”Tembak!” teriak komandan kepada prajuritnya. ”Tembak” bisa dikatakan salah satu kata paling ajaib yang berhasil diciptakan bahasa manusia setelah lema dari langit: ”Kun”. Sebab, hanya dengan modal satu kata itu bentuk kehidupan dapat berubah…
Kategori: KOMPAS ONLINE
Cerpen : Malaikat Pencabut Nyawa oleh Eko Darmoko
Hanya pelacur yang bisa menyelamatkan nyawa Bella. Ilmu kedokteran belum sanggup menangkal kewajiban malaikat pencabut nyawa yang diperintahkan untuk menumpas hidup Bella. Apa daya, minimnya pengetahuan dan pergaulan, membuat keluarga Bella kepayahan…
Cerpen : Dua Lamaran oleh Mie S
Mala tidak tahu laki-laki mana yang akan menikahinya, karena saat itu ada dua keluarga yang datang, satu keluarga datang untuk melamar dirinya dan satu yang lain datang untuk Wati, sepupu perempuannya. Mereka…
Cerpen : Monstera Hancuriata oleh Elsa Malinda
Bersamaan dengan cicak yang merangkak terbirit-birit dari balik tirai ke belakang lemari, kudengar entakan sandal Ibu yang berlari memasuki rumah lalu pintu ditutup. Alasannya tidak dikunci pasti karena Ibu akan keluar lagi….
Cerpen : Laki-laki Itu oleh Ketut Sugiartha
Kali ini aku akan bercerita tentang laki-laki aneh yang sering kulihat di halte setelah pertigaan selepas Terminal Ciledug. Tampaknya ia sedikit lebih tua dariku. Paling sekitar tiga puluh lima usianya. Ia selalu…
Cerpen : Sang Pengelana dan Teka-teki Semesta oleh Elizabeth Gabriela
Aku memiliki kunci, tapi tidak memiliki gembok. Aku mempunyai ruang, tapi tidak dengan ruangan. Kau bisa masuk, tapi kau tak bisa keluar. Apakah aku? Dia berada dalam setiap makhluk penghuni jagat raya;…
Cerpen : Warung Lontong Marliah oleh Abul Muamar
Tidak ada warung sarapan yang lebih ramai di Perbaungan pada pagi hari melebihi ramainya warung lontong Marliah. Orang-orang memadati warung yang cuma berukuran empat kali empat meter itu saban pagi. Ada yang…
Cerpen : Gus oleh Komang Adyana
Bayangkan, saat kau memutuskan tidak makan apa pun selama satu minggu penuh. Energimu perlahan akan habis. Otakmu sudah mulai tidak bisa bekerja dengan normal. Dan setelah hari kesepuluh, tubuhmu mulai mencari-cari simpanan…
Cerpen : Ada Jenggala Mengakar di Purnama oleh Maya Sandhita
”Kalau kalian tetap berkeras merampas tanah mama, kasih habis dulu kami semua!” Sebaris kalimat itu nyala sempurna, membara di mata masyarakat kukuh suku. Kau dan kelompokmu yang teguh mempertahankan tanah ulayat demi…
Cerpen : Teror Kenapa oleh Putu Wijaya
Setelah membunuh musuh, aku merasa bertanggung jawab untuk merawat bayi yang ditinggalkannya. Orok itu tidak harus menanggung dosa orangtuanya. Aku setuju dengan Kahlil Gibran yang membelajarkan kita melihat anak bukanlah milik kita,…