Kau mendongakkan wajah pada langit kelabu sewarna udara dan jalanan dan paras kota yang kehilangan cemerlang. Pada batas samar antara dengung sirene atau peluru yang berdesingan, imajinasi meruyup ingatan, menggetarkan jemari dan…
Cerpen : Dendam Kesumat oleh Ade Mulyono
MATAHARI yang kelewat panas membakar tubuhku. Mungkin saja punggungku sudah gosong saat aku berbincang di tengah sawah dengan seorang lelaki berusia 40 tahun kurang dua bulan lagi. Kang Datam, begitu aku memanggil…
Cerpen : Upacara Ona oleh Kiki Sulistyo
Setiap Kamis ia akan mengenakan terusan kuning mentega yang ramping di bagian pinggang dan lebar di bagian bawah, juga sepatu flats merah dengan tali putih di tepi depan. Itu busana paling cerah yang dimilikinya….
Cerpen : Kemarau oleh Guntur Alam
Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari, udara dingin menusuk tulang sumsum. Jari jemari Menot yang kurus terlihat gemetar saat mengancingkan baju Latas, putranya yang berusia sembilan tahun. Bocah laki-laki itu masih…
Cerpen : Lebaran Ketupat oleh Akhmad Sekhu
Seikat ketupat selalu disisakan Mbah Juki saat Lebaran tiba. Sengaja memang ia menyisakannya untuk Topik, cucu tercinta yang kini sudah lima hari Lebaran belum pulang-pulang. Kekecewaan begitu sangat mendalam pada diri lelaki…
Cerpen : Api Kota Smyrna[1] oleh Risda Nur Widia
Syahdan di hadapan Hatem, kota Smyrna seperti sosok sekarat yang menanti Dewa Thanatos[2] menjemputnya. Sepanjang mata bergelimpang puing gosong bangunan, matang bangkai unta dan kuda, serta cabik-cabik pedang serdadu yeniceri[3] yang tertinggal di tubuh ratusan manusia….
Cerpen : Ratu Kecantikan oleh Danthy Margareth
Aku melihatnya di diskotek dekat Alun-Alun Kota Bandung. Ia melenggak-lenggok di atas catwalk, di antara asap rokok dan goyangan dangdut koplo. Tangannya memainkan selendang bulu dengan gemulai. Sesekali ia menyibakkan rambut pirang…
Cerpen : Dia yang Kembali oleh Daisy Rahmi
”Apa Mama meninggalkan pesan?” Diana menggeleng. ”Tidak. Mama sudah tak sadar waktu dibawa ke rumah sakit.” Tiana terdiam. Tatapan matanya menerawang. Tangannya meremas sapu tangan yang sejak tadi digenggam. Kedua gadis kembar…
Cerpen : Aku dan Seekor Anjing Menjatuhkan Orde Baru oleh Dadang Ari Murtono
Untuk ulang tahunku yang ke-30, kawan-kawan membeli sepuluh botol arak beras merk Guci yang keras luar biasa. “Untuk dirimu sendiri,” kata mereka, “Kau boleh mengambil dua botol. Sisanya kami minum bersama.” Mereka…
Cerpen : Membeli Maaf
“AYAH kena, Kak.” Aku menarik napas. Wabah ini telah bertahun-tahun kita akrabi. Setiap kita mulai menata hidup kembali, selalu saja ada varian baru muncul. “Benar kan? Wabah ini sudah jadi lahan bisnis…