Hari belum terlalu matang, tetapi langit begitu kelam. Kumulonimbus menyelimuti matahari yang hendak berpulang. Musim kemarau yang basah. Titik-titik air mulai berjatuhan membuat bulatan-bulatan di empang, tatkala seorang pria berjalan gontai keluar…
Kategori: KOMPAS ONLINE
Cerpen : Ia Tahu Cara Memusnahkannya oleh Sandi Firly
Damang berdiri gentar di depan lumbung padi miliknya. Di tangan kanannya tergenggam sebuah obor yang baru dinyalakan. Kata-kata anak muda yang bertemu dengannya senja tadi terus terngiang. Dari atas bukit yang mengelilingi…
Cerpen : Mengapa Menangis oleh Ilham Wahyudi
Setelah mematikan kompor, ibu menghampiriku dengan amarah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Disundutnya kuat-kuat pahaku dengan rokok yang baranya nyaris menyentuh filter. Entah sudah berapa kali ibu memahat kawah luka di pahaku….
Cerpen : Tuan Jenderal oleh Rumadi
Akhirnya Tuan Presiden melangkah keluar dari istana. Demi keamanannya, orang-orang terdekatnya menyarankan agar ia jangan pergi keluar. Bahkan ajudannya, telah menyarankan Tuan Presiden pergi lewat jalur bawah tanah yang bisa saja dipergunakan…
Cerpen : Ikan untuk Bapak oleh WS Djambak
Hari ini kepala bapak pusing sekali. Betapa tidak, sepulang sekolah, anaknya yang bungsu menangis meraung-raung. Katanya, sebelum melunasi tunggakan SPP ia tidak diperkenankan untuk mengikuti ujian semester. Jumlahnya bukan sedikit. Biaya SPP…
Cerpen : Anjing Marlon oleh Kiki Sulistyo
Aku bertemu Marlon saat sedang melihat-lihat burung di pasar yang letaknya bersebelahan dengan kantor pos tua yang kalau malam areal belakangnya dijadikan arena judi. Marlon tidak melihatku, aku melihat Marlon. Dia baru…
Cerpen : Perempuan Tua di Rumah Panggung oleh Bulan Nurguna
Deretan kebaya rumahan tergantung di belakang pintu kamarnya yang tak berkunci. Ada putih gading, merah muda, abu-abu, dan lain-lain -semua berkesan kusam. Sebagian kecil dari pakaian itu masih digunakannya dan sebagian lainnya…
Cerpen : Sihir Keluarga oleh Risda Nur Widia
Pada ulang tahunku ketujuh belas, sebagai salah satu nu’er[1] di rumah, aku bukannya mendapatkan pesta atau hadiah seperti pada umumnya anak remaja, tapi aku malah mendapatkan sesuatu yang tidak masuk akal dari A Ma[2],…
Cerpen : Janji oleh Reinaldus K Mogu
Dia terus menangis dari kamarnya. Tidak juga ia keluar untuk mengambil sedikit kebahagiaan lalu tersenyum. Pun tidak membiarkannya penghibur-penghibur datang ke dalam kamarnya untuk membawakan satu dua lelucon. Yang ia buat hanya…
Cerpen : Ido dan Laut oleh Sofianti.
Ia duduk sendiri di tepi laut. Baginya desir ombak seakan nyanyian tak bernada. Dialah Ido seorang pelaut yang tangguh namun rapuh karena masa lalu. Saat ini usianya menginjak lima belas tahun. Ia…