Oleh SARAH MONICA — Air asin kepahitan itu menghantam wajahnya hingga hidung dan mulutnya yang setengah terbuka tersedak. Ia terbangun kaget, terbatuk-batuk dalam kondisi masih setengah sadar. Tangannya mengusap wajahnya yang berbuih…
Cerpen : Kampung Matahari oleh Dominiko Ariyanto Djaga
Sebuah perkampungan dekat pantai, kaki dan bahu penduduknya yang kuat mendorong sampan dan menahan dingin angin malam. Para pria menjemput malam sekaligus pagi setelah menjelajahi laut. Setelah lelah bertarung dengan laut, mereka…
Cerpen : Pertemuan oleh Aminudin TH Siregar
Dia melinting rokoknya dengan jemari bergemetaran. Dinding rumahnya penuh dengan tempelan peta, salinan dokumen, dan litografi kusam. Buku-buku bertumpuk di meja, berjejal di rak, dan berhamburan di lantai. Kami tidak sengaja bertemu…
Cerpen : Terminal Akhir oleh Puti Raudhatul Jannah
NEO menatap antrian yang tiada habisnya, kembali mengecek nomor miliknya. 70001. Menghembuskan napas, laki-laki itu terus maju hingga sampai pada nomornya. “Nomor 70001, benar?” “Benar!” Neo terkejut mendengar suara yang ikut membenarkan….
Cerpen : Memori Kepala oleh Moh Tsabit Husain
SIANG itu, kakak iparku membuat heboh seisi rumah. Dia mengobrak abrik laci, lemari, rak buku berikut buku-bukunya, menggeser meja, menjungkirbalikkan kursi, mengobok-obok sofa sampai isinya berhamburan. Dia juga menurunkan piring dari almari,…
Cerpen : Saling Peduli di Kelas 5B oleh Agatha Sita Rasihanuri
RASTI sangat senang saat pergi ke sekolah. Setiap pagi, saat berangkat ke sekolah, Rasti selalu bernyanyi dengan gembira. Rasti memang dikenal sebagai anak yang ceria dan ramah. Suatu hari, saat pelajaran berlangsung…
Cerpen : Kawan Saya oleh Sasti Gotama
NYONYA Ji menggedor-gedor pintu saya. Terdengar bingar dan begitu mendesak. Meski saya yakin ia melakukan itu sambil tersenyum, karena ia memang selalu tersenyum, saya paham ketukannya itu mewartakan amarahnya. Kemarin ia menyuruh…
Cerpen : Kawan Saya oleh Sasti Gotama
Nyonya Ji menggedor-gedor pintu saya. Terdengar bingar dan begitu mendesak. Meski saya yakin ia melakukan itu sambil tersenyum, karena ia memang selalu tersenyum, saya paham ketukannya itu mewartakan amarahnya. Kemarin ia menyuruh…
Cerpen : Burung Ayah oleh Ahmadun Yosi Herfanda
AKU telah membulatkan tekad untuk menghabisi burung perkutut ayah hari ini juga. Mungkin memotong kepalanya, atau mencekik lehernya. Biar harganya mahal, tak peduli. Yang penting, burung itu harus lenyap dari sangkarnya. Sadis…
Cerpen : Zarkasyih, O Zarkasyih oleh Benny Arnas
Di siang yang basah, kami berjalan ke simpang tiga. Ayah ke barat. Ibu ke tenggara. Ingatan baru merangkak. Kenangan belum berjalan. Tapi, aku masih tiga tahun. Belum mengerti kasih sayang. Belum tahu…