sepi. Tidak ada suara-suara manusia. Saya duduk di kursi balkon loteng. Lampu-lampu kecil berkelap-kelip…
Cerpen : Menikah dengan Terop oleh Tjak S Parlan
Setelah bartahun-tahun tidak saling berkabar, mereka bertemu di sebuah kafe. Sujar menikmati segelas cold brew— jenis yang dibanggakan Bari sebagai menu favorit di kafe yang dikelolanya itu. “Kamu masih ingat apa yang…
Cerpen : Di Ruang Bercat Putih Tiga Perempuan Berbaju Putih Berhati Tak Putih oleh Nevatuhella
Aku memasuki ruang bercat putih, dengan tumpukan map di tiap meja. Tiga orang pekerja melengkapi. Dua sudah berusia diatas lima puluh tahun, bahkan sudah enam puluh bisa ditaksir. Duduk sederet, menghadap pintu…