Masjid itu hanyalah sebuah bangunan kecil saja. Namun, jika kau memperhatikan, kau akan segera tahu usia bangunan itu sudah sangat tua. Temboknya tebal, jendelanya tak berdaun—hanya lubang segi empat dengan lengkungan di…
Cerpen : TUNGGU! oleh Djenar Maesa Ayu
Waktu menunjuk pukul tujuh. Di sudut kafe ketiak saya berpeluh. Namun tak bisa mengeluh. Kecuali pada ponsel yang suaranya tak juga melenguh. Dua belas jam yang lalu ada yang mengaku akan…
Cerpen : Cas Cis Cus oleh Aba Mardjani
Rapat dibuka bakda Isya ketika gerimis tiris dan langit malam menghamparkan warna abu-abu pucat. Sekitar 15 kepala keluarga Cibaresah berkumpul di rumah Munar. Mereka mau memenuhi undangan lantaran pengundangnya sesepuh desa….
Cerpen : Kunang-kunang di Langit Jakarta oleh Agus Noor
Ia kembali ke kota ini karena kunang-kunang dan kenangan. Padahal, ia berharap menghabiskan liburan musim panas di Pulau Galapagos—meski ia tahu, kekasihnya selalu mengunjungi pulau itu bukan karena alasan romantis, tapi…
Cerpen : Ular Randu Alas oleh S Prasetyo Utomo
Tersembunyi kisah rahasia pada sebatang pohon randu alas tua. Tak seorang pun berani menebangnya. Seabad sudah pohon randu alas itu berumur. Aku menduga, pohon randu alas yang menjulang kokoh di tepi jalan…
Cerpen : “Pakiah” dari Pariangan oleh Gus tf Sakai
Bagi orang-orang di kampung itu, cerita tentang pakiah sudah jadi masa lalu. Ia tertinggal dalam surau-surau tua, di tebal debu kitab-kitab kuning yang berhampar-serak, dalam bilik-bilik garin yang daun-daun pintunya telah…
Cerpen : Lukisan Kematian oleh Andhy Kh
Di kampung kami ada seorang pelukis yang unik. Dia hanya akan melukis wajah manusia yang telah sampai pada ajalnya. Orang kampung kami menyebut lukisannya: lukisan kematian. Ada juga yang menyebutnya: lukisan keabadian….
Cerpen : Hujan yang Indah oleh Kurnia JR
Jika Anda orang yang menyukai hujan, datanglah ke kotaku. Di sini dapat Anda saksikan hujan yang indah bak lukisan. Aku tidak bohong. Di sini hujan turun seperti gadis kecil yang pemalu,…
Cerpen : Terbukalah oleh Dewi Ria Utari
Dalam diam aku duduk di taman ini. Di kursi yang sama tempat kencan kita pertama. Saat itu aku memakai celana jins berwarna abu-abu pudar, dan kaus berlengan panjang warna putih. Kau,…
Cerpen : Perihal Sebatang Kayu di Belakang Limas Kami yang Ada dalam Hikayat Emak oleh Guntur Alam
Jangan sesekali kau dekati batang kayu itu. Selalu itu yang Emak katakan bila mata bocahku (dulu) mulai berbinar-binar menatap batang kayu yang tumbuh rindang di belakang limas kami itu. Lalu, aku…