Pada ulang tahunku ketujuh belas, sebagai salah satu nu’er[1] di rumah, aku bukannya mendapatkan pesta atau hadiah seperti pada umumnya anak remaja, tapi aku malah mendapatkan sesuatu yang tidak masuk akal dari A Ma[2],…
Cerpen : Tidakkah Kau Ingin Pulang Tahun Ini, Nak? oleh Nurillah Achmad
I Termenung aku memandang bongkahan besi tua itu. Sebagian besi hilang dicuri orang, sedang yang lain tertimbun tanah, lantas ditumbuhi ilalang setinggi orang dewasa. Dulunya, batang-batang besi ini saling menyambung di atas…
Cerpen : Janji oleh Reinaldus K Mogu
Dia terus menangis dari kamarnya. Tidak juga ia keluar untuk mengambil sedikit kebahagiaan lalu tersenyum. Pun tidak membiarkannya penghibur-penghibur datang ke dalam kamarnya untuk membawakan satu dua lelucon. Yang ia buat hanya…
Cerpen : Ido dan Laut oleh Sofianti.
Ia duduk sendiri di tepi laut. Baginya desir ombak seakan nyanyian tak bernada. Dialah Ido seorang pelaut yang tangguh namun rapuh karena masa lalu. Saat ini usianya menginjak lima belas tahun. Ia…
Cerpen : Yang Sepia, Pernah Sepia
“AKU sudah bilang berkali-kali, Mak!” teriakku pada Mak yang memegang jarum serta gulungan benang di tangan kanan dan sebuah celana dalam kusam-dan-bolong-dengan karet pinggang yang melar di tangan kirinya. “Beli, Mak! Beli!…
Cerpen : Lebaran Haji Neknang oleh Benny Arnas
”Pokoknya sebelum Idul Adha Juli nanti Ayah pasti ngajak Neknang jalan-jalan!” Pandanganku tak beralih dari laporan residensi menulisku di Pakistan di layar laptop. ”Potong telinga Ayah kalau enggak jadi lagii!” suaraku meninggi…
Cerpen : Cahaya Akan Mengambang di Hunza oleh Benny Arnas
BELAKANGAN, beredar kabar kalau pada dua pekan sebelum Idul Adha cahaya mahaindah jatuh di atas istananya. Beberapa imam masjid yang tinggal di sekitar istana mengatakan cahaya itu pecah menjadi kembang api tepat…
Cerpen : Memanggil Bapak oleh Thoni Mukarrom
Aku selalu iri jika melihat bapak mereka menghadiri rapat kenaikan kelas. Sudah 8 tahun lebih aku tak pernah ditemani makhluk bernama bapak. Dan memang selama hidupku belum pernah sekali pun ada lelaki…
Cerpen : Hari-hari Ini oleh FX Rudy Gunawan
Hari-hari ini kita digiring memasuki sebuah terowongan, berjejalan di dalamnya dan terus berjejalan sampai tak ada lagi ruang untuk bergerak. Di luar terowongan, para pemburu mengepung. Hari-hari ini kita terus menghitung angka-angka,…
Cerpen : Pesta untuk Mu oleh Wina Bojonegoro
IA mengganti pakaian dengan daster katun motif bunga-bunga berwarna kuning kepodang. Perlahan-lahan ia lepaskan cunduk mentul, sunggar, dan kembang melati dalam ronce sepanjang 40 cm menjuntai dari pangkal sanggul menuju dadanya yang…