Nakamura sering gelisah ketika akan tidur. Ia dapat semalaman terjaga memikirkan bayang-bayang buruk bahwa saat tertidur nanti dirinya akan terbaring pucat dalam ”reikyusha”[1] yang membawanya ke sebuah upacara ”soushiki”.[2] Lalu di sana,…
Cerpen : Laki-laki Itu oleh Ketut Sugiartha
Kali ini aku akan bercerita tentang laki-laki aneh yang sering kulihat di halte setelah pertigaan selepas Terminal Ciledug. Tampaknya ia sedikit lebih tua dariku. Paling sekitar tiga puluh lima usianya. Ia selalu…
Cerpen : Sang Pengelana dan Teka-teki Semesta oleh Elizabeth Gabriela
Aku memiliki kunci, tapi tidak memiliki gembok. Aku mempunyai ruang, tapi tidak dengan ruangan. Kau bisa masuk, tapi kau tak bisa keluar. Apakah aku? Dia berada dalam setiap makhluk penghuni jagat raya;…
Cerpen : Jalan Melingkar oleh Dwi Cipta
Sejak pukul dua belas siang ia hanya memandangi hujan dari balik kaca perpustakaan. Tak ada lagi gairah untuk membaca. Sejak tiga jam lalu ia hanya berjalan-jalan di antara rak buku sambil membaca…
Cerpen : Apa Kata Kuncinya? oleh Eko Triono
”Mereka satu rumah, tapi ada penghuni lain dalam rumah itu yang tidak mereka kenali, yang lebih sering berbicara dengan anaknya,” kata teman Marzuki, pada Sabtu sore, ”dan itu bukan jin, bukan iblis.”…
Cerpen : Warung Lontong Marliah oleh Abul Muamar
Tidak ada warung sarapan yang lebih ramai di Perbaungan pada pagi hari melebihi ramainya warung lontong Marliah. Orang-orang memadati warung yang cuma berukuran empat kali empat meter itu saban pagi. Ada yang…
Cerpen : Gus oleh Komang Adyana
Bayangkan, saat kau memutuskan tidak makan apa pun selama satu minggu penuh. Energimu perlahan akan habis. Otakmu sudah mulai tidak bisa bekerja dengan normal. Dan setelah hari kesepuluh, tubuhmu mulai mencari-cari simpanan…
Cerpen : Ada Jenggala Mengakar di Purnama oleh Maya Sandhita
”Kalau kalian tetap berkeras merampas tanah mama, kasih habis dulu kami semua!” Sebaris kalimat itu nyala sempurna, membara di mata masyarakat kukuh suku. Kau dan kelompokmu yang teguh mempertahankan tanah ulayat demi…
Cerpen : Teror Kenapa oleh Putu Wijaya
Setelah membunuh musuh, aku merasa bertanggung jawab untuk merawat bayi yang ditinggalkannya. Orok itu tidak harus menanggung dosa orangtuanya. Aku setuju dengan Kahlil Gibran yang membelajarkan kita melihat anak bukanlah milik kita,…
Cerpen : Vigili oleh Windhu Wee
Malam yang gerah, rembulan yang gelisah, keduanya menemani seorang lelaki tua yang matanya basah. Frank tua sedang membaca tulisan tangan yang berbaris tak rapi pada dinding tahanan yang pengap dan berbau tak…