”Pokoknya sebelum Idul Adha Juli nanti Ayah pasti ngajak Neknang jalan-jalan!” Pandanganku tak beralih dari laporan residensi menulisku di Pakistan di layar laptop. ”Potong telinga Ayah kalau enggak jadi lagii!” suaraku meninggi…
Kategori: KOMPAS ONLINE
Cerpen : Memanggil Bapak oleh Thoni Mukarrom
Aku selalu iri jika melihat bapak mereka menghadiri rapat kenaikan kelas. Sudah 8 tahun lebih aku tak pernah ditemani makhluk bernama bapak. Dan memang selama hidupku belum pernah sekali pun ada lelaki…
Cerpen : Dua Mata Air Bukit Menghilang oleh Ranang Aji SP
Junaidi memapakku di jembatan kecil yang menghubungkan sungai tanpa air. Sungai yang sepanjang alirannya hanya berserakan batu-batu, sampah plastik, dan rumput kecil hingga batas kaki bukit. Dari jauh aku telah melihatnya berdiri…
Cerpen : Kasus Pertama J Van: Hilangnya Nyonya Djamira oleh Guntur Alam
J Van den Brand meremukan kepala cerutunya ke dalam asbak berwarna coklat tua yang terbuat dari potongan batang bambu itu, sisa asap masih mengepul di ruangan kerjanya, bergulung-gulung, membuat perempuan berkulit coklat…
Cerpen : Kematian Seorang Pelukis oleh Budi Darma
Di Jl Diponegoro ada sebuah rumah besar, milik dokter Munandar, ahli jantung terkenal. Setiap kali dia praktik, pasiennya tidak pernah kurang dari tiga puluh. Istrinya, dokter Meti, hanyalah dokter umum, tapi perhatiannya…
Cerpen : Seteguk Air untuk Tiket Ke Surga oleh Puspa Seruni
Tubuh Karmin tergeletak di atas aspal, melintang menghalangi jalan. Tumpukan senyawa karbon padat berwarna hitam itu sedikit basah. Bekas hujan masih menggenang. Jalan desa malam itu cukup lengang, hanya terdengar angin laut…
Cerpen : Pohon Kapuk Tepi Jalan oleh Teuku Hendra Keumala
Tidak ada yang tahu, sejak kapan dan siapa yang menanam pohon kapas itu. Begitu juga sampai sekarang, tidak ada pula yang mengaku pemilik dari pohon besar itu. Pohon yang menjulang tinggi ke…
Cerpen : Pertemuan Ketut Rapti dengan Wari oleh Ni Komang Ariani
Aku tidak bisa membayangkan, keanehan macam apa yang bakal terjadi di kampung kami. Dua tokoh masyhur akan pulang kampung secara bersamaan. Ketut Rapti dan Wayan Wari ingin bertemu dengan bantuanku. Alasannya, hanya…
Cerpen : Bekasi, Pada Suatu Hari yang Berdarah oleh Risen Dhawuh Abdullah
Setiap ingatan itu datang, aku selalu kembali berada di bawah bayang-bayang penyesalan. Ingatan itu seperti menuntut sebuah pertanggungjawaban terhadapku. Air mata ini tidak jarang tumpah. Setiap aku mengusapnya, aku selalu dipaksa membayangkan…
Cerpen : Ruangan Tanpa Ujung oleh Rumadi
Apa yang kamu lihat masih sama. Kamu di sana hanya ditemani sebuah balai yang terbuat dari bambu. Tempatmu merebah di saat kamu lelah. Tak ada apa pun. Tak ada siapa pun. Suara…