Namanya Oyong. Namun, lebih banyak yang memanggilnya ”Kong”. Bukan karena matanya yang sipit, melainkan karena tubuhnya yang segede gorila bengkak. Oyong pernah dua kali tidak naik kelas dan hanya bersekolah sampai kelas…
Kategori: KOMPAS ONLINE
Cerpen : Anak yang Ditelan Telaga oleh Tsalaisye
Seluruh orang di Kampung Dukuh Atas sibuk pada Rebo Wekasan. Begitu pula Yu Ning, janda paruh baya yang tinggal sendiri. ”Yu Ning!” Suara teriakan perempuan terdengar dari luar rumah. Yu Ning yang sedang…
Cerpen : Bila Lelah oleh Sasti Gotama
Tatkala jaksa bertanya kepadanya, apakah ia menyesal, San, di balik bilik pesakitan, memejamkan mata sejenak, membuka kelopak, lantas tersenyum suam yang bisa melelehkan mentega mana pun yang terlalu lama disimpan di kulkas….
Cerpen : Tamansari dan Lelaki di Pokok Ketapang oleh Mufti Wibowo
Kami datang terlambat saat beberapa petugas sibuk menata kendaraan yang diparkir sembrono oleh pemiliknya. Tempat parkir yang menyenangkan, teduh oleh rimbun pepohonan yang di pokok-pokoknya dikelilingi semen setinggi setengah meter yang diperlebar…
Cerpen : Pelagak oleh Muhammaf Ramadhan Batubara
Siapa dia yang pulang ke kampung meski baru lima tahun merantau, ketika orang-orang baru selesai menimba ilmu atau merintis karier tak seberapa di kota, sudah gilakah dia? Lagam namanya. Orang-orang menyebutnya Langgam….
Cerpen : Mawar Itu Merah, Es Itu Dingin oleh Iin Farliani
Kesunyian menyelimuti toko buku yang akan tutup. Tak ada lagi yang perlu dibereskan selain cepat-cepat berkemas. Sebelum benar-benar menutup pintu, seorang lelaki bernama Ash berpikir apakah ia perlu menurunkan foto berbingkai cokelat…
Cerpen : Suara Tangis di Malam Lebaran oleh Alexander Robert Nainggolan
Bulan, aku mau lebaran. Aku ingin baju baru,tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkanbajunya yang…
Cerpen : Baju Baru oleh Yulizar Lubay
Selepas shalat subuh, Acil pergi dari rumahnya. Ia pergi dari rumah pada pukul enam pagi. Bocah dua belas tahun itu membuka pintu depan rumahnya dengan hati-hati, seperti kehati-hatian seorang pencuri, meskipun Acil…
Cerpen : Tut, Tut, Tut, Waktunya Maut Menjemput oleh Jagad Wijaksono
Kuendus firasat buruk. Entah bagaimana aku selalu dapat merasakan suram dari firasatku yang tajam tentang orang-orang sengsara bernasib muram. Aku seakan memikul kutukan akan kematian, entah sejak kapan, aku seperti dapat merasakan…
Cerpen : Tuan Bengis oleh Nuzul Ilmiawan
Ada seorang tuan tanah di Kampung Peletuk. Badannya kurus, tampilannya sederhana, keseringan memakai kemeja kotak-kotak yang kain lengannya disingsingkan sampai siku. Mukanya sangat pribumi, kulitnya coklat, matanya sedikit sipit dan ada kerut-kerutan…