“MA, besok beli bajú baru, ya? Baju Naya sudah kusut-kusut dan ketinggalan mode. Seminggu lagi, Naya diundang Ica di perayaan ulang tahunnya,” pinta Naya. “Bukannya baju-bajú Naya masih banyak yang bisa dipakai,”…
Kategori: KOMPAS ONLINE
Cerpen : Bogart oleh Aliurridha
UNTUK kesekian kali, Bogart memencet klakson. Tidak, itu bukan lagi memencet, ia memukul tombol klakson. Aku terkejut dengan apa yang dilakukannya. Pengendara motor itu tidak kalah terkejutnya. Teriakan bel membuat motornya goyang….
Cerpen : Uang Bicara oleh Herumawan P A
“Kamu tahu kalau uang bicara, apa saja yang bisa dibeli?” Seorang teman membuka percakapan saat nonton bareng pertandingan sepak bola di kafe. Aku heran mendengarnya. “Maksudmu harga diri, kejujuran dan cita-cita?” Ia…
Cerpen : Nyanyian Token oleh Nuzul Ilmiawan
Nyanyian token bergema lagi di akhir bulan. Di sepanjang lorong gang itu, rumah-rumah kontrakan kembar ukuran 4×4 yang memanjang sampai ujung mengeluarkan lampu kedap-kedip warna merah di meterannya. Satu-persatu orang punya rumah…
Cerpen : Perkenalkan, Uno oleh Martin Aleida
”Selamat datang. Mari menderita. Jika sudah berada di luar organisasi ini, apa pun dapat kita kerjakan.” Dia menyambutku sebelum warga kota besar yang sumuk ini selesai sarapan pagi. Sesungguhnya aku tak melamar….
Cerpen : Indahnya Gotong Royong! oleh Dede Soepriatna
DI sebuah dahan pohon di pedalaman hutan Papua, kawanan semut merah terlihat bahu-membahu membawa makanan ke dalam sarang di atas pohon. Namun, tiba-tiba datang burung kasturi berkepala hitam, burung khas Papua dan…
Cerpen : Perkenalkan, Uno oleh Martin Aleida
“SELAMAT datang. Mari menderita. Jika sudah berada di luar organisasi ini, apa pun dapat kita kerjakan.” Dia menyambutku sebelum warga kota besar yang sumuk ini selesai sarapan pagi. Sesungguhnya aku tak melamar….
Cerpen : Membeli Nasib oleh Ken Hanggara
”Kau gila, ya! Apa yang kau katakan semalam?” Seseorang yang tinggal tidak jauh dari tempatku, mendadak membuka pintu kamarku dengan kasar. Dengan wajah yang tak ramah, ia mencecarku. ”Apa maksudmu?” ”Semalam! Ketika…
Cerpen : Langit Kelabu di Hiroshima oleh Arie Fajar Rofian
Aku sungguh tidak ingat kapan tepatnya pertama kali memiliki keinginan untuk mengunjungi Hiroshima, kota yang pernah menjadi saksi sejarah betapa kejamnya perlakuan manusia terhadap manusia lainnya. Mungkin, itu muncul dari potongan video…
Cerpen : 2025 oleh Putu Wijaya
“PAMERAN foto Boeleleng Tempo Doeloe menunjukkan, di zaman kolonial pun kehidupan agama sudah dibarengi toleransi yang tinggi. Lihat barisan tokoh Hindu dan Muslim menyambut Gubernur Jenderal de Jonge. Tampak toko China, Arab,…