Zakia duduk termenung menatap sepiring nasi yang telah dingin. Matanya tertuju pada piring, tetapi pikirannya melayang entah ke mana. Tak didengar suara bising di sekeliling: suara dari orang-orang mengaji untuk almarhum suaminya,…
Kategori: KOMPAS ONLINE
Cerpen : Jamur Raksasa oleh Agus Salim
Doomsday Clock sudah diatur ulang, dibuat cepat beberapa detik, sehingga perhitungan waktu menuju hari kehancuran, hari kegelapan, menjadi semakin dekat. Luciana tahu, sekitar seratus ribu orang telah lebih dulu berjalan ke langit,…
Cerpen : Laki-laki di Pohon Kelapa oleh Boni Chandra
Perkara itu terjadi pada masa pemberontakan di Sumatera Tengah. Di masa itu, kami sudah enggan membedakan yang benar dan yang salah. Bagi kami, segenggam beras dan sebiji kelapa lebih berharga daripada apa…
Cerpen : Lebah oleh Tetin Sobariah
Setiap orang yang tinggal di kelurahan ini selalu saja ingin tahu urusan orang lain. Tak peduli apakah itu ada hubungannya dengan dirinya ataupun tidak. Dan mereka ini selalu membicarakannya di warung kopi…
Cerpen : Nama-nama di Batu Nisan oleh Muna Masyari
Senja menyepuh kesuraman. Bayang-bayang kamboja seredup mata bayi mengantuk. Dahan-dahan pohon itu menggeleng enggan seperti bocah demam ditawari makan. Angin menjatuhkan lembar-lembar daunnya yang mulai kekuningan, bagai jiwa-jiwa renta yang tunduk pada…
Cerpen : Tak Ada Gus Baha di Pondok Ini oleh Syafiq Addarisiy
I Di kantor pondok, setelah menyilakan saya, Kang Zaki tidak langsung ikut duduk dan malah berjalan ke pojokan untuk menyalakan kipas. Saya tersenyum kecil melihat itu. Tampaknya, Kang Zaki memang kurang senang…
Cerpen : Surat untuk Ibu oleh Budi Setyanto
8 Oktober 1987 Berita meninggalnya ibu sungguh mengagetkan. Setahuku kondisi kesehatan ibu di usia 59 tahun itu cukup baik. Ah, sudahlah, itu diperjelas nanti. Yang penting bagaimana cara bisa sampai ke Solo…
Cerpen : Perempuan Hujan oleh Indra Tranggono
Kami tak tahu siapa nama perempuan itu. Kami lebih suka menyebutnya Perempuan Hujan. Sebab, ia selalu datang ke kota kami setiap bulan yang penuh hujan. Ia selalu membawa cerita. Atau kisah-kisah apa…
Cerpen : Kemuning oleh Rinal Sahputra
“Kau tahu kenapa Ibu dan Bapak menamaimu Kemuning?“ “Mungkin karena Ibu menyukai warna kuning. Atau pada saat Muning lahir, Bapak sedang mengajarkan topik imbuhan sisipan kepada para siswa di sekolah.“ Meskipun Ibu…
Cerpen : Kronik Bukit Api oleh T Agus Khaidir
Akhirnya ada jawaban untuk menampik cerita perihal bukit api. Cerita perihal Laung dan keluarganya yang disebut masih gentayangan dan senantiasa siap menuntut balas pada warga desa yang 21 tahun lalu menyerbu rumah…