Langit merah jambu menyelubung Hanoi. Malam merangkak begitu lamban di antara deru terbang burung layang-layang. Hening mengepung diriku yang terkurung di sebuah kamar hotel berbintang. Hampir sepekan aku berada di negeri yang…
Cerpen : “Requiem” oleh Putu Fajar Arcana
Sebelum mati, aku masih ingat tubuhku melenting: kakiku berkelejotan mencari tumpuan, sedangkan kepalaku menjadi tumpuan di ujung lainnya. Lalu seluruh tubuhku meregang, seolah menolak kehendak malaikat maut yang membetot nyawaku. Waktu itu,…
Cerpen : Radio Transistor oleh Akbar Faizal
Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai, tak ada penduduk yang…
Cerpen : Pao An Tui *1 oleh Dwicipta
Keng Hong terkulai lemah di depan jasad anaknya. Tubuh dan pikirannya sangat letih setelah melakukan perjalanan jauh selama dua hari dua malam. Dari balik kain penutup jasad, dilihatnya darah masih merembes membasahi…
Cerpen : Lukisan Bergetar oleh S Prasetyo Utomo
Jangan bertanya padaku si anak durhaka mengenai Ibu, perempun yang disapa dengan sepenuh keagungan jiwa, pemujaan, permohonan doa dan restu. Aku tak mau mengenal Ibu. Aku telah dititipkan Ibu pada saudara sepupunya,…
Cerpen : Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas oleh Gus tf Sakai
Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar, dalam nanar, matahari membelah, menjelma kerumun bulatan pijar. Dan gedung-gedung, dinding-dinding kaca, menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. Begitulah terik, siang…
Cerpen : Sayap Kabut Sultan Ngamid oleh Triyanto Triwikromo
Ya, kau juga tahu, hari itu, Minggu 28 Maret 1830, Ramadhan telah berlalu. Karena itu, dalam lukisanku, aku yakin kabut lembut dan matahari susut saja yang mengepung Rumah Karesidenan itu. Tak ada…
Cerpen : Langit Malam oleh Iyut Fitra
Detak yang lamban. Seperti kemarin juga. Serupa sebelum-sebelumnya jua. Pukul dua belas tengah malam. Angin menusuk gigil. Mencucuk sumsum dan tulang. Aku memasang jaket dan beranjak meninggalkan rumah. Menuju jantung kota kecilku,…
Cerpen : Indrakila oleh Bre Redana
Pensiun dari pekerjaannya di perusahaan surat kabar, lelaki itu pindah ke desa di ketinggian ke rumah yang dirancangnya sejak lama di antara gunung-gunung dan lembah. Didasari pertimbangan yang dibuat tak kalah lamanya,…
Cerpen : Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini oleh Agus Noor
Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Ia tak ingin kecewa lagi. Ramadhan berlalu, tapi ia masih saja hidup. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran….