Tag: Puspa Seruni

Cerpen : Mas Mono Masuk Dapur oleh Puspa Seruni

SEJAK Mas Mono dan kawan-kawannya masuk dapur, para perempuan tergusur. Mereka dipaksa turun dari singgasana dan menyerahkan tahta sebagai penyedia makanan terbaik untuk keluarga ke tangan para lelaki yang selama ini lebih banyak memukul kentongan. Sekelompok lelaki itu menjelma Chef Juna yang piawai mengolah bahan makanan menjadi masakan yang memanjakan lidah dan memuaskan perut. Akan […]

Cerpen : Lelaki yang Berlari Kesetanan Tengah Malam oleh Puspa Seruni

Mat Kasim seorang buruh pengupas daun tebu yang dikenal tidak banyak bicara. Dia lebih banyak tersenyum dan sesekali tertawa tanpa alasan yang jelas. Dia seolah memiliki dunia sendiri yang terpisah dari orang-orang di sekitarnya. Meski tingkahnya sedikit aneh, dia tidak pernah menangis, apalagi berwajah mendung. MATANYA selalu bersinar, tetapi orang-orang sepakat menjulukinya ”Lelaki Berotak Dua […]

Cerpen : Kota Kantata oleh Puspa Seruni

SESAAT sebelum pedangku menebas leher lelaki yang kukenal sejak kanak-kanak itu, kami berbincang dengan pandangan menerawang pada sebuah kota pelabuhan yang sibuk melakukan bongkar muat barang. Tidak seperti kota lainnya yang memiliki sejarah peperangan panjang disertai kisah kepahlawanan, Kota Kantata lahir dari sebuah sayembara. Sebuah pulau yang semula dianggap sebagai tempat bersarangnya segala jenis dedemit, […]

Cerpen : Kisah Marlena, Bawor, dan Hukum Tabur Tuai oleh Puspa Seruni

KATA bapak, Tuhan menciptakan hukum tabur tuai. Jika kau menebar biji cabai, jangan harap bisa panen padi, terangnya. Aku tak mengerti apa yang diucapkan bapak waktu itu, tetapi tetap mengangguk seolah-olah mengerti. Akan tetapi, setelah melihat Marlena mati di kandang sapi, aku rasa Tuhan telah keliru menumbuhkan benih yang telah ditabur perempuan tua yang kesepian […]

Cerpen : Manisan Mangga oleh Puspa Seruni

Orang tua tidak semestinya mengantar anak-anaknya dikubur. Sebagaimana hukum usia, yang tua akan melemah lalu mati berkalang tanah, sementara yang muda tumbuh semakin kuat dan berjaya. Akan tetapi, kehidupan terkadang menipu. Dia tumbangkan yang muda sebelum sampai masa jaya hingga membuat perempuan itu bersimpuh dengan kepala merunduk rapuh. Anak lelaki satu-satunya, yang pamit bekerja, pulang […]

Cerpen : Monopoli Amal oleh Puspa Seruni

Persis dugaanku, kamu kalah telak dalam pemilihan kepala desa. Meski terisolasi dari kampung lain, warga Kampung Bulak Bali tak akan goyah hanya pada selembar amplop berisi uang merah yang kamu hamburkan kepada mereka. Berkali-kali kukatakan padamu agar segera mengganti strategi untuk menarik perhatian mereka. KISAH Marzuki dan anak gadisnya yang buta, yang mengalami pengusiran beberapa […]

Cerpen : Asing Usang oleh Puspa Seruni

LANGIT menyala memerah, matamu membeliak memerah, wajah mereka memanas memerah, dan bercak pada bajuku juga mengental memerah. Sejak sore hingga menjelang fajar, semua terlihat memerah. Hanya gulungan asap yang berwarna kelabu dan terus menutup jalan napas dan mendesak-desak rongga dada dan memancing buliran air mata yang semakin menyulut amarah di dadaku juga dadamu. Kita lahir […]

Cerpen : Perayaan Kematian oleh Puspa Seruni

TIDAK seperti hari kematian yang dirayakan hingga seribu hari sesudahnya, di Kampung Langkap hari kelahiran hanya diingat sepintas lalu. Para orang tua tidak pernah mau mengingat tanggal, bulan, dan tahun kelahiran. Mereka hanya menggunakan kejadian-kejadian besar: saat Gunung Semeru meletus, saat seluruh sawah terkena serangan wereng, saat musim petrus, atau kejadian besar lain yang digunakan […]

Cerpen : Antara El Bicho dan Kasidah oleh Puspa Seruni

Perpindahan Ronaldo ke klub Arab Saudi usai Piala Dunia telah memberi imbas negatif kepadaku. Keputusan pemain berjuluk El Bicho itu mendapat cemoohan banyak orang karena langkah tersebut dianggap pertanda meredupnya karier pemain terbaik dunia lima kali itu. SEPERTI halnya Ronaldo, aku pun dihujani cemoohan. Mulanya orang-orang hanya berdesas-desus di belakangku, tetapi kemudian mereka terang-terangan menyindirku. […]

Cerpen : Bersekutu dengan Hantu oleh Puspa Seruni

TEPAT setelah anggukan pelan, lelaki berbadan besar dan menjulang itu memajukan wajahnya kepada perempuan di hadapannya yang memandangnya dengan sorot ketakutan. Kumis lebat dan hitam di atas bibir lelaki berikat kepala itu menyentuh sudut bibir perempuan bermata rembulan itu. Tadinya dia mengira itu adalah kecupan biasa, sebagaimana banyak lelaki juga kerap melakukan itu setelah memberinya […]

Laman Berikutnya »