Di wilayah tempatku tinggal jarang orang mati. Namun, ketika ada yang mati, pasti bisa ditebak kehadirannya. Ini bukan penyebab seperti penyakit, bencana, atau lainnya. Ini soal ciri-ciri mati. Ada tiga tanda sebagai…
Cerpen : Rendang oleh Muram Batu
Kota itu –bukan berarti daerah tingkat dua, disebut begitu karena menjadi ibu kota kabupaten, secara administrasi sebetulnya hanya kecamatan– mendadak berdenyut. Bukan karena pembangunan melejit atau sebaliknya, bukan pula karena jadi perbincangan…
Cerpen : Hilang oleh Siti Hajar
Sudah 14 hari lebih Nirmala hilang. Entah ke mana perginya perempuan itu, setelah dini hari pergi bersama tukang ojek kampung langganannya. Tidak seperti hari-hari biasanya saat hendak pergi berdagang sayuran, pagi itu…
Cerpen : Partai Asu oleh Maria M Bhoernomo
Nama aslinya Slamet. Tetapi, seperti kebiasaan yang sudah turun-temurun di tengah masyarakat Jawa, semua orang yang namanya Slamet pasti alias Mamik. Masyarakat pun lebih suka memanggilnya Mamik daripada Slamet. Begitulah. Slamet alias…
Cerpen : Api Menari di Belantara oleh Nuryana Asmaudi SA
Dia yang mencari jiwa anaknya yang gugur di medan laga tidak akan kembali hingga sampai ke alam baka. Dia yang meninggalkan istana menuju pertapaan jiwa tidak lagi terikat kenikmatan dunia hingga manunggal…
Cerpen : Rumah Makan oleh Indrian Koto
”Menikahlah denganku,” ucap sang sopir nyaris setiap usai meniduri si perempuan. Ia mengulang kalimat itu berkali-kali dalam percintaan mereka yang ganjil. Meloncat-loncat lewat butiran keringat dan derit kasur, seperti laju truk di…
Cerpen : Leak Bukal oleh Ni Wayan Wijayanti
Matahari belum sepenuhnya terbit. Cahayanya menyembul malu-malu dari bilik peraduan. Burung-burung terlalu enggan menyaringkan bunyi, dan ayam jago pun tampaknya masih pulas menelungkup paruh. Namun, sudah terlihat Dadong Ririg terbangun, keluar gubuknya…
Cerpen : Sihir Angsa oleh Eki Saputra
”Dahulu aku yakin, tapi sekarang buat apa aku bersusah-payah membuang-buang waktuku menyembah yang tidak ada. Aku bisa melakukan apa saja,” kata lelaki berambut keriting putih itu mengakhiri kisahnya pada pembicaraan kami di…
Cerpen : Waktu untuk Bapak
“SULIT sekali. Bikin pusing!” Bapak mengeluh saat membantuku mengerjakan PR (pekerjaan rumah) matematika. Ia lalu ke dapur. Tak lama berselang, Bapak sudah kembali ke ruang tamu dengan secangkir kopi. Ia menyeruput kopinya sedikit…
Cerpen : Menara Emas oleh Muna Masyari
Di mataku, tiba-tiba ia bagai monster raksasa pengisap darah yang lepas dari kandangnya. Kukuh menjulang penuh keangkuhan. Jari-jari gaibnya menggurita. Mencengkeram ke seluruh penjuru. Melilit mangsa. Lalu diam-diam menancapkan kuku penuh racun…