Saat pintu kamar dibuka dengan sekali dorong, setelah daun pintu itu menyentuh tembok, seekor ulat akan terlihat, diam dengan sedikit meliukkan tubuhnya yang berwarna hitam bergaris kuning memanjang dari ekor ke kepala,…
Kategori: KOMPAS ONLINE
Cerpen : Wakyat oleh Putu Wijaya
Bu Amat tiba-tiba menodong suaminya. ”Sejatinya Wakyat itu siapa, Pak?” Amat tertegun. Berpikir, lalu menggeleng. ”Bapak tidak tahu.” ”Ah, masak tidak? Kita kan yang memilihnya?” ”Memilih? Memilih siapa?” ”Wakyat.” ”Siapa dia?” ”Pilihan…
Cerpen : Dolag Melukis Tuhan oleh Supartika
Si tua bangka Dolag menaruh kanvas lukis berukuran 90 x 50 sentimeter di atas potongan kayu yang disandarkannya pada tembok. Ia pandangi kanvas itu sebelum akhirnya menyeringai, memperlihatkan giginya yang ompong di…
Cerpen : Sepasang Mata dan Tato untuk Seorang Perempuan oleh Alexander Robert
Ketika jarum tipis mencacah setiap lapisan kulit dan membekukan darah, menyatu dalam warna yang membentuk gambar baru di jangat tubuh. Maka aku tidak ingin engkau bersedih terlalu lama, meskipun kehidupan ini dibangun…
Cerpen : Dua Belas Kebijaksanaan oleh Ida Fitri
”Aku dibesarkan dengan hikayat para prajurit berkuda Mongol yang membakar buku-buku di Rumah Kebijaksanan dan membuang abunya ke sungai Tigris, yang membuat air sungai itu berubah hitam,” ujarku kepada Tuan Aiyubi, pendongeng…
Cerpen : Menggantung Rasa di Ujung Sumatera oleh Maya Sandita
Seketika itu pula Andin merasa dirinya tak ubah sebatang lilin. Memberi cahaya, menerangi gelapnya malam Asra, ketika meluapkan rasa di dinding kamarnya. Rasa penuh makna bernama cinta pada seorang perempuan yang dialirkannya…
Cerpen : Bapak oleh Ahimsa Marga
Usiaku baru 8 tahun ketika ibu melarangku mbeksa.*) Padahal baru saja aku bisa naik kendi kosong, mengatur keseimbangannya sambil mbeksa dan memutarnya ke arah delapan mata angin. Tapi kegembiraan bisa menguasai Beksan…
Cerpen : Suatu Ketika di Ruang Gawat Darurat oleh Des Alwi
Tidak mudah membedakan rintihan kesakitan dan erangan kematian. Apalagi dalam ruang gawat darurat yang dipenuhi pasien-pasien kritis. Mendengarkan rintihan sambil menahan sakit tentu lebih susah. Terlebih lagi jika badan tidak bisa digerakkan….
Cerpen : Kematian Kedua oleh Aslan Abidin
Lelaki tua itu akhirnya benar-benar meninggal dunia. Jenazahnya ditutupi kain hitam dan diletakkan di atas tikar daun lontar di ruang tengah rumahnya. Sebuah rumah panggung suku Kajang. Orang-orang bersedih melayat mayatnya. Menyingkap…
Cerpen : Amnesti oleh Putu Wijaya
Di zaman baheula, ada seorang bromocorah yang divonis hukuman mati. Ulahnya membunuh, menjarah, menyiksa, sangat biadab. Seluruh warga mengutuk dan berdoa supaya bajingan itu cepat mati. Dia dianggap iblis yang memberi isyarat…