DERIT rem disusul empat bantingan pintu oto. Pasti Babah Sun dan teman-teman. Terlambat. Syaraf tubuh bagian bawahku mulai enggan mematuhi perintah otak. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh. Aku akan mati. Mereka akan…
Cerpen : Untuk Sebuah Roman Picisan oleh Mona Sylviana
UNTUK menjadi seorang tokoh di sebuah roman picisan, perempuan itu harus mengenakan kardigan dan membawa jaket. Maka, perempuan itu mengambil kardigan dari rak lemari paling bawah. Ketika rajutan kuning kenari itu ditarik dari…
Cerpen : Jabiru oleh Wihambuko Tiaswening Maharsi
SUATU sore, belasan tahun yang lalu, setelah hujan, ketika awan menyibak pelan dan langit nampak sedikit cerah, beberapa bagian jalan setapak masih digenangi air. Aku melihat seorang perempuan muda duduk tidak jauh dariku….
Cerpen : Kucing Buku oleh Yudhi Herwibowo
1 TIBA-TIBA ada kucing di rak bukuku. Aneh sekali. Ia seperti tiba-tiba saja ada di sana, duduk di salah satu kolom di baris keenam, di mana kumpulan cerpen penulis-penulis lokal berada. Dengan santainya,…
Cerpen : Perkenalan oleh Bernard Batubara
“KAMU harus tahu, Harumi sayang. Pada zaman ketika kekerasan begitu mudah dilakukan, hal terburuk yang bisa dimiliki seseorang adalah identitas.” Bong berkata demikian, satu hari sebelum ia mati dengan kepala terpisah sejauh lima…
Cerpen : Samin Kembar oleh Triyanto Triwikromo
BAIKLAH kumulai dengan fakta tak terbantah: pada 27 Februari 1907 Samin Soerosentiko ditangkap. Sebelum dia dibuang ke Sawahlunto, Padang, aku, Asisten Residen Blora, kepanjangan tangan Pemerintah Hindia Belanda, telah mencatat hasil interogasi perih…
Cerpen : Pertengkaran Ivan Satu dan Ivan Dua oleh Karta Kusumah
MAKA beginilah akhirnya: Ivan Satu menghajar perut Ivan Dua dengan tangan kanan. Ivan dua menggigit betis Ivan satu. Ivan satu menjerit, sejurus kemudian menyepakkan kakinya ke kepala Ivan Dua. Ivan dua terlempar. Setelah…
Cerpen : Hari Terakhir Ah Xiang oleh Leopold A. Surya Indrawan
SEUSAI menderetkan delapan piring tart susu di atas meja panjang ruang tamu, Ah Xiang kembali ke kamarnya, berbaring. Kendati merasa bugar—ia baru mandi setelah berbulan-bulan tak membasuh tubuhnya—ia yakin bahwa hari itu ajalnya…
Cerpen : Dua Tamu di Hari Pernikahan Kaf oleh Aulia Hanan
1. Kaf dan Nun ADA tiga senja, katanya. Senja pertama adalah senja yang membuat manusia berpikir untuk menyudahi kegiatan siang hari mereka. Senja sipil. “Kau yakin?” aku bertanya. “Senja tidak membuat orang-orang berhenti…
Cerpen : Ayah oleh Dinar Rahayu
BAHKAN sang iblis pun tak dapat melepaskan anaknya dari cengkeraman nasib. “Tapi ia bisa membawakanmu sebotol anggur, bukan?” begitu kata Ayahku di telepon. “Jadi bagaimana? Sore ini kau ada di rumah ya?”…