Seperti kau pertama kali melihatnya, J Van den Brand pun hanya sanggup memandang sosok yang tergantung di jendela barak itu tak lebih dari dua puluh detik. Dia gegas melengos, mengalihkan pandangan ke…
Cerpen : Moonlight Sonata oleh Mutia Rahmah
Entah itu di museum atau hanya sekadar gambar dan tulisan di buku-buku yang sudah berjanggut putih. Tak jarang pula ia mengunjungi galeri lukisan hanya untuk melihat apa yang telah terjadi di masa…
Cerpen : Penyanyi Jenazah oleh Denny Dominicus
Hari Minggu ia memilih libur. Meski ada saja yang memohon dan rela membayar tiga kali lipat. Namun, Raja tetap menolak. Padahal, sebelum menjadi penyanyi untuk jenazah, Raja adalah penyanyi kafe. Penyanyi kawinan….
Cerpen : Menyaksikan Sunyi oleh Yanusa Nugroho
Sejak dia bisa mengingat, dia belum pernah menyaksikan siang atau malam. Dia mengenali itu semua dari pembicaraan manusia lain, yang selain menyentuh perasaannya, juga kulit di sekujur tubuhnya. Hanya itulah yang mampu…
Cerpen : Blenduk oleh Mufti Wibowo
Biarlah dia menguburnya jauh-jauh, dia tak mungkin mengelak sebagai keturunan kesembilan Kyai Segara dengan Nyai Roro Kidul. Setiap keturunan mereka terlahir dengan sebuah keramat. Jika melakukan dosa besar, tubuh mereka akan mengeluarkan…
Cerpen : Warna Senja oleh Rosita
Aku ingin membenamkan wanita itu dalam lautan hitam. Sebagaimana sang surya ditenggelamkannya hingga menyemburkan warna jingga kemerah-merahan di langit. Sedari tadi mulutnya mencerocoskan banyak pertanyaan padaku. Tak henti-henti merogoh kehidupan pribadiku bahkan…
Cerpen : Perempuan Ikan Asin oleh Fajar Martha
Penduduk Pulau Panjang dilanda kegemparan. Telah satu minggu mereka merasakan keanehan: indra perasa mereka tak bisa mencecap asin. Mereka kalang kabut saat tahu rasa tersebut lenyap dari piring dan mangkuk. Tak sedikit…
Cerpen : Koneng, Seorang Gadis, Seekor Anjing oleh Mahwi Air Tawar
Pyur! Pyur! Piyuuur! Sepasang mata Koneng semerah semburan air ludahnya yang disemburkan ke sudut dinding pangkeng. ”Kalian akan mengganti warna air laut menjadi merah!” Melihat kemarahan dan jeling mata Koneng, wajah kalebun…
Cerpen : Promo: Beli Satu, Gratis Satu oleh Teguh Affandi
Tujuh hari sudah widuri ditanam dalam tanah, tapi aromanya masih beterbangan sepenjuru rumah. Di kaca jendela, bersama aroma pembersih kaca, di depan kulkas bercampur sisa-sisa ikan peda, di sobekan catatan belanja, juga…
Cerpen : Pertemuan 17 Tahun Kemudian oleh Luhur Satya Pambudi
Tujuh belas tahun silam, kaulah gadis cantik yang paling kukagumi. Yang paling kerap membuat berbunga-bunga di hati, yang paling sering kutulis namanya di diary. Padahal, yang kulakukan sebatas memandangimu. Kadang kurasa kau…