Malam gelap dan berawan di langit Merapi. Sepanjang garis sungai tumpukan pasir seperti benteng hancur oleh serbuan brutal. Perut bukit hitam berlobang oleh mulut pengeruk pasir. Di atasnya pohon-pohon berdiri di antara…
Kategori: KOMPAS ONLINE
Cerpen : Hantu Lapar oleh Ribka Syalom Christianti Saragih
Seperti mentari yang enggan terbenam petang ini, Yueyin menunda kepulangannya. Puluhan tahun Yueyin menghuni daerah pasar di sudut kota itu. Tubuhnya ringkih berbalut terusan merah dengan corak bunga-bunga merah jambu, rambutnya yang…
Cerpen : Bangkai Anjing oleh Elvan De Porres
Setelah hujan seminggu berhenti, Nikus keluar dari rumahnya dan pergi ke ladang untuk menguburkan sebongkah bangkai anjing. Itu adalah hari yang basah, tanaman-tanaman berbunga, dan hewan piaraan menepi di sekitar pondok tuannya….
Cerpen : Seekor Buaya di Sungai Karang Tambak oleh Tjak S. Parlan
Bangkai seekor belanak terapung di arus tenang dan berputar perlahan di sekitar tempat Amir Sareh melemparkan kail. Amir Sareh yang mulai bosan, mendorongnya dengan ujung joran hingga bangkai ikan itu hanyut terbawa…
Cerpen : Tungku di Tubuh Ibu oleh Prima Yuanita
Kau bilang tungku dapur itu setiap hari harus mengepul. Jika tak mengepul, maka rumah kita ibarat sebuah kuburan. Dan jika belum mau menjadi penghuni kuburan, maka kita harus memasak. Memasak apa saja…
Cerpen : Lima Menit Biola di Kelas Matematika oleh Kurnia JR
KADANG-KADANG, untuk mengobati kejenuhan kelas di tengah jam pelajaran, sejenak kukeluarkan dan kumainkan biola. Kugesek tak lebih dari lima menit untuk para siswaku. Ketika pertama kali aku beraksi, mereka terheran-heran, mau apa…
Cerpen : Musim Gugur: Dua Peristiwa 1945-1985 oleh Vianda Alshafaq
I. Membaca Surat Lapuk, 1985 Surat itu telah robek: terbagi dua dan telah kurekat dengan selotip bening, tintanya telah luntur, membias mengenai bagian lain; nyaris tak bisa kubaca. Tapi sudahlah, tak peduli…
Cerpen : Lintah oleh Guntur Alam
Saat dia berusia enam belas tahun, dia menyadari jika segerombol lintah telah beranak-pinak di dalam hati dan otaknya. Lintah-lintah itu hidup dengan menghisap darah dan memakan otaknya. Sialnya, tak ada yang bisa…
Cerpen : Grup Whatsapp oleh Ratna Ayu Budhiarti
Tari selalu berpikir hidupnya tidak kekurangan apa pun. Teman-teman yang perhatian dan keluarga yang tidak pernah rewel menanyainya kapan akan menikah. Barangkali mereka bosan. Berkali menanyakan hal yang sama, jawaban Tari selalu…
Cerpen : Siger oleh Faris Al Faisal
Serupa Prolog Semenjak berjumpa dengan Errys di Siger, Lusa bukan hanya kagum dengan pesona bangunan berbentuk mahkota pengantin wanita itu atau hiruk-pikuk Pelabuhan Bakauheni—kapal-kapal feri yang menyandar, debur ombak Selat Sunda, antrean…