Entah sudah berapa pekan anjing itu duduk meringkuk di sandaran sofa. Badannya mulai kurus, wajahnya kuyu, sorot matanya menerawang jauh menusuk kaca jendela, menembus rimbunnya daun tanaman pembatas halaman, merayap ke arah…
Cerpen : Vampir oleh Intan Paramaditha
Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku. Kami datang dari tempat yang sama, sempit, gelap, basah, merah. Tapi ia tak menginginkanku karena ia kira aku menyusu ibu serigala. Sebenarnya dulu…
Cerpen : Air Raya oleh Azhari
Setiap air raya tiba perahu ini akan tumbuh, pikirnya. Memanjang beberapa depa. Sungguh, buritan itu akan gemuk nantinya. Palka melebar. Tiang yang baru saja ditancap akan menjulur menusuk langit menumbuhkan tangga serupa…
Cerpen : Hotel Keluarga di Tokyo oleh Den Setiawan
Aku duduk di ruang tunggu menjelang boarding di Bandara Soekarno-Hatta ketika waktu hampir melewati tengah malam. Terasa aneh karena hanya aku yang sudah tiba di sana, padahal jadwal pesawat take-off tinggal beberapa…
Cerpen : Ombak Berdansa di Liquisa oleh Ahmadun Yosi Herfanda
Ombak berdansa di Pantai Liquisa. Lidah-lidahnya menari dalam gemuruh hujan yang mengguyur pepohonan di sepanjang pesisir. Dan, dalam cuaca dingin malam Minggu berkabut, di dalam sebuah gedung sederhana di tepi pantai, orang-orang…
Cerpen : Tamu oleh Ratna Indraswari Ibrahim
Januari 1965. Tahun itu, aku berusia delapan tahun, dan namaku Dara. Aku punya dua adik laki-laki, yang menurut Mama harus lebih diperhatikan karena mereka masih kecil (sepulang sekolah aku harus ikut menjaganya)….
Cerpen : Laki-laki yang Tersedu Puthut EA
Ada sebuah peristiwa di mana aku tahu, semenjak itu terjadi, aku tidak akan lagi menemukan sebuah pagi yang membahagiakan. Peristiwa itu menggenapi rentetan peristiwa sebelumnya, menyempurnakannya dalam satu rumus kesedihan yang tidak…
Cerpen : Biji Mata untuk Seorang Lelaki oleh Timbul Nadeak
Lelaki itu samar-samar melihat seraut wajah yang hanya memiliki bibir dan hidung. Ia memicingkan mata agar dapat melihat lebih jelas. Bibir itu tersenyum. Tapi tarikan di ujung bibir terlalu dalam sehingga senyuman…
Cerpen : Kyai Sepuh dan Maling oleh Sandy Tyas
Hujan turun disebar langit merata di seluruh kota. Udara malam terasa lebih dingin masuk ke dalam pori-pori kulit. Bulu tangan berdiri, tengkuk sesekali menggigil. Orang percaya, jika hujan turun di hari malam…
Cerpen : Lontarak oleh Andi Suruji
Tidak jauh dari tempat memarkir mobil, saya melihat kakak sepupu saya bersama suaminya duduk di atas tumpukan barang bawaannya. Penumpang kapal di Pelabuhan Tanjung Priok yang baru tiba dari Makassar, sepertinya sudah…