Suara musik tanpa vokal, yang mengganggu dan tak pernah kuhapal benar, tiba-tiba terdengar dari pelantang handphone yang tergeletak di lantai di samping ranjang. 09.31. Segera setelah aku terjaga, angka itu membayang di…
Cerpen : Mulut oleh Faiz Adittian
”Anak Ibu sudah berapa hari batuk-pilek Bu?” tanya suster sembari mengecek suhu badan seorang balita. Mukanya lesu, terduduk di pangkuan ibunya. Perempuan tua itu tiba-tiba menyergah. ”Suster. Ini kapan giliran saya? Sudah…
Cerpen : Burung Gereja yang Mengoceh ”Kamu Cantik, Kamu Cantik, Kamu Cantik” oleh Hasan ID
Menurutmu, bagaimana kalau aku menjadi burung saja? Aku akan jadi burung gereja yang bebas terbang ke halaman rumahmu. Menyapamu. Meskipun tidak dengan ucapan ”hai” atau ”selamat pagi”. Hanya kadang-kadang mengoceh dengan cericit…
Cerpen : Simuladistopiakoronakra oleh Seno Gumira Ajidarma
Aku turun dari balik kegelapan langit seperti laba-laba meluncur ke bawah, bergantung pada tali sintesis laser dan logam dari sarang yang sebetulnya jerat terkejam dengan jejaring sepanjang galaksi, tempat segala pesawat luar…
Cerpen : Janji Hujan oleh Regina Rukmorini
Apa yang bisa dilakukan hujan? Katamu, hujan bisa membantu melunturkan rasa. Tetes-tetesnya menenangkan. Dinginnya akan mendorong, membuat kita segera mencari posisi, lokasi terhangat. Namun, sayangnya, bagiku tidak. Berkali hujan tidak memberi apa-apa…
Cerpen : Cinta di Tengah Wabah Korona oleh Abul Muamar
Sarmiji membalikkan badan untuk membuka kembali pintu depan rumahnya setelah baru berjalan dua langkah ke dalam karena mendengar suara seseorang memanggil di luar. Tadinya ia hendak mandi setelah mengurus kebun kecil di…
Cerpen : Ruang Tunggu oleh Maya Sandita
Menggenang jingga di langit yang tenang, di barat surya bergegas pulang. Ronanya tampak nyata dalam lingkaran dua bola mata seorang lelaki tua di sebuah bangku ruang tunggu. Sepanjang masa dilaluinya dengan sia-sia,…
Cerpen : Aroma Kopi Surga oleh Tiqom Tarra
Tak ada kopi di surga, di sana hanya ada sungai susu dan madu. Itu yang aku dengar dari orang-orang. Kalau begitu, datanglah ke surgaku. Akan aku buatkan secangkir kopi yang jika lidah…
Cerpen : Cinta bagi Siti oleh Adi Zamzam
Cinta bagi Siti adalah membuatkan kopi di pagi hari sebelum lelaki itu berangkat menengok sepuluh bahu sawah miliknya, sebelum lelaki itu telanjur beranjak ke rumah Waedah untuk mencari kopi, sehingga… ”Cuma membuatkan…
Cerpen : Petani dengan Cangkul Tua yang Rapuh oleh I Wayan Wikana
Titik itu tidak pernah berubah. Titik yang sangat kuat dan kekal. Ya, titik itu tetap seperti itu. Tidak terhendus dan tidak tergerus, asap zaman teknologi. Titik itu berada di sebuah lereng bukit,…