“TAHUKAH kamu di mana orang tua kami?” anak itu bertanya. Dan pertanyaan semacam itu, baginya, adalah pertanyaan paling menyedihkan yang bisa dilontarkan oleh seorang anak kecil. BUZZER kembali berdering. Ini untuk kali kedua. Kali…
Cerpen : Sebatang Pohon yang Tak Bahagia oleh Guntur Alam
DI belakang rumah kami, ada sebatang pohon sawo yang tak bahagia. Pohon sawo itu dibeli dan ditanam ibu jauh sebelum aku lahir. Buahnya kecil-kecil tapi manis dan aku suka. Sayangnya, sejak ibu…
Cerpen : Neraka Kembar Rajab oleh Triyanto Triwikromo
TAK boleh ada makhluk kembar di tanjung yang sepanjang malam warganya merasa memiliki 1.000 bulan itu. Jumlah pohon-pohon bakau yang tumbuh mengitari kampung pun tidak boleh berangka sama. Ketika mencapai 2.222 batang, dengan…
Cerpen : Tok Mulkan dan Istrinya oleh Delvi Yandra
LELAKI itu berdiri di depan peti es krim. Ia tersenyum-senyum sambil mengisi sudut-sudut peti itu dengan bongkahan balok-balok es. Kemudian ia memandangi istrinya yang duduk agak jauh, dekat jendela di mana cahaya…
Cerpen : Segara oleh Fandrik Ahmad
COBALAH kau berdiri di bibir pantai ketika muka langit merona jingga. Lemparkan kemampuan sejauh pandanganmu. Kau akan merasakan seberapa dalam perasaan mereka menggantungkan asa pada segara. Kata Epak menjelang keberangkatannya, suatu ketika….
Cerpen :Maggiri Beraroma Merah oleh Adi Zamzam
SORE terakhir di bulan September firasat mengerling kepadaku. Sehelai daun luruh tepat di atas kepala. Warnanya telah menguning. “Lebih baik iko [1] tidak usah ikut maggiri [2],” ujar Puang Lolo [3] yang…
Cerpen : Rumah di Desa oleh Aba Mardjani
WAJAH Catherine membinar ketika sore itu memperlihatkan sebaris kalimat singkat di layar ponsel kepada suaminya. ‘Iya. Mama dan Papa akan datang besok.’ “Betulan?” Ahlan tak mampu membendung rasa gembira yang menyesaki dadanya….
Cerpen : Kabut Ibu (2) oleh Mashdar Zainal
SEMENJAK aku bisa merasakan sentuhan, perempuan yang pertama kali memenyentuhku adalah kabut. Kabut yang muncul dari balik pintu dan jendela kamarku. Kabut yang melata dari lubang angin dan bawah pintu, kabut yang…
Cerpen : Dongeng Penebusan oleh Mona Sylviana
LAKI-LAKI itu menoleh. Pucuk-pucuk daun kopi dan coklat bergunduk. Daun-daunnya bertaut. Menyiluet. Ranting-rantingnya bergesekan. Menyembilu. Samsu mendorong pintu setengah badan. Engselnya tidak berbunyi. Dia berhenti sejenak. Senyap di luar terberai suara televisi yang…
Cerpen : Tentang Maulana dan Upaya Memperindah Purnama oleh A.S. Laksana
KUSAMPAIKAN sekarang tentang hati yang gentar dan kabut tebal dan ia yang melarikan gelisahnya ke wajah bulan. Aku sendiri menyukai pantai, sebab di sana ada debur ombak yang bisa mengalahkan debar jantung. Aku…