Aku berada di atas batang pohon kersen yang kuberi nama Tuwut bersama buku gambar bajak laut dan bolpen merah yang kucuri dari meja kerja Papi. Dari atas aku bisa melihat ke ruang…
Kategori: KOMPAS ONLINE
Cerpen : Hikayat Mata Golok oleh Hari Niskala
Di rerimbun semak perdu kau menggelosor seorang diri. Bocah-bocah kecil sama takut saat pertama kali menemukanmu terapung di antara riak-riak air sungai. Seonggok batang pisang membawamu dari seberang dengan cara begitu rupa….
Cerpen : Membaca Musim oleh Nur Hadi
Desember adalah musimnya kekasih saling bertemu. Tanah kerontang bertemu hujan—menumbuhkan benih-benih dan bebijian yang telah sekian musim terbaring dalam penantian. Musim ini ibarat alarm tanpa bunyi bagi penduduk desamu. Kau mulai menyebar…
Cerpen : Masakan Ibu dan Bumbu-bumbu di Halaman Rumah oleh Rizqi Turama
Bagi sebagian besar orang, halaman rumah kami tampak aneh. Ada banyak tanaman tumbuh, tapi tak ada setangkai pun bunga di sana. Mungkin orang akan merasa lebih aneh lagi saat tahu bahwa itu…
Cerpen : Klub Televisi Ajaib oleh Ken Hanggara
Gedung misterius di ujung jalan ini berdiri entah sejak kapan. Desainnya memang tampak antik, tapi tak ada yang tahu tepatnya kapan bangunan itu didirikan atau untuk apa bangunan itu ada. Saking megah…
Cerpen : Tragedi Menjelang Lebaran oleh Chudori Sukra
Bayi yang dikandung Hamidah sudah menginjak bulan kesembilan. Dia berpegang pada tepian sungai, sarungnya basah terikat pada tubuhnya yang sintal dengan kulit kecoklatan. Wajahnya yang bulat dan putih memancarkan kelembutan hatinya, dihiasi…
Cerpen : Ramai oleh Sasti Gotama
Sabtu malam, tujuh empat lima, televisi menyiarkan seorang gadis mati gantung diri. Hatinya lumat setelah patah hati, begitu yang ia tulis dalam buku Vegetarian Han Kang di halaman paling belakang. Sementara penyiar bercasciscus tanpa…
Cerpen : Rumor oleh Adam Yudhistira
Dari jendela, Jenkins menatap lanskap Manhattan perlahan menuju temaram. Lampu-lampu kota berpendar semuram suasana hatinya. Sehari yang lalu ia berdiri di sini, menatap lampu-lampu itu bersama Gray, dengan anggapan dapat menghibur sahabatnya…
Cerpen : Penunggang Kuda Merah Padam oleh Badrul Munir Chair
Hari-hari lalaran, kata kakek, jauh lebih mencekam dari hari-hari peperangan. Musuh tidak dapat dilihat dan dalam hitungan hari ribuan orang tumbang. Senjata tidak lagi diperlukan dan satu-satunya cara agar tidak terpapar lalaran adalah bersembunyi atau…
Cerpen : Rahasia Bubur Pedas oleh T Agus Khaidir
Suapan pertama masih lancar melewati tenggorokan. Suapan kedua mulai terasa seret, dan aku perlu bantuan beberapa teguk air untuk meloloskannya pada suapan ketiga. Padahal, dulu, rasa kecewa lantaran gagal mendapatkannya bahkan pernah…