Tak ada yang ingat, kapan lelaki tua itu datang dan kemudian menetap di dusun kami, mungkin enam atau delapan tahun lalu. Lelaki yang sekarang berusia sekitar tujuh puluh tahun itu mengenalkan dirinya…
Kategori: KOMPAS ONLINE
Cerpen : Dermaga yang Tak Kunjung Rampung oleh Hubbi S. Hilmi
Sampan telah sandar di pundak pantai. Kewek kembali ke darat lagi-lagi dengan tangan kosong. Hanya lapar dan letih yang mengisap tubuhnya. Semenjak pembangunan dermaga yang mangkrak itu, kini menjadi Kewek dan kewek-kewek…
Cerpen : Dokter Mimpi oleh Bagus Sulistio
Hari ini klinikku tidak begitu ramai. Dari pagi hingga hampir petang, hanya dua orang saja yang datang. Keduanya mengalami masalah seperti orang pada umumnya yang datang ke psikiater. Tidak ada hal aneh…
Cerpen : Ayah oleh Tetin Sobariah
Penghuni di apartemen ini kebanyakan tak mengenal satu sama lainnya. Hampir setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri. Sibuk dengan dunianya sendiri, lebih tepatnya. Termasuk saya. Saya sendiri bisa dikatakan demikian. Bahkan, selama…
Cerpen : Mawarni, Shibuya dan Kucing Lainnya oleh Eko Darmoko
Aku tahu kamu belum bisa lancar membaca, masih butuh mengeja, tapi aku tetap ingin menuliskan surat ini untukmu. Alasannya sangat sederhana, karena kisah ini berkaitan dengan bangsamu. Tentu kamu masih ingat dengan…
Cerpen : Gadis Pendoa oleh Tata Febriana Khaerunnisa
Mila berdiri di sudut meja makan ketika yang lain duduk dan menikmati sajian makan siang; semur bebek dengan kuah kental, dimakan bersama roti yang tampak selebar piring saat disajikan. Ketukan jari telunjuk…
Cerpen : Firasat Kematian oleh Kristian Fourina
Rombongan pelayat menjalar sepanjang jalan. Terdengar bisik-bisik dari para pelayat menaruh rasa iba pada nasib Pak Han kelak. Namun, rasa iba hanyalah sebatas kata-kata, tak ada satu pun dari mereka yang ingin…
Cerpen : Polong oleh T Agus Khaidir
Pengantin laki-laki Maimunah mati. Saat berjalan dalam iring-iringan menuju rumah keluarga perempuan, lelaki berperawakan tinggi tegap itu mendadak tersungkur dan menggelepar-gelepar. Darah menyembur dari mulutnya, lalu keluar dari hidung, telinga, bahkan dari…
Cerpen : Bagaimana Penulis Itu Mati oleh Nuzul Ilmiawan
Mungkin berdekade-dekade silam, atau berabad-abad yang lampau, sastra pernah menyelamatkan nyawa banyak orang melalui kata-kata yang membangun solidaritas secara tak langsung pada kaum-kaum proletar melalui pikiran patriotis, sehingga tercipta suatu masyarakat yang…
Cerpen : Datangnya Malapetaka oleh Mochamad Bayu Ari Sasmita
Bualan ini dimulai dengan terdamparnya seorang lelaki tua di pantai. Semua orang, pada mulanya, menganggapnya sebagai orang suci karena berhasil bertahan di dalam perut seekor paus. Namun, sebuah penyakit aneh yang segera…