Puisi-puisi di tangannya, seakan begitu letih menyusuri Sungai Mekong. Tubuhnya basah kuyup, sampannya terombang-ambing dipermainkan riak sungai yang mengalir deras. Ketika melintasi sungai, mungkin Li Bai telah menghabiskan beberapa botol arak, hingga…
Kategori: KOMPAS ONLINE
Cerpen : Racun Tikus oleh Imam Harjono
Sudahlah, tidak perlu kita ikut dia. Di sini sajalah. Aku sangat paham apa yang kamu pikirkan. Dulu pun aku sempat berpikir begitu. Sampai berminggu-minggu aku susah tidur, kepalaku serasa mau meledak. Bolak-balik…
Cerpen : Perempuan Pemanggul Kenangan oleh Nina Rahayu
Ibuku adalah perempuan hebat. Kenangan tentangnya takkan pernah terlupakan sampai kapan pun. Tidak hanya kami anak-anaknya yang bangga dengan ibu, tapi juga orang lain. Penduduk Desa Baja menjadikan ibu sebagai panutan. Ibu…
Cerpen : Tanah Harapan oleh Linggar Rimbawati
Sebenarnya, mendiang nenekku pernah berpesan untuk tidak menyentuh sehamparan lahan bersemak-belukar itu selama masih ada tanah lain yang bisa kugarap. Tanah sangar, tak jelas asal-usulnya. Tapi sebulan lalu bapak kembali menjual sepetak…
Komisi III DPR Akan Telusuri Surat Jalan Joko Tjandra
Setelah adanya surat jalan atas nama terpidana Bank Bali Joko Tjandra, Komisi III DPR berjanji akan mengungkap asal lembaga yang keluarkan surat jalan ini. Hal itu akan diungkap dalam rapat gabungan DPR…
Cerpen : Mulut oleh Faiz Adittian
”Anak Ibu sudah berapa hari batuk-pilek Bu?” tanya suster sembari mengecek suhu badan seorang balita. Mukanya lesu, terduduk di pangkuan ibunya. Perempuan tua itu tiba-tiba menyergah. ”Suster. Ini kapan giliran saya? Sudah…
Cerpen : Burung Gereja yang Mengoceh ”Kamu Cantik, Kamu Cantik, Kamu Cantik” oleh Hasan ID
Menurutmu, bagaimana kalau aku menjadi burung saja? Aku akan jadi burung gereja yang bebas terbang ke halaman rumahmu. Menyapamu. Meskipun tidak dengan ucapan ”hai” atau ”selamat pagi”. Hanya kadang-kadang mengoceh dengan cericit…
Cerpen : Janji Hujan oleh Regina Rukmorini
Apa yang bisa dilakukan hujan? Katamu, hujan bisa membantu melunturkan rasa. Tetes-tetesnya menenangkan. Dinginnya akan mendorong, membuat kita segera mencari posisi, lokasi terhangat. Namun, sayangnya, bagiku tidak. Berkali hujan tidak memberi apa-apa…
Cerpen : Cinta di Tengah Wabah Korona oleh Abul Muamar
Sarmiji membalikkan badan untuk membuka kembali pintu depan rumahnya setelah baru berjalan dua langkah ke dalam karena mendengar suara seseorang memanggil di luar. Tadinya ia hendak mandi setelah mengurus kebun kecil di…
Cerpen : Ruang Tunggu oleh Maya Sandita
Menggenang jingga di langit yang tenang, di barat surya bergegas pulang. Ronanya tampak nyata dalam lingkaran dua bola mata seorang lelaki tua di sebuah bangku ruang tunggu. Sepanjang masa dilaluinya dengan sia-sia,…